kalaupun ini tak juga memahamkanmu bahwa alam itu bernyawa.
Aku berharap, layaknya waktu yang telah menggiringku ziarah alam pada malam itu,
kamu pun sama, mudah-mudahan akan memperoleh hal itu.
Sejarah Kota adalah Sejarah Penggemukan Perut
Kota adalah kemajuan dan kemunduran itu sendiri. Di balik cerita sukses pemutaakhiran tekonologi, ia juga menyimpan cerita iba tentang menikmati udara bersih adalah keinginan yang berlebihan. Ego pengendara roda bermesin memekik keras. Memecah kebisingan dari pagi hingga petang. Lalu lalang kendaraan membuat pemandangan sekujur tubuh jalan gemuk tak berbentuk. Semua bergeliat atas segala macam kepentingan. Waktu adalah uang. Begitulah falsafah msyarakat kota/modern. Sekali tertidur lelap, banyak kesempatan dibiarkan pergi begitu saja.
Pendek kata, sejarah kota adalah sejarah penggemukan perut. Walaupun jama’ diketahui, bahwa sejarah kota juga sejarah pengosongan perut bagi sebagian kelompok subordinat, tetapi tetap saja membuat ia tak bergeming sedikitpun. Bagi mereka kota adalah tempat mereka yang berkuasa, selebih itu silahkan nikmati sekarung akibatnya. Yakni, penindasan dan pemiskinan secara paksa (baik lansung maupun tidak lansung). Sehingga kemiskinan pun menjadi ibu dari segala bentuk kejahatan. Karena kondisi jiwa terganggu total. Sungguh rentan. Tapi itu adalah kenyataan yang tak bisa ditampik. Bahkan dengan kacamata hati yang paling dalam, wajah keberpuraan kita pun telah ditampar keras oleh sejarah kota itu sendiri.
Entahlah, yang jelas, hemat saya denyut nadi kehidupan kota menunjukkan irama serampangan. Terasa pecah gendang telinga kalau hal ini terus saja terjadi di kota. Bagi saya, kini kota sudah kusam, gelap dan menjenuhkan. Sudah barang tentu ini adalah jawaban yang bisa diperdebatkan kevalidannya.


http://joemardipoetra.co.cc


copy script di bawah ini dan paste-kan di widget text/html blog Anda:

