SURAT UNTUK TUHANKU
Terhenyak, ketika sadar kehidupan telah ku jalani cukup lama, banyak kata banyak cerita yang tertoreh dalam memori lamaku, namun bahasa tubuhku tak dapat menyebutnya satu persatu karena begitu banyaknya kenangan yang terpatri dalam diriku, tapi ada satu peristiwa yang aku ingat sekian lama dan selalu menghantui hari-hariku, satu peristiwa ketika nafsu manusia merenggut mahkota berharga dalam diriku. Mungkin kata itu sangat tragis nampaknya, namun apalah daya, itulah yang kurasa saat ini, hidup ditengah celaan, makian dan hidup ditengah ketidakpastian membuatku menderita bak tubuh tergores banyak luka, rasanya ingin pergi jauh kesana dan meninggalkan dunia yang pana ini. Keperawanan yang hanya aku peruntukkan bagi suamiku kelak telah terampas dan bahkan hilang harapan ketika ingin bermadu kasih di India menjadi impian.
Bulan-bulanan dan bahkan sampai waktu yang tak terhitung jumlahnya, aku menjadi tempat tumpahan kemarahan. Kematian, mewabahnya penyakit, musibah dimana-dimana, akulah yang jadi patokan, telah membawa sial. Begitu terpinggirkan aku dalam hidup ini waktu itu, hendak kemana lagi aku mengadu. Kepada ayah, ibu, saudara, padahal mereka sudah lama pergi, pergi tuk selamanya, karena dibunuh oleh manusia yang berhati binatang, sungguh pilu kisah hidupku.
Aku pergi kekota mengadu nasib, mengadu pada bungunan yang mencakar langit, karena mungkin ia bisa menafkahiku. Di tengah teriknya matahari di siang hari tak membuatku putus asa mencari kerja, sedikitpun tak kurasa ketika tanggung jawabku sebagai gadis desa dituntut untuk menafkahi adik semata wayangku. Keinginan pergi jauh membuatku menitipkan adikku sama tetangga desa, tetapi siapa yang mau menerima permohonan gadis celaka sepertiku, akhirnya aku memberanikan diri untuk berkelana bersama bayi suci dari dosa dan berharap dapat kemudahan di tengah jalan. Sedih rasanya, mungkin itu sudah goresan pena Sang pencipta. Ternyata dua bulan sudah aku berjalan mengeliling kota, tak kudapati jawaban itu, dan aku pun belum mendapat pekerjaan tetap.
Aku sudah tak tahan, melihat tubuh adikku penuh dengan goresan tulang yang kentara, karena dua hari belum makan, tak satu orangpun yang mau memberi kami makan, malahan kami dicaci dan dimaki. Setelah berjalan melihat yayasan yatim piatu terbesit di benakku untuk menitipkan adikku disana, mungkin di sana dia tumbuh besar sehingga menjadi pendekar bagi orang banyak. Akhirnya aku berniat menitipkan dia secara diam-diam di depan pintu yayasan As-Shaft waktu itu, Dengan berat hati dia pun kutinggal.
***
Aku pun berpikir, “Apa yang bisa aku perbuat di tengah gesitnya persaingan kota, apakah cukup bermodal semangat atau bahkan bermodal muka tebal, ternyata tidak. Orang kota tak membutuhkan orang sepertiku,” jawab hatiku. Begitu sedih perjalanan hidupku, sehingga tak terasa dua bola mataku selalu meneteskan air mata dan berlinang membasahi belataran pipi yang mulai beranjak keriput.
Kota tak memberi kesempatan padaku untuk menunjukkan bahwa aku juga manusia yang dibekali oleh Tuhan sekian keistimewaan dibandingkan orang lain. Padahal seingatku, masa kecilku selalu dihiasi oleh tepuk tangan orang banyak, karena aku menjadi anak yang terpandai didesaku waktu itu, dan itu membuatku yakin akan masa depanku, tapi sejarah berkehendak lain, masa depanku begitu gelap bahkan sangking gelapnya paranormal pun tak mampu mengetahui keberadaan masa depanku. Pemerkosaan benar-benar membuatku benci melihat dunia ini.
Hampir setahun sudah mengarung nasib di kota tak sedikitpun pekerjaan yang menghamipiriku waktu itu. Tidur hanya beralasan Koran serta makan bekas orang lain menjadi suatu keniscayaan di tengah keramaian kota. Dibalik kekecewaanku, aku tak banyak berpikir, kecuali satu bahwa aku harus kembali ke desa, mungkin disana banyak pekerjaan yang bisa menghidupkanku, tapi aku tak punya ongkos padahal rumahku begitu jauh dari kota, pusing tujuh keliling mengerogoti tubuh yang sudah terlihat begitu renta di makan usia.
Dibalik kebigunganku, terlintas untuk berkerja menjadi pekerja seks komersial (PSK), pekerjaan yang justru pada awalnya telah menghancurkan harapan hidupku, diriku berkecamuk antara penderitaan dan harapan, di satu sisi aku menjadi seperti tua renta oleh karena diperkosa, namun disi lain ketika harapan kembali menyapa bahwa aku harus pulang ke desa dan menjalani hidup seperti manusia biasa, aku tak punya ongkos untuk pulang
Tapi aku harus bekerja menjadi PSK, kilah hatiku waktu itu. “Ya Tuhanku, begitukah Engkau tulis jalan hidupku, begitu sulit untuk kuterima, tapi apalah daya aku juga tak ingin menjadi manusia yang durhaka pada ya..Ilahi Rabbi”, gumamku.
Aku takut mengiayakan secara lansung ajakan salah seorang germo asal Surabaya itu, aku membutuhkan keberanian untuk melawan rasa takut ini, karena di belakangku ada keluarga, sanak saudara bahkan agama sekalipun. “Walaupun mereka telah tiada, tapi tanggung jawabku sebagai manusia membuat semua terasa begitu sulit”, gerutuku.
Aku harus kuat dan mengambil tindakan secepatnya. Begitulah hidupku waktu itu, tak banyak pilihan yang ada didepanku, sam halnya ‘orang kebanyakan’ yang dalam hidup ini tak banyak pilihan. Akhirnya aku pun berpikir mungkin inilah garis sejarah hidupku untuk menjadi PSK, kecuali aku orang kaya yang banyak pilhan dalam hidup ini, tapi itu hanyalah khayalan belaka, yang justru bisa membuatku lupa pada Sang Maha Pencipta.
Begitu banyak yang ingin aku ceritakan lewat surat ini pada Tuhanku, namun apalah artinya diriku yang tak bisa berbuat apa-apa, aku minta pada seorang pengacara untuk membantu proses hukum terhadap pelaku, tapi aku terkena kendala tak punya dana, ingin rasanya mengadu pada pak Polisi tapi apalah gunanya, sedangkan aku hanya orang biasa yang jutsru akan lebih sensara menunggu jawaban yang tak kunjung datang karena kemalasan mereka mengurusi orang-orang sepertiku, kemana lagi tempat kumengadu, aku juga sudah pergi pada Kyai, tetapi apa yang aku dapati kecuali satu kata yaitu kata “sabar”, padahal apa itu sabar mungkin aku yang bisa merasakannya selama ini, hidup bertahun-tahun ditengah ketidakpastian, apakah ini yang namanya manusia yang mampu memanusiakan manusia lainnya.
Aku terpinggirkan oleh perbuatan yang bukan aku yang melakukannya, aku tercerabut dari kota kelahiranku ketika aib ini merajalela di setiap telinga para wanita lainnya, tak terkecuali para lelaki buaya yang justru ikut membesarkan ombak kebencian padaku, dimana tempatku di dunia ini wahai Tuhannku, berikan aku tempat dimana semua orang mau menerimaku dalam kondisi apa-pun, dunia ini hanya dipenuhi oleh mereka yang berhati iblis wahai Tuhannku, tak ada yang perduli dan tak ada yang mencoba untuk mengerti orang lain sedikit saja.
***
Pemerkosaan adalah kosa-kata yang menyeramkan di kedarehanku. bagiku pemerkosaan telah membuatku tak berhak melanjuti hidup ini, padahal masih banyak orang yang punya jabatan yang justru melakukan praktek pemerkosaan besar-besaran terhadap rakyatnya, berapa juta Negara telah menjual tubuh-tubuh warganya sendiri di Negara orang lain?. Rakyat seakan-akan dipaksa menjadi orang bodoh selamanya dan akan tetap di bawah dan tidak akan bersuara-apa-apa kecuali ikut atau manut.
Derita, tangisan luka, ceceran darah merah adalah anak dari hasil pemerkosaan mereka terhadap ibu-ibu kami, begitu kejam hidup ini, manusia tidak lagi mengakui keberadaan manusia lainnya.
Wahai Tuhanku masih panjang cerita yang ingin kutuliskan lewat surat ini untuk-Mu, tapi kertas suci ini terlalu kecil untuk kutuliskan sejarah kelam hidupku dalam sebuah skenario dokumenterku.
Tinta hitam dan percikan air mata menemaniku malam itu dalam menulis surat ini, ku berharap air suci ini membuat pencerahan dalam hiduipku.
” Wahai Tuhannku, dimana letak kesalahanku, aku hanya korban pemerkosaan”.
” Wahai Tuhanku, aku percaya bahwa pengadilan yang seadil-adilnya hanya Engkau Tuhanku. Adilillah mereka yang telah memperkosaku dan hukum juga seberat-beratnya mereka yang juga selalu memperkosa secara perlahan-lahan rakyatnya.
” Itulah dariku wahai Tuhan-ku, sepucuk surat. Dengarlah tiupan nafas dari hamba lemahmu ini, dan tiupkan kembali ruh kehidupan baru bagiku agar mampu menunjukkan pada dunia siapa yang sebenarnya telah “membunuh” ibuku, aku dan masyarakat disampingku, bahkan mungkin anak-anak cucuku masa akan datang.
“Terima kasih Tuhanku, Engkau memang tempat dimana ketenangan ada dalam diri setiap insan. “Aku mengadu dan bersimpuh malu atas dosaku”.
“Surga Neraka itu adalah hak preogratifmu wahai Tuhan, namun hanya satu kata yang ingin ku garis bawahi dalam suratku ini, bahwa “aku telah diperkosa”.
Bulan-bulanan dan bahkan sampai waktu yang tak terhitung jumlahnya, aku menjadi tempat tumpahan kemarahan. Kematian, mewabahnya penyakit, musibah dimana-dimana, akulah yang jadi patokan, telah membawa sial. Begitu terpinggirkan aku dalam hidup ini waktu itu, hendak kemana lagi aku mengadu. Kepada ayah, ibu, saudara, padahal mereka sudah lama pergi, pergi tuk selamanya, karena dibunuh oleh manusia yang berhati binatang, sungguh pilu kisah hidupku.
Aku pergi kekota mengadu nasib, mengadu pada bungunan yang mencakar langit, karena mungkin ia bisa menafkahiku. Di tengah teriknya matahari di siang hari tak membuatku putus asa mencari kerja, sedikitpun tak kurasa ketika tanggung jawabku sebagai gadis desa dituntut untuk menafkahi adik semata wayangku. Keinginan pergi jauh membuatku menitipkan adikku sama tetangga desa, tetapi siapa yang mau menerima permohonan gadis celaka sepertiku, akhirnya aku memberanikan diri untuk berkelana bersama bayi suci dari dosa dan berharap dapat kemudahan di tengah jalan. Sedih rasanya, mungkin itu sudah goresan pena Sang pencipta. Ternyata dua bulan sudah aku berjalan mengeliling kota, tak kudapati jawaban itu, dan aku pun belum mendapat pekerjaan tetap.
Aku sudah tak tahan, melihat tubuh adikku penuh dengan goresan tulang yang kentara, karena dua hari belum makan, tak satu orangpun yang mau memberi kami makan, malahan kami dicaci dan dimaki. Setelah berjalan melihat yayasan yatim piatu terbesit di benakku untuk menitipkan adikku disana, mungkin di sana dia tumbuh besar sehingga menjadi pendekar bagi orang banyak. Akhirnya aku berniat menitipkan dia secara diam-diam di depan pintu yayasan As-Shaft waktu itu, Dengan berat hati dia pun kutinggal.
***
Aku pun berpikir, “Apa yang bisa aku perbuat di tengah gesitnya persaingan kota, apakah cukup bermodal semangat atau bahkan bermodal muka tebal, ternyata tidak. Orang kota tak membutuhkan orang sepertiku,” jawab hatiku. Begitu sedih perjalanan hidupku, sehingga tak terasa dua bola mataku selalu meneteskan air mata dan berlinang membasahi belataran pipi yang mulai beranjak keriput.
Kota tak memberi kesempatan padaku untuk menunjukkan bahwa aku juga manusia yang dibekali oleh Tuhan sekian keistimewaan dibandingkan orang lain. Padahal seingatku, masa kecilku selalu dihiasi oleh tepuk tangan orang banyak, karena aku menjadi anak yang terpandai didesaku waktu itu, dan itu membuatku yakin akan masa depanku, tapi sejarah berkehendak lain, masa depanku begitu gelap bahkan sangking gelapnya paranormal pun tak mampu mengetahui keberadaan masa depanku. Pemerkosaan benar-benar membuatku benci melihat dunia ini.
Hampir setahun sudah mengarung nasib di kota tak sedikitpun pekerjaan yang menghamipiriku waktu itu. Tidur hanya beralasan Koran serta makan bekas orang lain menjadi suatu keniscayaan di tengah keramaian kota. Dibalik kekecewaanku, aku tak banyak berpikir, kecuali satu bahwa aku harus kembali ke desa, mungkin disana banyak pekerjaan yang bisa menghidupkanku, tapi aku tak punya ongkos padahal rumahku begitu jauh dari kota, pusing tujuh keliling mengerogoti tubuh yang sudah terlihat begitu renta di makan usia.
Dibalik kebigunganku, terlintas untuk berkerja menjadi pekerja seks komersial (PSK), pekerjaan yang justru pada awalnya telah menghancurkan harapan hidupku, diriku berkecamuk antara penderitaan dan harapan, di satu sisi aku menjadi seperti tua renta oleh karena diperkosa, namun disi lain ketika harapan kembali menyapa bahwa aku harus pulang ke desa dan menjalani hidup seperti manusia biasa, aku tak punya ongkos untuk pulang
Tapi aku harus bekerja menjadi PSK, kilah hatiku waktu itu. “Ya Tuhanku, begitukah Engkau tulis jalan hidupku, begitu sulit untuk kuterima, tapi apalah daya aku juga tak ingin menjadi manusia yang durhaka pada ya..Ilahi Rabbi”, gumamku.
Aku takut mengiayakan secara lansung ajakan salah seorang germo asal Surabaya itu, aku membutuhkan keberanian untuk melawan rasa takut ini, karena di belakangku ada keluarga, sanak saudara bahkan agama sekalipun. “Walaupun mereka telah tiada, tapi tanggung jawabku sebagai manusia membuat semua terasa begitu sulit”, gerutuku.
Aku harus kuat dan mengambil tindakan secepatnya. Begitulah hidupku waktu itu, tak banyak pilihan yang ada didepanku, sam halnya ‘orang kebanyakan’ yang dalam hidup ini tak banyak pilihan. Akhirnya aku pun berpikir mungkin inilah garis sejarah hidupku untuk menjadi PSK, kecuali aku orang kaya yang banyak pilhan dalam hidup ini, tapi itu hanyalah khayalan belaka, yang justru bisa membuatku lupa pada Sang Maha Pencipta.
Begitu banyak yang ingin aku ceritakan lewat surat ini pada Tuhanku, namun apalah artinya diriku yang tak bisa berbuat apa-apa, aku minta pada seorang pengacara untuk membantu proses hukum terhadap pelaku, tapi aku terkena kendala tak punya dana, ingin rasanya mengadu pada pak Polisi tapi apalah gunanya, sedangkan aku hanya orang biasa yang jutsru akan lebih sensara menunggu jawaban yang tak kunjung datang karena kemalasan mereka mengurusi orang-orang sepertiku, kemana lagi tempat kumengadu, aku juga sudah pergi pada Kyai, tetapi apa yang aku dapati kecuali satu kata yaitu kata “sabar”, padahal apa itu sabar mungkin aku yang bisa merasakannya selama ini, hidup bertahun-tahun ditengah ketidakpastian, apakah ini yang namanya manusia yang mampu memanusiakan manusia lainnya.
Aku terpinggirkan oleh perbuatan yang bukan aku yang melakukannya, aku tercerabut dari kota kelahiranku ketika aib ini merajalela di setiap telinga para wanita lainnya, tak terkecuali para lelaki buaya yang justru ikut membesarkan ombak kebencian padaku, dimana tempatku di dunia ini wahai Tuhannku, berikan aku tempat dimana semua orang mau menerimaku dalam kondisi apa-pun, dunia ini hanya dipenuhi oleh mereka yang berhati iblis wahai Tuhannku, tak ada yang perduli dan tak ada yang mencoba untuk mengerti orang lain sedikit saja.
***
Pemerkosaan adalah kosa-kata yang menyeramkan di kedarehanku. bagiku pemerkosaan telah membuatku tak berhak melanjuti hidup ini, padahal masih banyak orang yang punya jabatan yang justru melakukan praktek pemerkosaan besar-besaran terhadap rakyatnya, berapa juta Negara telah menjual tubuh-tubuh warganya sendiri di Negara orang lain?. Rakyat seakan-akan dipaksa menjadi orang bodoh selamanya dan akan tetap di bawah dan tidak akan bersuara-apa-apa kecuali ikut atau manut.
Derita, tangisan luka, ceceran darah merah adalah anak dari hasil pemerkosaan mereka terhadap ibu-ibu kami, begitu kejam hidup ini, manusia tidak lagi mengakui keberadaan manusia lainnya.
Wahai Tuhanku masih panjang cerita yang ingin kutuliskan lewat surat ini untuk-Mu, tapi kertas suci ini terlalu kecil untuk kutuliskan sejarah kelam hidupku dalam sebuah skenario dokumenterku.
Tinta hitam dan percikan air mata menemaniku malam itu dalam menulis surat ini, ku berharap air suci ini membuat pencerahan dalam hiduipku.
” Wahai Tuhannku, dimana letak kesalahanku, aku hanya korban pemerkosaan”.
” Wahai Tuhanku, aku percaya bahwa pengadilan yang seadil-adilnya hanya Engkau Tuhanku. Adilillah mereka yang telah memperkosaku dan hukum juga seberat-beratnya mereka yang juga selalu memperkosa secara perlahan-lahan rakyatnya.
” Itulah dariku wahai Tuhan-ku, sepucuk surat. Dengarlah tiupan nafas dari hamba lemahmu ini, dan tiupkan kembali ruh kehidupan baru bagiku agar mampu menunjukkan pada dunia siapa yang sebenarnya telah “membunuh” ibuku, aku dan masyarakat disampingku, bahkan mungkin anak-anak cucuku masa akan datang.
“Terima kasih Tuhanku, Engkau memang tempat dimana ketenangan ada dalam diri setiap insan. “Aku mengadu dan bersimpuh malu atas dosaku”.
“Surga Neraka itu adalah hak preogratifmu wahai Tuhan, namun hanya satu kata yang ingin ku garis bawahi dalam suratku ini, bahwa “aku telah diperkosa”.
JMP, Dealova Kost-04 -02-07
