SEKEDAR KOMPENSASI
PUN TIDAK AKU DAPATKAN
Banyaknya perubahan di kampus UIN saat ini sebenarnya membuatku berharap lebih, kenyamanan dan keamanan adalah prioritas utama terciptanya suasana proses pembalajaran yang baik. Tak ayal diantara perubahan kampus saat ini adalah konsep tempat parkiran yang terpadu. Dan itu sudah berjalan agak lama.
Namun ternyata, hal yang dinilai dapat membawa dampak positif (untuk penertiban) masih membawa dampak yang negatif, yakni aksi pencurian masih merajalela. Itu terjadi pada diri saya sendiri selaku mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan dan informasi semester II fakultas adab. Tepatnya hari rabu 26 februari 2008, nasib buruk mendatangiku. Sepedaku raib dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab alias maling. Sepeda tersebut hilang di tempat parkiran terpadu belakang fakultas adab. Kejadian itu terjadi sekitar pukul 08.00-13.00 Wib.
“Padahal sepada ontel itu pemberian kedua orang tuaku dan saat ini telah raib,” gerutu yang tak pernah habis.. Sehingga jarak perjalanan yang cukup jauh dari kampus saat ini tentu saja sangat merepotkanku, apalagi sepeda ontelku adalah sarana transportasi satu-satunya selama ini.
Batapa tragisnya, di sebuah UIN terjadi pencurian. Bagaimana mungkin UIN SUKA yang akan memperoleh pengakuan kampus standar internasional, kalau untuk mengurus hal yang sekecil ini saja tidak becus. Bagaimana jaminan yang diberikan pihak kampus terhadap kejadian seperti ini, tak terkecuali aku?. Lalu apa gunanya ada tempat parkiran yang dibuat dengan biaya yang tidak sedikit, penjaga parkir dan satpam yang dibayar tidak murah pula untuk mengamankan kampus? Bagaimana mahasiswa bisa tenang dalam melakukan perkuliahan jika hal ini terus terjadi?.
Yang lebih tragis lagi ketika kejadian tersebut dikonfirmasikan kepada pihak yang bertanggung jawab. Dalam hal ini pihak penjaga parkir dengan berbagai macam dalil tidak bertangungjawab. Sementara satpam yang dikonfirmasikan hanya memberikan sebuah jawaban yang akan menindak lanjuti kejadian ini, tanpa adanya usaha yang lebih nyata.
Lebih parah lagi pihak rektorat, bagian rumah tangga (yang mengurusi masalah parkir) ketika memberi tanggapan hanya memberi sebuah harapan yang utopis “mas sabar aja, kami akan menindak lanjuti segera, apalagi pencurian seperti ini sudah terjadi beberapa kali,” kata bapak Ahmadi dengan nada seakan-akan ikut berbela sungkawa, ketika ditemui olehku.
Namun ketika ditanya masalah kompensasi (ganti rugi) terhadap korban pencurian. “Sesuai prinsip universitas tidak memberikan kompensasi apapun,” imbuhnya. Menurut bapak Ahmadi juga, “bukan hanya mahasiswa saja yang mengalami kehilangan, ada dosen yang mengalami seperti itu”. Malahan untuk pencurian sepatu merupakan kejadian sehari-hari. Ketika jam sholat yang menurut istilah jawa (sego jangan) “sudah tidak asing lagi.” Hanya harapan itulah yang diberikan pihak universitas.
Menilik kejadian diatas terbesit dipikiran olehku, apa yang dilakukan oleh para penjaga parkir dan para security, dan untuk apa mereka dibayar? Apabila hal ini terus dibiarkan, tentu saja lambat laun UIN akan menjadi sarang bagi maling-maling yang dengan leluasa mengambil barang-barang mahasiswa yang sedang menimba ilmu.
Seharusnya, ketika parkir kendaraan harus diberi karcis parkir, kendaraan keluar menunjukan STNK, bahkan ada kotak yang diberikan kunci untuk menyimpan helm. Hal ini tentu saja lebih murah biayanya ketimbang biaya untuk mengganti barang-barang yang hilang tersebut.
Sebelum dan sesudah saya, mungkin pencurian adalah kosakata biasa di dengar dan dibiar tanpa harus disikapi oleh pihak kampus UIN. Tapi yang jelas saya terlanjur kecewa bahkan harapan kompensasi dari pihak kampus pun sia-sia saja, lantaran tidak pernah ada cerita kalau ada kompensasi bagi mereka yang kehilangan apapun di kampus ini.
Nasrul Wahid
07140015
Fakultas Adab
Ilmu Perpustakaan dan Informasi
Jl Raya Krangkungan No. 15 Condong Catur, Depok, Sleman, Yogyakarta