Arsip untuk Mei, 2008

PRAM, KARYA & NASIB RAKYAT

Posted in Olah Buku on Mei 29, 2008 by lothek

Judul Buku        : Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir
(Esei dan Wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer)
Penerbit            : Komunitas Bambu (KB), Jakarta
Edisi                 : Februari 2008
Tebal                : x+176 hlm.: 11,5 x 17, 5 cm

Aku menulis tidak pernah khusus untuk diri sendiri, langsung atau tidak. Ada fa’al sosial didalamnya, makin dikembangkan fa’al sosial itu semakin baik.
(Pramoedya Ananta Toer)

Oleh: Joemardi Poetra*

Dia yang Terasing
Pram, itulah panggilan akrab seorang sastrawan garda depan Indonesia yang lahir pada tanggal 26 Februari 1925 di kota Blora Jawa Tengah. Hampir seumur hidupnya, laki-laki yang mengagumi karya sastra Jhon Steinbeck ini dihabiskan di balik jeruji besi.
Tak hanya dalam masa pemerintahan Soekarno dan rezim Orde Baru, saat pemerintahan Belanda pun dia pernah ditahan dari tahun 1947-1949. Kemudian pada tahun 1965 hingga 1979, dia kembali ditahan di beberapa tempat seperti di penjara Jakarta, Tangerang, Nusakambangan, Magelang, Semarang dan Pulau Buru.
Sekalipun mengalami kehilangan cukup berarti dari masa hidupnya yang penuh gejolak-termasuk sakit dan ancaman kematian, yang selalu membayangi jejak langkahnya di penjara, namun hal itu dianggap tantangan besar yang harus ditempuh demi menjemput perubahan dalam bernegara dan berbangsa. Sehingga tidak salah kiranya, ada anggapan bahwa penjara adalah universitas bagi orang-orang revolusioner.
Baca selebihnya »

Bergelimang dalam Budaya Kumuh

Posted in Beranda Belakang on Mei 28, 2008 by lothek

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, susunan J.S. Badudu-Sutan Mohammad Zain (Jakarta: Pustaka Sinara Harapan, 1994), perkataan ”kumuh” mengandung tiga makna: 1. kotor; 2. kotor dan tidak teratur, tampak mesum; 3. keji. Untuk makna pertama, contoh kalimat yang diberikan adalah: ”mukanya kumuh benar, cucilah dulu”; kedua, ”perkampungan yang kumuh”; ketiga, ”kelakuan keji yang dipertunjukkannya sungguh memuakkan”. Rasanya ketiga makna yang mirip itu telah lama membebani kultur Indonesia modern, apakah itu dalam politik, ekonomi, sosial, dan moral.

Ke mana pun kita bergerak, budaya kumuh itu sangat dirasakan dan terus dipergunjingkan orang dari desa sampai kota. Di kedai-kedai kecil di perkampungan, di atas pesawat, di hotel-hotel mewah, dalam simposium dan seminar, bahkan di dangau-dangau sawah, kekumuhan itu tetap menjadi topik pembicaraan. Memang baru pada tingkat ”pembicaraan”, perbaikannya pasti memerlukan waktu lama, sampai bangsa ini benar-benar menjadi bangsa siuman.

Baca selebihnya »

Pemakaman Itu Bukti Konsistensi Bang Ali

Posted in Obituari on Mei 21, 2008 by joemardipoetra

Mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, Selasa (20/5) pukul 18.30 waktu setempat atau pukul 17.30 WIB, meninggal dunia setelah dirawat selama sebulan di RS Gleneagles, Singapura. Ali Sadikin meninggal dalam usia 82 tahun. Jenazahnya akan dibawa pulang ke Jakarta, Rabu ini pukul 07.00 waktu Singapura.
Ali Sadikin, yang akrab dipanggil dengan Bang Ali, kembali ke Jakarta, kota yang pernah dipimpinnya dan akan melindungi jasadnya selamanya.
Boy Benardi Sadikin, putra Ali Sadikin, kepada wartawan di rumah duka, Jalan Borobudur Nomor 2, Jakarta Pusat, Selasa malam, menuturkan, jenazah akan disemayamkan di rumah duka, Rabu, dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta.
Menurut putra keempat almarhum, Benyamin Sadikin, Bang Ali menderita sakit sejak lama. ”Bapak dirawat selama sebulan di Singapura. Di sana didampingi kakak saya, Iwan, dan sekretaris Bapak,” katanya.
Benny menambahkan, pemakaman di Jakarta adalah sesuai pesan Bang Ali. ”Sesuai pesan Bapak, rencananya jenazah Bapak ditumpangkan di makam ibu saya, Nani Sadikin,” ujarnya.
Sanuji W, mantan pegawai di rumah Bang Ali, menambahkan, Bang Ali adalah orang yang tegas dan konsisten. Pemakamannya pun menjadi bukti konsistensi Bang Ali dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku.
”Pak Ali minta dimakamkan dengan cara ditumpangkan. Ia konsekuen dengan usulannya dahulu, yaitu mengingat lahan Jakarta semakin sempit, makam bisa ditumpangi,” kata Sanuji.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura Wardana menjelaskan, jenazah Bang Ali akan diterbangkan ke Jakarta, Rabu sekitar pukul 07.00 atau penerbangan pertama dari Singapura. Selama ini Bang Ali dirawat di RS Gleneagles karena sakit lever dan komplikasi sakit paru.

Baca selebihnya »

  • Media Cetak

  • kompas
  • jawapos
  • mediaindonesia
  • gatra
  • Caping
  • Republika
  • KR
  • Sohib Blog’s

  • dedisyaputra
  • abdirrahman
  • Al-Mizan
  • Himasakti
  • LPM ARENA
  • Juparno Hatta
  • Rosyidi
  • KPJY
  • Yoenea
  • Komentar

    joemardipoetra di Malu Aku jadi orang Jambi,…
    susilo w di Malu Aku jadi orang Jambi,…
    joemardipoetra di Mari Menulis, Esai Sastra
    rista anggarani di Mari Menulis, Esai Sastra
    eka putra di Mari Menulis, Esai Sastra
    defri di Mari Menulis, Esai Sastra
    nursahid di TIPS-TIPS MEMBUAT KARYA TULIS …
    nursahid di TIPS-TIPS MEMBUAT KARYA TULIS …
    arifudin di Huruf-Huruf yang Hidup
    Agus Setiyawan di ETOS KERJA ADALAH JAMINAN
    ading di Huruf-Huruf yang Hidup
    Sugeng Riyadi Syamsu… di Bersatulah Mahasiswa Jambi…
    hendra di DUSUN EMPELU MILIKI RUMAH BACA…
    tutikurnia di Mari Menulis, Esai Sastra
    Ono Gosip di Prita