Kehendak Untuk Berubah
Oleh: Joemardi Poetra
Bersatu menerjang ego untuk merebut keyakinan tentang perubahan bagi sebuah peradaban yang tertata rapi untuk banyak orang. Sudah terlalu lama aku dan mereka tidur lelap di bawah paksaan jajahan (kapitalisme) secara sistematis, baik langsung maupun tidak (direct or indirect). Sudah saatnya aku dan mereka menjadi tamu untuk rumahnya sendiri. Tidak ada orang lain untuk memimpin secara sepihak, tidak ada orang lain tertawa di atas kesedihan sebagian orang yang tidak berkesudahan. Itulah keyakinan bersama yang bakal kami pegang.
Bersatu meretas individualisme untuk melebur ke dalam goa kolektivisme, berseru untuk bersatu menjemput api revolusi yang selama ini berdiam diri di tengah rumah kosong yang jauh dari keinginan banyak orang tentang idealnya sebuah bangsa bagi masyarakatnya. Tidak untuk mengatakan tunduk di bawah jajahan, dan tidak untuk tertawa terbahak-bahak di tengah angka kemiskinan kian bertambah. Semua harus peduli menjemput perubahan. Desa adalah miniatur sebuah bangsa. Apabila desa dalam keadaan sakit, maka bangsa pun sama halnya. Tidak ada yang patut kita banggakan, ketika masih banyak orang yang tidak bisa tertawa sejenak untuk menikmati titipan hidup oleh Tuhan yang Maha Esa.
Jangan menjadi bangsa yang gemar bertepuk tangan, ketika manusia-manusia di dalamnya tidak bisa melakukan apa-apa. “Jangankan untuk menikmati fasilitas kekayaan yang tumbuh subur di negeri ibu pertiwi ini, sekedar untuk bertahan satu hari saja, memerlukan kesungguhan yang luar biasa,” gumamku membatin
Kita bisa melihat betapa banyak dari anak-anak di bawah umur mengisi hari-harinya di bawah lampu merah, kematian adalah harga mahal yang harus mereka jual.
Inikah kita di negeri yang katanya kaya, namun miskin sesungguhnya.