Oleh: Joemardi Poetra
Perihal budaya membaca di negeri ibu pertiwi ini, memang di satu sisi terdengar kabar yang cukup menggembirakan hati, bahwa tingkat melek huruf masyarakat Indonesia kian meningkat, yakni mencapai angka 84%. Namun, di lain sisi, sudah barang tentu hal itu tidak membuat Kita lupa bahwa meningkatkan minat baca teramat penting bagi sebuah Negara. Terlebih di belahan negara lain, terutama di Eropa, membaca adalah bagian dari pengembangan maupun peningkatan kualitas kehidupan sumber daya manusia. Bahkan dalam preambul piagam Unesco ditegaskan, bahwa buku adalah sarana pokok dan penyimpan utama khazanah ilmu pengetahuan bagi seluruh umat manusia. Melihat keadaan perbukuan di Indonesia, hal yang sama juga disampaikan Goenawan Muhammad, bahwa buku ibaratkan tokek, satu makhluk yang hampir langka. Ini menandakan bahwa membaca adalah aktivitas yang menentukan tinggi rendahnya kualitas warga sebuah Negara di mata negara lain.
Baca selebihnya »
Arsip untuk Desember, 2008
SEPATU dan KEBOHONGAN MASSAL
Posted in Opini on Desember 25, 2008 by joemardipoetra
Oleh: Joemardi Poetra
Belakangan ini media nasional maupun internasional (online-cetak) ‘ribut’, terkait prahara pelemparan dua pasang sepatu oleh koresponden wartawan TV Al Baghdad, Zaidi. Akibat ulah berani wartawan kelahiran Irak tersebut, jeruji besi menjadi rumah tahanan sementara untuknya menjelang putusan hukum dari pengadilan negeri Irak. Bahkan, dari beberapa informasi media yang ada mewartakan kondisi Zaidi justru mendapat penganiayaan.
Tulisan ini bukan bermaksud bagaimana proses hukumnya, tetapi mempertanyakan kenapa sikap itu lahir dan bagaimana korelasi dengan situasi terakhir negeri Irak, atau sebuah negeri kita dikenal dengan sebutan 1001 malam tersebut. Peristiwa invasi Amerika Serikat yang dikomandoi oleh George W. Bush 2003, membuat kondisi internal negeri Irak menjadi semrawut. Peperangan kini memang telah berakhir, dan yang jelas meninggalkan banyak masalah, tidak hanya Amerika yang terlalu jauh mengintervensi kedaulatan Irak sebagai sebuah negara yag memiliki aturan hukum tersendiri, serta ongkos sosial budaya menjadi hal penting yang sampai saat ini belum terbayarkan.
POLITIK HARAPAN
Posted in Opini on Desember 23, 2008 by joemardipoetraTENTANG IDEALNYA SEBUAH BANGSA
Oleh: Joemardi Poetra
Adalah pekerjaan harian, membaca koran di saat pagi menjelang matahari beranjak siang. Tepat waktu itu, 23 Desember 2008, di halaman depan koran Kompas (Analisis Politik), bagian kanan, tampak tulisan Yudi Latif, kolomnis yang namanya telah riwa riwi di berbagai media nasional. Dengan perspektif yang segar serta bobot pengetahuan baru membuatku bagian dari banyak orang yang mungkin ‘menyenangi’ isi tulisannya.
Tidak mati gaya lantaran aktualitas serta kemampuannya meracik beragam teori-teori kritis dalam konteks persoalan keseharian yang selama ini telah diperbincangkan oleh kalangan masyarakat kelas bawah. Istilah sederhananya obrolan sosial dipindahkan ke obrolan politik, agar ada tindakan penyelesaian, pasalnya, masalah di Indonesia saat ini terlalu banyak akibat belum diselesaikan secara tuntas-tas. Dengan kata lain, agar tidak berhenti pada cek-cok yang tidak bermutu.
Surat Terbuka;
Posted in Opini on Desember 23, 2008 by joemardipoetraCERMIN DAN PUDARNYA KRITISISME MAHASISWA
Oleh: Joemardi Poetra
Saya mungkin terhitung sebagai mahasiswa yang bisa dikatakan jarang kuliah, kerjaanya hanya mondar-mandir layaknya burung yang ingin terbang melintasi awan. Artinya, ingin banyak belajar di alam bebas, tenang, tanpa harus dibekukan oleh bermacam teori dan bebas untuk berpendapat, layaknya manusia yang merdeka sebagaimana yang dipersepsikan oleh Mustofa Bisri, merdeka atawa boleh apa saja, asalkan bertanggung jawab.
Sudah barang tentu, banyak hal-hal baru di fakultas membuatku tidak banyak tahu. Adapun perubahan itu berkisar pada konsep kurikulum, metode pengajaran, kompetensi tenaga pengajar, bahkan sampai pada urusan cara berpenampilan mahasiswa/wi pun juga menjadi obsesi penting bagi fakultas untuk mencapai impian institusi tentang generasi yang kompatible dalam segala zaman.
Terlanjur Hidup di Tanah Sengketa
Posted in Opini on Desember 23, 2008 by joemardipoetraOleh: Joemardi Poetra
Lahir setelah itu menangis, itulah gambaran mendasar dikala manusia menjadi bagian tak terpisahkan dalam arus bola dunia yang selalu berputar mengikuti porosnya. Dunia katanya bulat seperti bola. Akan tetapi benarkah realitas “bulat” mencerminkan pergulatan manusia saat ini?.
Dengan kecanggihan teknologi dan informasi atau dengan massifnya perjalanan ekspansi “Standar Global” yang diuniformisasikan lewat segala bentuk produk hegemoni neo-Imperialisme telah menjadikan dunia begitu datar bahkan tak sedikitpun kerikil tajam yang dapat memberhentikan gerak-gerik setiap individu untuk saling mencabik bahkan tak tanggung-tanggung membunuh dengan cara sesadis mungkin hanya untuk mempertahankan eksistensinya.
Tuhan, manusia, alam, merupakan kesatuan integral yang tidak terpisahkan, dan selalu bermetamorfosis sebagai kesatuan sistemik dalam menjalankan tugasnya. Namun pada akhirnya, ketika akal, pikiran, dan tubuh menjadi pioner pembeda dimana manusia menjadi makhluk yang di satu sisi dipuja karena kecerdasannya atau dalam istilah Descaterian animal rational. Namun di lain sisi, manusia justru bakal duduk setara bahkan lebih di bawah posisinya dengan binatang dikala ia tidak mampu memanifestasikan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana yang termaktub oleh Sang Khaliq dalam kitab Suci-Nya.
Itu-pun yang dikehendaki oleh Negara-Bangsa (Nation-State) Indonesia saat ini untuk beranjak lebih dewasa dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang sudah lama merindukan “Baldatun Taibatun”, sebagaimana yang di dambakan oleh seorang Ibu yang kesehariannya hanya di habiskan di bawah terik matahari demi mempertahankan kesempatan hidup, bahkan Kita akan mengeluh kesakitan ketika mendengar ada seorang ibu rela mencuri pakaian di sebuah Mall hanya untuk membuat anaknya berhenti menangis. Begitu parahnya kondisi bangsa ini!
Sebuah Cerpen
Posted in Cerpen on Desember 23, 2008 by joemardipoetra
LAYAKNYA BAPAK BANGSA, KITA BUTUH SOSOKNYA
Oleh: Joemardi Poetra
Akhir-akhir ini, suasana tidak seindah layaknya hari-hari biasa, penuh dengan amarah dan uraian air mata. Di samping itu, tidak satu pun yang berbicara, melainkan kebulan asap rokok dari para anggota post struktur yang menandakan suasana memang sedang tidak bersahabat. Begitulah kondisi rapat strategis organisasi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Resstensia di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Tak dinyana, dengan volume suara yang agak menyentak, Wulan mengatakan, kalau rapat seperti ini terus lebih baik bubar saja dan masih banyak pekerjaan lain daripada ini. “Diam itu tidak sakral lagi bung,” lanjutnya sembari mengatakan, ma’af kalau terlalu kasar. “Ah dasar cah cilik, marah kok enggak nyambung,” timpal Gilang dengan nada rendah. Suasana pun sedikit cair, seperti air sungai yang hendak berpergian ke hilir, tapi ditahan oleh setumpukan beraneka ragam sampah. Ada plastik, kaleng sarden, dan masih banyak sampah lainnya.

http://joemardipoetra.co.cc


copy script di bawah ini dan paste-kan di widget text/html blog Anda:

