GURITA MAL DI YOGYAKARTA

Oleh: Joemardi Poetra*

images1Apa jadinya Yogyakarta berubah menjadi Jakarta, di sana-sini dipenuhi oleh gedung-gedung mencakar atap langit. Apa jadinya Yogyakarta berubah menjadi kota beranak-pinaknya kendaraan, dimana udara bersih dan sehat sangat sulit didapatkan. Apa jadinya Yogyakarta berubah menjadi hutan mal, repot pastinya. Barangkali pertanyaan ini akan terus bergulir seiring banyaknya perubahan yang tampak di kota pendidikan maupun budaya ini. Sebuah kota yang memang tidak asing lagi dan dikenal banyak warga Indonesia maupun para turis manca negara karena banyak situs sejarah dan didukung pengembangan sumber daya manusia lewat perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta.

Beberapa minggu yang telah lewat, beragam media cetak ataupun elektronik mewartakan, pusat informasi Majapahit yang dibangun oleh Pemerintah Pusat dinilai gegabah, karena dibangun di atas lahan tanah yang di bawahnya dinilai oleh beberapa arkeolog Indonesia terdapat bekas bangunan kerajaan Majapahit yang patut dijaga, karena cagar budaya. Bagaimana hubungan dengan Yogyakarta, sangat erat sekali, bahwa Yogyakarta banyak memiliki cagar budaya yang harus dijaga oleh negara (pusat dan daerah), karena dengan ini sejarah masa lampau bakal mudah dicerna oleh generasi masa depan dan sekaligus menegaskan bahwa bangsa Indonesia adalah sebuah perkumpulan masyarakat yang sangat menghargai sejarah. Akan tetapi sampai kapan Yogyakarta bertahan di tengah himpitan ekspansi pasar, dimana peran uang sangat menentukan. Pendek kata, jikalau para pemodal atau pengusaha besar telah se ia se kata dengan aparat pemerintah, maka bukan suatu hal yang mustahil untuk bisa dilakukan perubahan total ke-khasan daripada kota Yogyakarta. Dari kota budaya menjadi kota pusat ekonomi. Dari kota pendidikan berubah menuju kota perusahaan. Adalah fenomena biasa, hampir di setiap jalan protokol kota Yogyakarta dihiasi oleh mal, baik yang berukuran sedang sampai besar, seperti Plaza Ambarukmo, Shapir Squer, Galeri Mal dan lain-lain. Keprihatinanku kian bertambah setelah membaca tulisan pendek karya Raihul Fadjri, berjudul Ngadem di Mal Amplaz, (Koran Tempo, 2/02/09) bahwa di Jogja Exhibition Center (JEC) Yogyakarta bakal dibangun mal. Terhenyak mendengarnya, pasalnya, gara-gara mal banyak persoalan bermunculan, seperti kemacetan, konsumerisme kian membabi-buta dan tingkat kesenjangan bakal menganga, di samping itu, sudah barang tentu cagar budaya dan wajah kota pun terancam punah. Menurut hemat penulis, pembangunan mal tidak selalu berbanding lurus dengan perbaikan kualitas hidup karyawan atau masyarakat pada umumnya. Sedari bersama, dari banyak turis luar negeri berdatangan ke Yogyakarta pada umumnya bukan karena mal, tapi karena ke-khasan Yogya sebagai kota budaya dan memiliki catatan sejarah perihal kemerdekaan Indonesia. “Jadi ngapain harus dibangun mal lagi, atau jangan-jangan ini adalah penanda sebuah zaman dimana semua orang tidak memahami betul apa arti penting kebudayaan dan pendidikan. Terkadang penulis berpikir, banyaknya lembaga pendidikan belum tentu menjanjikan kalau perilaku elite dan mahasiswa hanya menjadi penyokong kesuksesan para dedengkot kapatis. Manakala persoalan semacam ini tidak disikapi secara arif, baik oleh pemerintah, pengusaha maupun masyarakat, maka Yogyakarta lamban laun beralih fungi dari ‘hutan kebudayaan dan pendidikan’ menjadi hutan mal, tak lebih. (09/02/09)

Tinggalkan Balasan