Ruang Rindu di Ujung Malam

Oleh: Joemardi Poetra

images4Ibu, engkau selalu kukenang dalam setiap denyut nadi. Bapak, engkau selalu ku kenang pula. Menyertai dua adikku pun sama. Mereka semua adalah pilar kehidupanku manakala bergerak dan menentukan arah kehidupan di hari yang akan datang. Kondisi kehidupan keluarga yang serba sederhana adalah realitas jelang tutup hari kelak. Jalan terjal dalam kehidupan, baik yang mereka rasakan di kampung halaman atau pun saya di sebuah kota di pulau jawa menjadi bahan cerita khusus ketika berjumpa. Singkat kata, seperti nasehat bapak kepadaku sebelum meninggalkan kampung halaman; ringan sama di jinjing dan berat sama dipikul. Begitu indah kehidupan jikalau segala sesuatu diselesaikan secara bebarengan.

Di ujung malam, kami selalu berjumpa dan duduk bersama di bawah terangnya cahaya Bulan. “Tuhan begitu indah fasilitas kehidupan yang Engkau berikan pada makhlukmu”, begitulah bisik kami satu sama lain. Dalam malam tak ada kegelapan, yang ada hanyalah ketenangan yang menghadirkan celah terang. Bersatu dalam malam dan bersatu dalam kebahagiaan. Terpisah oleh pulau, jawa-sumatra, tak membuat jarak jauh begitu terasa. Di ujung malam, mereka selalu menyertai tidurku di sebuah gubuk yang amat sederhana. Di samping itu, tak ketinggalan sahabat hidup, buku dan koran yang tak tersusun rapi pun menjadi teman setia sembari menjemput sang fajar.

Air mataku begitu mudah jatuh dari sumbernya, manakala di ujung setiap malam, kami semua bertemu dalam satu titik. Titik rindu antara bapak, ibu, dan anak. Di depan Tuhan tidak banyak do’a kutadahkan kecuali khusus kupersembahkan buat mereka. Mereka yang mendidikku dari kecil hingga dewasa. Mereka yang harus menguras keringat mengantarkanku pada kemandirian. Sikap hidup yang tidak mengadahkan bantuan secara berlebihan kepada orang lain. Wahai sang malam, jikalau malam yang telah lalu aku bertemu mereka di ujung malam, maka aku berharap di malam ini pun aku bisa merebut ruang rindu bersama mereka.

Ya Allah, ampuni dosa kedua orangtuaku, jadiklanlah keluarga kami sakinah, mawaddah, dan warohmah. Lindungilah mereka dan kuatlah mereka dalam hidup yang serba sederhana, tapi dipenuhi oleh cinta, antara sesama manusia maupun kepada Engkau Ilahi Rabbi. Ya Allah, lindungi adik-adikku di rumah. Jadilahkanlah mereka titipan-Mu yang bermanfa’at bagi banyak orang. Ya Allah, tempatkan aku di tengah pusaran manfa’at bagi orang lain.

Di atas sejadah, aku pun mencium photo bapak, ibu dan dua adikku yang sengaja kuletakkan di atas dada kurusku, setelah itu, perlahan-lahan aku merebahkan tubuh dan menutup mata sembari menjemput ruang rindu di ujung malam.[22/02/09]

Satu Tanggapan ke “Ruang Rindu di Ujung Malam”

Tinggalkan Balasan