Wajah Stress Caleg 2009

Oleh: Joemardi Poetra

“Demokrasi telah dicederai oleh para penganutnya sendiri”

Pemilihan umum (pemilu) anggota legislatif (DPR, DPRD,DPD) telah lewat beberapa hari. Anak manusia kembali seperti biasa, sibuk dengan beragam aktivitasnya masing-masing. Tidak ada lagi kampanye yang bisa mendatangkan upah. Pekerjaan makelar massa pun berhenti sejenak sembari menungu pemilu tahap kedua. Tidak ada lagi arak-arakan motor dengan suara knalpot yang berlebihan -keras=bising. Jalan kembali leluasa dilewati, dan yang jelas tata ruang kota kembali asri, jauh dari keramaian baliho, spanduk dan bendera partai politik.
Terkadang hati berkehendak, tidak hanya atribut partai yang diatur, kalau perlu (memang harus) baliho dan spanduk iklan di sepanjang jalan pun perlu ditertibkan, kemudian diatur layaknya aturan pemilu, hanya boleh pada masa kampanye, sehingga dalam lima tahun kita benar-benar terjauhi dari hegemoni iklan yang berbau konsumeristik. Pasca hasil sementara penghitungan cepat (quickcount), masing-masing partai politik terlihat super sibuk mengatur strategi dan memikirkan dengan siapa harus berkoalisi karena bakal mempersiapkan jurus-jurus nan mujarob untuk menuju pemilihan tahap kedua, yakni pemilihan presiden dan wakilnya pada bulan Juli depan.
Di tengah itu semua, tersiar kabar dari salah satu stasiun televisi swasta, Trans7, akibat kalah dalam perebutan kursi di DPRD, di Manado tepatnya, salah seorang caleg dari salah satu partai lama mengambil kembali bantuan (dua buah karpet) yang telah diberikan sebelumnya kepada salah satu masjid di daerah pemilihannya.
Hal yang sama juga terjadi di Kalimantan Timur, salah seorang caleg dari salah satu partai memindah paksa beberapa keluarga yang selama ini menempati lahan miliknya. Praktik ini dilakukan dikarena anggota keluarga tersebut tidak mencontreng caleg tersebut.(metrotv)
Menohok ulu hati terdalam, siapa pun orangnya bakal merasakan hal yang sama seperti penulis ketika mendengar kabar memilukan ini. Beginikah kualitas legislator kita. Sikap simpatik yang ditampakkan semasa kampanye tak lebih dari upaya pembohongan publik. Ketulusan memberi tidak terbukti oleh jalannya waktu, melainkan kalah oleh ketidakikhlasan yang seharusnya jauh-jauh hari sebelum menuju tahta dewan perwakilan rakyat sudah tertata.
Singkat kata, pemilu bukan lagi ajang pendidikan politik secara jujur dan mengamini segala resiko yang bakal dihadapi, tapi lebih tepatnya hanyalah sandiwara semata. Ibaratkan seorang lakon yang sedang mentas di sebuah acara perkawinan. Beginikah potret buram politik yang sebenarnya?. Berisi dengan segala macam kebusukan.
Di lain sisi, adalah pertanda bahwa politik yang selalu dijalankan dengan dorongan modal, hanya berakhir dengan perkara untung-rugi, tak lebih. Dan itu terbukti oleh sikap caleg tersebut. Pada akhirnya, politik yang mengidealkan akan ada perbaikan di seluruh pelosok negeri ini hanyalah isapan jempol belaka. Seluruh elemn masyarakt pun harus jujur mengakui: demokrasi telah dicederai oleh para penganutnya sendiri.
Menanggapi peristiwa caleg tersebut ibarat seseorang makan hasil muntahannya sendiri. Sesuatu hal yang sepatutnya tidak boleh terjadi, apalagi pada diri seorang pemimpin yang harus jadi panutan massa rakyat.

Akhirnya, saya persembahkan satu buah puisi untuk para politikus busuk di negeri ini:

Drama Kursi Kekuasaan

Turun kepasar
bersalaman ke setiap penjual
Bertanya banyak hal
untuk meraih dukungan
Membeli tanpa harus ada kembalian
pertanda kontrak politik dipaksakan.
Keihklasan di perjualbelikan
Popularitas begitu diimpikan
Turun ke sawah
menggunakan pakaian kebesaran
Bercocok tanam di depan para tamu undangan
di iringi gemuruh tepuk tangan
agar dipandang memiliki sifat kerakyatan

***

Entah apa yang ada di akal, hati dan jiwa mereka
Mereka yang sedang bertarung merebut kursi kekuasaan
Ah..begitu pintar mereka..
menteaterkan drama kursi kekuasaan
——-
Ditulis : 12/04/09

2 Tanggapan ke “Wajah Stress Caleg 2009”

  1. Hahaha– kalikaturnya lucu sekali—
    Apa itu ilustrasi Caleg yg stres yah…

  2. ya bung…stress adalah bahasa lain dari kualitas legislator indonesia yang amat buruk.

Tinggalkan Balasan