Selamatkan Amien Rais
Oleh: Joemardi Poetra
Jauh sebelum pemilu digelar, Amien Rais tak henti-hentinya melontarkan kritik terhadap kinerja pemerintah SBY-JK, terutama soal kenaikan harga BBM dan rencana penjualan aset stategis negara. Belum lagi soal kemiskinan, pengangguran dan lapangan kerja yang belum teratasi.
Namun, setelah melihat peluang SBY bakal menang pada pemilu ini, tanpa tedeng aling-aling Amien Rais menganjurkan Partai Amanat Nasional (PAN) merapat ke demokrat, partainya SBY. “Berkoalisi dengan the losing side, bukan the winning side, itu sebuah kemubaziran”, ungkapnya di depan para wartawan.
Sebagai sikap politik partai hal ini dianggap biasa, akan tetapi ketika sikap tersebut datang dari tokoh yang dibai’at sebagai reformis ini, sudah barang tentu mengundang tanda tanya. Hampir secara keseluruhan para pengamat menilai dalam dua sisi, pertama idealisme Amien diambang keruntuhan, kedua meminjam istilah Musya Asy’ari, guru besar filsafat UIN Yogyakarta, tradisi ‘lanjutkan’ sebagai bagian dari paradigma militer telah merasuk pemikiran politik Amien. Pendek kata, kondisi yang dianggap nyaman saat ini adalah sebuah kekeliruan manakala rakyat memberi kesempatan pada calon pemimpin alternatif selain SBY.
Masih segar dalam ingatan, pada peringatan hari kebangkitan nasional tahun 2008, Amien melounching buku ‘Selamatkan Indonesia’ yang disambut penuh sukacita oleh banyak pihak, karena berhasil menelusuri rekam jejak kekeliruan dalam menjalankan biduk rumah tangga negeri ini. Neoliberalisme yang mengakar dalam setiap tatanan kehidupan di negeri ini, terutama di bidang ekonomi membuat perubahan kian sulit dicapai.
Buktinya, merujuk pada Undang-Undang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) pemerintahan SBY-JK, tercantum target pertumbuhan ekonomi rerata selama kurun waktu 2005-2009 adalah 6,6 persen, tetapi pertumbuhan rerata selama 2005-2008 saja hanya 5,9 persen. Selain itu, target untuk angka pengangguran pada tahun 2008 adalah 6,6 persen, kenyataannya 8,4 persen. Untuk penduduk miskin menargetkan 8,2 persen pada tahun 2009, sedangkan realisasi untuk 2008 (angka 2009 belum tersedia) adalah 15,4 persen.(kompas, 27/4)
Kembali pada persolan di atas, melihat sikap politik Amien (termasuk para elit lainnya) yang terjebak pada kepentingan sesaat, adalah perlu kiranya mengingatkan mereka agar kembali pada khittah terbentuknya NKRI (17 Agustus 1945) yakni, membawa rakyat Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan nan hakikian.
Akhir kata, sebelum menyelamatkan Indonesia, karena harus menyatukan kesepahaman di antara ratusan juta ummat manusia adalah lebih tepat menyelamatkan Amien Rais dan kawan-kawannya (para elit) terdahulu.
[4/5/9 ]