Pram, di Usiamu Yang Tak Lagi Bisa Dihitung

imagesPram, kau telah pergi
Diiringi dengan lagu perjuangan
Selamat jalan Pram
Dan selamat datang di ibukota keabadian.
Kami pun bakal menyusul setelahmu
Entah hari ini, esok, lusa atau kapan
Bagimu, kehidupan memiliki tugas nasional
Apapun bentuknya,
akhirnya adalah kemerdekaan
dalam pengertian yang susungguhnya

***

Pram, kau direkam banyak orang
Lintas pulau, negara, bahasa dan budaya
Pram, gagasanmu tak lekang dimakan waktu
Karena kenyataan dan pergesekan-pergesekan kebenaran
baik dalam hati maupun pikiran adalah basis material ceritamu
Satu persatu karyamu
menceritakan geliat lahirnya sebuah bangsa-negara
Merangkak untuk menemukan satu tujuan bersama
Kemerdekaan dan miskin dari penindasan
Mulanya aku masih berdiri di luar pagar ketika membaca karyamu
Akhirnya aku pun masuk dan mengembara dan sesekali jatuh bangun mengikuti
alur persoalan yang mengharu biru di dalamnya
Indonesia adalah cikal bakal dari sebuah pena
Indonesia adalah hasil dari percikan tinta
Indonesia adalah hasil dari gagasan yang terorganisir
Indonesia adalah hasil kerja para pemuda yang konsisten
Dalam hidupmu pemuda adalah motor penggeraknya
Bagimu pemuda adalah manusia yang berkobar-kobar dengan cita-cita
Bukan kaum priyayi yang sudah jelas beku dalam dinas-dinas rumah kaca

***

Pram, kau pergi jauh sebelum aku mengenalmu
Kau dijemput jauh sebelum aku membaca peninggalan bersejarahmu
Beberapa tokoh buku, selalu Pram menempati daftar pencarian pertamaku
Di usia mu yang tak lagi bisa dihitung
Nasehatmu akan selalu aku pegang
Keberanian adalah barang yang harus aku temukan dalam karyamu
Kehidupanmu tidak akan pernah luput Pram
Manakala halaman demi halaman masih dibuka
dan dibaca oleh setiap generasi.
***

—–

Pramoedya, kuhantar huruf-huruf ini ke meja redaksimu
di alam keabadian, alam yang hanya tergapai oleh sang pena dan doa’.
Mudah-mudahan kau mendengar jauh di sana.

Seorang anak manusia yang merupakan bagian dari Anak Semua Bangsa yang sedang berusaha memahami Bumi Manusia beserta Jejak Langkahnya di sebuah Rumah Kaca.

Oleh: Joemardi Poetra, jejang tutup sore, 9-5-09

Satu Tanggapan ke “Pram, di Usiamu Yang Tak Lagi Bisa Dihitung”

  1. sanjungan indah
    kepada tokoh sejarah
    sungguh menggugah

    salam kenal

Tinggalkan Balasan