Aku, Kami, Kita

Menjadi Indonesia

Bersimbah peluh di ujung siang
Bertekuk lutut di ujung malam
Berduyun-duyun memanjat harap
Menjemput janji perubahan
Untuk seutas tali kepastian
Untuk sejumpun kerinduan yang tertunda
Tentang hidup dengan yang lian
pada hari yang dibayangkan
Kemerdekaan, kesederajatan dan kesempatan
adalah bahasa bumi yang tak boleh dilianglahatkan
Berontak dan menggeliat adalah tugas abadi
untuk lian yang tertindas dalam pusaran peradaban yang edan
Mengheningkan cipta, mulai…
(sembari menyanyikan dalam hati, bait-bait harapan
yang manis untuk masa silam, tapi dijanjikan pada hari depan)
“ aku, kami, melebur dalam kita..
I.n.d.o.n.e.s.i.a ”

Matikan TV Mu!!!!

Petang akan pergi
Matahari mulai mengucapkan kata permisi
Malam pun mengundang dan datang
Anak muda-remaja mulai bergeliat
Duduk manis di depan kotak ajaib
yang mempertontonkan haru biru
sang idola yang tak patut diidolakan
Amarah, tangis dan air mata
sesekali wanita dan tahta
menjadi bahan baku utama pembodohan
Tidak ada kehidupan yang aslian
Sunggguh,
negeriku sedang didiami
para penduduk yang sedang terbungkuk-bungkuk
oleh ketidaktahuan.
Joemardi Poetra, 25/05/09
 paroh malam,

Satu Tanggapan ke “Aku, Kami, Kita”

  1. prostel Berkata

    halo JMP, hm… gimana kabar. puisinya bagus :) )

Tinggalkan Balasan