Hidup tak Sekedar Urusan Perut
Oleh: Joemardi Poetra
Sebuah Desa yang tak kunjung maju, bahkan justru tertinggal.
Apakah mereka sedang tertatih-tatih oleh ketidaktahuan.
Apa yang harus dilakukan untuk mengubah itu semua.
Dalam kesehariannya, usai shalat Shubuh, hampir seluruh penduduk di Desa Empelu, Kecamatan Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi (mungkin juga terjadi di hampir keseluruhan pelosok Desa di negeri ini) berbondong-bondong memecah sunyi dan berjalan mengikuti irama bunyi sepatu bot, sandal jepit serta gesekan bersahabat antara kaki dan batu kerikil sepanjang jalan. Tujuannya bermacam-macam, ada yang ke sawah untuk menanam atau bahkan memanen padi, ada juga yang ke kebun karet dan masih banyak aktivitas penyambung hidup lainnya yang dilakukan oleh mereka dalam sehari-hari. Sungguh indah lukisan masyarakat desa tersebut, manakala para seniman lukis gemar memindahkan potret riil tersebut ke dalam beragam ukuran kanvas. Namun yang pasti, kisah tersebut menggambarkan ada semangat yang serentak untuk menghargai kehidupan sebagai titipan Ilahi yang harus diolah dan dimanfa’atkan.
Waktu pagi adalah luapan rezeki yang sangat dinanti. Ada idiom yang berkembang di kalangan orang tua di Desa itu yang kebetulan selalu menjadi menu utama nasihat pada anak-anaknya: nak, jangan tidur di waktu pagi, nanti kamu kehilangan rezeki. Begitu nasihat yang secara turun temurun terjaga sampai saat ini.
Semua berderu dalam kerja nyata, bukan mimpi yang selalu dianak pinak oleh sikap malas tentang kekayaan yang tidak dilalui dengan proses menggali, mencari dan memanfaatkan segala sesuatu yang Halalan Toiiban di muka bumi ini, atau bukan tawaran ilusi dari para pemain sinetron tentang kekayaan yang datang serba dadakan.
Bagi mereka, kerja keras adalah manifestasi dari sikap kesungguhan yang telah lama ditempa oleh generasi sebelumnya, bahkan juga bagian dari didikan alam. Fakta menujukkan, banyak orang yang mengakui sifat kerja keras mereka, bahkan sangking tingginya etos kerja yang dimiliki, hari piknik bersama buah hati dan istri, apalagi sanak keluarga jarang ada di dalam kamus hidup mereka. Singkat kata, bekerja dan bekerja. Begitu lah putaran waktu dalam pikiran dan tindakan mereka.
Akan tetapi, sebagai manusia yang hidup di zaman samacam ini, sebuah zaman yang tidak lagi mengenal tapal pembatas antara teritorial sebuah Negara, Provinsi, Kabupaten, Desa, dan sampai batasan yang cukup abstrak sekalipun seperti identitas diri, dan kelompok ternyata tak lagi relevan dijaga dengan super kaku dan ketat. Pendek kata, tindakan pelarian dari garis sejarah yang sedang berkembang saat ini resiko nya adalah dilindas oleh lawan tampa ampun dan kasihan. Dengan demikian, harus ada progressive changes dalam pola pikir masyarakat dan aparat Pemerintah Derah setempat sehingga kelak mampu menerima segala macam tradisi positif yang sedang berkembang di jagat alam raya ini.
Baca selebihnya »