Arsip untuk Juli, 2009

Aku di Zaman yang Mati

Posted in Puisi on Juli 31, 2009 by joemardipoetra

Kapitalisme telah menjadi kerajaan baru di luar Kerajaan Tuhan
Renaisanss dibangun oleh rasionalitas yang berujung pada ketidakrasionalan (unreasonableness)
Modernitas telah sedang dan akan terus menerjang tanpa batas

Aku
Tak kuasa lagi menolak apa-apa yang datang dari luar diriku

Aku tidak lagi otonom
Penuh ketergantungan
pada
Hasrat yang tanpa henti
Keinginan yang selalu kurang
Kelebihan yang tidak disyukuri

Aku tidak lagi takut pada Tuhanku
Sebuah keadaan yang telah menodai naluri beragamaku
Aku tidak lagi menjadi aku
tapi,
menjadi obyektifikasi hal-hal yang dianggap obyektif

Aku sudah tidak ada lagi
Jasad tanpa jiwa
mati…

Joemardi Poetra, 30 Juli 2009

Karena Tidak Tahu, Agama pun jadi Bencana

Posted in Opini on Juli 24, 2009 by joemardipoetra

Oleh: Joemardi Poetra*

Minus nya pemahaman terhadap teks-teks agama dan tipisnya kadar kepekaan sosial menjadi cikal bakal lahirnya kekerasan, karena dalam perjalanannya Ayat-ayat Tuhan yang memiliki otoritas justru menjadi pesan yang otoriter.

Seperti biasa, jelang shalat Jum’at, tersedia bulletin secara cuma-cuma di depan pintu masjid. Saya mengambil salah satu di antaranya (ma’af-tidak disebutkan nama bulletinnya) dan membaca sembari menunggu khotib menyampaikan khutbah. Sontak, isi bulletin tersebut membuat saya tak habis pikir betapa aksi kekerasan yang terjadi di bumi Pertiwi ini, seperti bom bunuh diri adalah pilihan mereka yang notabene masih terbelakang baik dari aspek pendidikan, sosial dan ekonomi. Orang-orang semacam ini tentu sangat berpotensi dan gampang disuruh (subordinat) oleh pesuruh (otak di balik aksi,) baik dari jaringan pihak luar maupun dalam negeri. Artinya, orang-orang yang dipilih adalah mereka yang tidak memliki sofhware (pengetahuan maupun pengalaman) untuk menimbang apakah tindakan tersebut adalah pilihan yang wajar dan tepat di negeri yang menjunjung tinggi perdamaian, terlebih misi universal Islam yang Rahmatan Lil Alamin adalah inti dari segala macam ekspresi keagamaan.

Senada hal itu, karena ketidaktahuan pula dalil-dalil agama menjadi alat legitimasi bagi setiap aksi-aksi kekerasan yang mereka lakukan. Bukti nya, dari beberapa pelaku bom bunuh diri di Indonesia mengaku optimis karena kelak dijanjikan taman surga-sebuah keinginan tertinggi dari segala umat manusia.

Menurut hemat saya, Ayat-ayat Tuhan dalam hal ini telah disalahgunakan. Kenapa? merujuk pada pendapat Khaled M. Abou El Fadl, ada model penafasiran terhadap teks al-Quran yang cukup problematik di tengah masyarakat muslim saat ini, terutama oleh mereka yang dianggap pemegang otoritas terhadap teks al-Quran, seperti Kyai, Ustad, dan pemuka agama atau bahkan lembaga keagamaan secara institusional. Model penafsiran mereka adalah menafsirkan teks-teks al-Quran yang memiliki otoritas yang kemudian justru menjadi otoriter. Bentuk penafsiran semacam ini disebabkan oleh ketidaktepatan dalam menggunakan rujukan, dan tidak adanya sikap kehatian-hatian dalam menafsirkan (dengan segala perangkat yang diperlukan untuk menafsir) serta lemahnya budaya ‘investigasi’ terhadap data-data yang mengelilingi setiap ayat-ayat yang ditafsirkan. Akibatnya, ayat-ayat Tuhan pun menjadi otoriter.

Baca selebihnya »

Diskusi…

Posted in Opini on Juli 23, 2009 by joemardipoetra

Hidup tak Sekedar Urusan Perut

Oleh: Joemardi Poetra

Sebuah Desa yang tak kunjung maju, bahkan justru tertinggal.

Apakah mereka sedang tertatih-tatih oleh ketidaktahuan.

Apa yang harus dilakukan untuk mengubah itu semua.

Dalam kesehariannya, usai shalat Shubuh, hampir seluruh penduduk di Desa Empelu, Kecamatan Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi (mungkin juga terjadi di hampir keseluruhan pelosok Desa di negeri ini) berbondong-bondong memecah sunyi dan berjalan mengikuti irama bunyi sepatu bot, sandal jepit serta gesekan bersahabat antara kaki dan batu kerikil sepanjang jalan. Tujuannya bermacam-macam, ada yang ke sawah untuk menanam atau bahkan memanen padi, ada juga yang ke kebun karet dan masih banyak aktivitas penyambung hidup lainnya yang dilakukan oleh mereka dalam sehari-hari. Sungguh indah lukisan masyarakat desa tersebut, manakala para seniman lukis gemar memindahkan potret riil tersebut ke dalam beragam ukuran kanvas. Namun yang pasti, kisah tersebut menggambarkan ada semangat yang serentak untuk menghargai kehidupan sebagai titipan Ilahi yang harus diolah dan dimanfa’atkan.

Waktu pagi adalah luapan rezeki yang sangat dinanti. Ada idiom yang berkembang di kalangan orang tua di Desa itu yang kebetulan selalu menjadi menu utama nasihat pada anak-anaknya: nak, jangan tidur di waktu pagi, nanti kamu kehilangan rezeki. Begitu nasihat yang secara turun temurun terjaga sampai saat ini.

Semua berderu dalam kerja nyata, bukan mimpi yang selalu dianak pinak oleh sikap malas tentang kekayaan yang tidak dilalui dengan proses menggali, mencari dan memanfaatkan segala sesuatu yang Halalan Toiiban di muka bumi ini, atau bukan tawaran ilusi dari para pemain sinetron tentang kekayaan yang datang serba dadakan.

Bagi mereka, kerja keras adalah manifestasi dari sikap kesungguhan yang telah lama ditempa oleh generasi sebelumnya, bahkan juga bagian dari didikan alam. Fakta menujukkan, banyak orang yang mengakui sifat kerja keras mereka, bahkan sangking tingginya etos kerja yang dimiliki, hari piknik bersama buah hati dan istri, apalagi sanak keluarga jarang ada di dalam kamus hidup mereka. Singkat kata, bekerja dan bekerja. Begitu lah putaran waktu dalam pikiran dan tindakan mereka.

Akan tetapi, sebagai manusia yang hidup di zaman samacam ini, sebuah zaman yang tidak lagi mengenal tapal pembatas antara teritorial sebuah Negara, Provinsi, Kabupaten, Desa, dan sampai batasan yang cukup abstrak sekalipun seperti identitas diri, dan kelompok ternyata tak lagi relevan dijaga dengan super kaku dan ketat. Pendek kata, tindakan pelarian dari garis sejarah yang sedang berkembang saat ini resiko nya adalah dilindas oleh lawan tampa ampun dan kasihan. Dengan demikian, harus ada progressive changes dalam pola pikir masyarakat dan aparat Pemerintah Derah setempat sehingga kelak mampu menerima segala macam tradisi positif yang sedang berkembang di jagat alam raya ini.

Baca selebihnya »

Kita Bukan Bangsa Pembelajar

Posted in Opini on Juli 20, 2009 by joemardipoetra

3419000p

Demokrasi telah diperkosa. Moral dan hukum sebagai teman nya pun entah kemana dibawa pergi oleh manusia yang setengah hati. Dilanggar dan dihianati. Perdamaian sulit dicapai. Nyawa pun diperjualbelikan atas nama uang dan kekuasaan. Apa arti kehidupan ini, kalau memang hal ini selalu terjadi di sebuah negeri yang selalu berkoar-koar damai itu harga mati.
Di mana sekolah (dalam setiap jenjang dan jalurnya), dan di mana pula setiap pengajian kegamaan yang memekik keras tentang ajaran kasih sayang.
Benarkah kita sedang terkepung dalam situasi yang sulit untuk mengingat tentang apa yang telah dan sedang terjadi di negeri ini, sehingga bisa menjadi pelajaran yang patut dipelajari, atau memang hati kita teramat gelap, sehingga celah terang menutupi segala kemungkinan untuk meraih kebahagian seperti yang telah dijanjikan, atau jangan-jagan, itu hanya sebuah nyanyian sunyi yang hanya manis untuk dikenang tetapi tidak mendukung untuk menjadi jaminan wujud nyata di masa yang akan datang.
entah lah, semua orang memiliki pikiran untuk menerjemah tentang segenap serpihan-serpihan sesal kehidupan, dengan catatan: kalau Kita masih bisa mengingat dan gemar mencatat.

Aku ikut berduka atas tragedi Mega Kuningan Jakarta.
Mudah-mudahan tidak terulang kembali, karena sudah terlalu cukup menerima hantaman kesedihan yang bertubi-tubi di negeri ini.

Tek: Joemardi Poetra, 19, 20, 09.

Sumber Gambar: Kompas (18/7)

BOM: Tragedi yang Tak Kunjung Dihargai

Posted in Opini on Juli 20, 2009 by joemardipoetra

Oleh: Joemardi Poetra*

Apakah otak dan jiwa bangsa kita ini telah mengalami kerusakan hingga kita dengan gampang saja melupakan masa silam. Ini lah persoalannya.

imagesIndonesia kembali berduka. Pada tangal 17 Bulan Juli 2009 Jakarta diguncang BOM, tepatnya di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di kawasan Mega Kuningan. Smentara ini sembilan orang meninggal dunia, dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Warga Negara Indonesia dan Warga Asing adalah korban tetapnya. Sudah barang tentu, kejadian ini membuat Indonesia kembali merangkak dari bawah untuk menciptakan situasi dan kondisi yang stabil dan damai sebagaimana mestinya. Dengan kata lain, Indonesia harus membangun kembali sebuah rumah yang barusan dinodai noktah hitam yang di sana sini terdapat bercikan darah dan air mata.

Menanggapi peristiwa pilu ini, sang Presiden pun berang, dan tampak sulit menutup amarah, bahkan tampak bingung bagaimana mencurhatkan peristiwa kelam ini pada rakyatnya. Berkali-kali ia mengucapkan mengutuk tindakan melawan hukum tersebut, dan meminta kepada pihak yang berwajib segera memproses, menangkap dan mengadili para pelaku serta otak di belakang aksi anti kemanusiaan ini.

Tidak berhenti sebatas itu, SBY sang kepala Negara ini, yang kebetulan juga merupakan bagian dari kandidat calon Presiden bersama Budiono sebagai Cawapresnya pada Pemilu kali ini, mengeluarkan informasi yang dinilai sensitif terkait proses penghitungan suara yang sedang berlansung di Komisi Pemilihan Umum di Jakarta. Berdasarkan hasil laporan Badan Intelejen Negara (BIN), aksi biadab ini merupakan rangkaian teror untuk menggagalkan hasil Pemilu yang sedang berlansung di negeri ini.

Berdasarkan konferensi pers di Istana Negara, tercatat ada beberapa informasi krusial yang dikeluarkan oleh Presiden bahwa akan ada rencana menggagalkan proses penghitungan suara, agenda menduduki KPU, serta ada pula planning untuk mencederai orang nomor satu di negeri ini, sehingga Presiden meminta kepada jajarannya untuk menjaga keselamatannya. Tak ketinggalan, himbauan juga diserukan kepada seluruh jajaran birokrasi di negeri ini, mulai dari Gubernur sampai ketua RT agar waspada pada setiap aksi teror semacam ini.

Sontak, beragam pro-kontra menghiasi hampir di seluruh pelataran media negeri ini, terutama para kompetitor pada Pemilu kali, sebut saja duet Mega-Pro dan JK-Wiranto ini merasa dirugikan dan mensesalkan statemen kepala negara tersebut, karena dinilai sangat politis dan terkesan memancing ikan di air keruh.

Baca selebihnya »

Nyanyian Sunyi sang Lian

Posted in Puisi on Juli 14, 2009 by joemardipoetra

5730317-lg11

Senja yang Kabut

Senja di batas kota

Bukan lagi sebuah lagu

Tapi nyata senyatanya ada.

Di tengah bisingnya senja

Manusia ragawi tak ada lagi

berganti rupa menjadi seonggak roda

yang bergerak kemana dipinta.

Senja di batas kota

Tak lagi indah

Bising dan angkuh.

Senja di batas kota

dalam sebuah cerita

tentang hidup yang tak lagi hidup.

Senja di batas kota

Air, bumi dan udara

Disesaki oleh keangkuhan yang tak mau mengabdi.

Senja di batas kota

Di mana orang hanya memikirkan

bagaimana mengenyangkan perut.

Senja di batas kota

Tidak lagi dan tak akan pernah memikirkan

bagaimana memperjuangkan lian dari kekosongan perut

Senja di batas kota

Ketiadaan ruh dalam raga

……………..

Nyanyian Sunyi sang Lian

Ku ucapkan selamat datang pada kematian

Ku ucapkan selamat tinggal pada kehidupan

Di antar dua pilihan,

Masih banyak lian yang tidak tahu akan kedudukannya

Ini kah kehidupan yang tak berkehidupan

Atau kah ini sekumpulan manusia yang tidak berperikemanusiaan

Membuat lian sulit menentukan pilihan

Kecuali mati secara perlahan-lahan

Sadis, sungguh amat sadis

Di mana Pancasila yang katanya terbang kokoh mengitari nusantara

Di mana Indonesia yang katanya dibangun atas darah dan air mata bersama

Di mana penguasa yang aku amanahkan

Di mana semuanya????

Sehingga aku pun sulit mengabarkan

kehidupan semacam apa yang sedang aku jalani sekarang.

atau

Haruskah aku bertanya pada TPS dan kertas suara…

tentang alamat lengkap kehidupan yang lian.

seiring senja yang kian kabut

By; Joemardi Poetra

13-07-09.

  • Media Cetak

  • kompas
  • jawapos
  • mediaindonesia
  • gatra
  • Caping
  • Republika
  • KR
  • Sohib Blog’s

  • dedisyaputra
  • abdirrahman
  • Al-Mizan
  • Himasakti
  • LPM ARENA
  • Juparno Hatta
  • Rosyidi
  • KPJY
  • Yoenea
  • Komentar

    joemardipoetra di Malu Aku jadi orang Jambi,…
    susilo w di Malu Aku jadi orang Jambi,…
    joemardipoetra di Mari Menulis, Esai Sastra
    rista anggarani di Mari Menulis, Esai Sastra
    eka putra di Mari Menulis, Esai Sastra
    defri di Mari Menulis, Esai Sastra
    nursahid di TIPS-TIPS MEMBUAT KARYA TULIS …
    nursahid di TIPS-TIPS MEMBUAT KARYA TULIS …
    arifudin di Huruf-Huruf yang Hidup
    Agus Setiyawan di ETOS KERJA ADALAH JAMINAN
    ading di Huruf-Huruf yang Hidup
    Sugeng Riyadi Syamsu… di Bersatulah Mahasiswa Jambi…
    hendra di DUSUN EMPELU MILIKI RUMAH BACA…
    tutikurnia di Mari Menulis, Esai Sastra
    Ono Gosip di Prita