Di sebuah perkampungan..(desa empelu. Kec. Tanah Sepenggal. Kab. Bungo-Jambi) mereka menyebutnya..”Buai Keliling” istilah untuk hiburan keloketif (semacam komedi putar, tetapi terbuat dari peralatan tradisional kayu dan memakai tenaga manusia), pabila lebaran tiba..Tua-muda..dewasa-remaja..putra-putri menyatu di bawah kerlap-kerlip lampu terongkeng..Sungguh..tradisi yang harus dijaga..lantaran individualisme kini berwajah ganda..Di mata mereka, hiburan adalah rekayasa bersama untuk kepentingan bersama pula..sanak keluarga tertawa riang..di atas dan di sekeliling taman Buai Keliling..Di Kota, justru sebaliknya, itu sudah tak ada, melainkan berlomba memperagakan hiburan privat yang berkelas-mahal..Sungguh,.tahun ini aku tidak menjadi bagian dari sorak-orai tradisi buai keliling di tanah kelahiranku itu..Aku merindukakannya..lantaran dibesarkan oleh hiburan merakyat itu…sungguh harus dijaga karena siapa pun boleh tertawa di taman buai keliling itu..tak ada perdebatan harga pabila ingin mencobanya..melainkan sekedar ganti ongkos, kilah para panitia penyelenggaranya..Sekali lagi aku sangat merindukannya..
joemardipoetra; 23 / 9 /9.
Gedongkuning, yogyakarta.

http://joemardipoetra.co.cc


copy script di bawah ini dan paste-kan di widget text/html blog Anda:

