AKU, KITA dan JAMBI

“Bulat Aek oleh pembuluh, Bulat kato oleh mufakat”

Jambi sebagai Kita adalah kesadaran bersama untuk menghargai masa lalu,melayani masa kini dan bertanggung jawab terhadap masa depan. Jambi sebagai Kita adalah masa depan yang terus memberi kita kesempatan untuk berharap bahwa hari esok tetap cerah dan damai.

Siapa Pemilik Jambi

Jambi adalah sebuah provinsi (terbentuk tahun 1958) yang menjadi hak siapa saja; milik siapa saja sekaligus bukan milik siapa-siapa. Lebih dari itu, Jambi adalah wilayah terbuka tempat ketegangan dan harmoni terjadi bersamaan, tempat kebebasan sekaligus keterikatan menjadi penentu perilaku, tempat ketegangan dan tawar menawar sama-sama punya peran. Artinya kepemilikan Jambi adalah paradoks. Kenapa, karena ia berasal dari watak utamanya: percampuran, keberagaman, dan keberadaban.

Kita bisa menganalogkan Jambi dengan Diri manusia; sebuah identitas yang berkembang terus melalui identifikasi dalam dunia bersama. Jambi, seperti juga Diri, adalah sebuah ambivalensi. Ia adalah sebuah identitas, sesuatu yang tetap, jelas batasnya dan selalu sama. Tetapi ia berkembang terus. Orang-orang datang dan pergi, dan seterusnya.

Siapa Aku

Paradoks diri bisa dijelaskan dengan menggunakan teori kepribadian. Diri merupakan subjek sekaligus objek, sebagai aku dan diriku. Aku dalam arti Diri sebagai subjek, sementara Diri yang mengetahui adalah kesadaran yang muncul dan tumbuh setelah bayi menyadari adanya orang lain sebagai Kau. Diri berkembang melalui identifikasi dalam dunia bersama. Identifikasi di sini diartikan sebagai proses mencermati dan membanding-bandingkan orang lain yang ada di sekitar untuk kemudian membentuk citra baru berdasarkan hasil perbandingan itu.

Aku sebagai identitas memiliki ciri keberlanjutan, berbeda dari yang lain dan berkehendak. Diriku sebagai kontinum berubah dan berkembang; selain bisa mengalami progresi, bisa juga mengalami regresi. Aku yang berkelanjutan  dan tetap mengembangkan atau menciutkan diriku.

Siapa Kita

Kesadaran tentang keleluasaan untuk mengada merupakan dasar dari kehidupan masyarakat sipil (civil society). Keberadaan manusia yang sejak lahir merupakan keberadaan di dunia bersama manusia lain bisa berkembang secara optimal hanya jika disertai oleh penerimaan akan keberadaan manusia lain sebagai subjek, sebagai uniqum yang tak dapat diperbandingkan dan setara satu dengan yang lainnya.

Dalam kontek Jambi sebagai milik bersama, maka Diri adalah subjek yang memiliki keleluasaan untuk hidup bersama subjek lain mengatasi pelbagai sengketa, seorang manusia bisa membina hubungan intersubjektif, menjaga keseimbangan antara kehendak bebasnya dengan kehendak bebas manusia lainnya, mencapai kesejahteraan, mengembangkan, dan melampaui dunia bersama. Kebersamaan yang memungkinkan dipertahankannya subjektivitas dengan tujuan untuk mencapai kesejahteraan bersama adalah pengertian tentang masyarakat sipil. Bukankah ini adalah tentang siapa Kita.

Jambi adalah Persoalan itu Sendiri

Apa yang dikoar-koar oleh pemerintah Jambi tentang kesuksesan menciptakan sebuah provinsi yang berketeraturan, berkeadaban dan maju dengan teknologi mutaakhir dan ilmu pengetahuan adalah tentang Jambi dalam pengertian Ideal. Sebuah wilayah yang terbayang dalam visi kemanusiaan, Jambi jauh dari apa yang terpapar dalam kenyataan saat ini. Kehidupan Jambi adalah kehidupan aristokrat, kuasa pedagang kaya atau mandor atas buruh-buruhnya yang tak terurus, dan orang-orang terpelajar tapi tidak menjadi sayap kekuatan masyarakatnya.

Hal ini mengingatkan kita kepada Plato tentang Kota. Di matanya Kota adalah tempat manusia mencapai kebahagiaan yang rasional, memandang, dan memahami kebenaran. Akan tetapi sejarah Kota bukan melulu berisi hubungan sosial yang harmonis, percakapan yang pintar, dekat dan hangat, serta kerja sama yang adil. Kota juga tercatat sebagai tempat berlansungnya ketidakadilan, kekerasan, eksploitasi, keterasingan, persengketaan, hiruk-pikuk yang mendesak penghuninya ke kondisi rentan gangguan kejiwaan. Singkat kata, kini kita bisa menyaksikan sendiri bahwa kota lebih banyak mengandung ambivalensi. Bagaimana dengan Jambi saat ini? saya kira tak jauh berbeda, bahkan lebih mundur dari itu.

Lalu di mana Kita

Bagi saya persoalan yang penting bukan siapa yang memiliki Jambi tetapi bagaimana menjaga dan mengembangkan Jambi sebagai kesadaran bersama untuk membentuk masyarakat sipil, membangun kebersamaan yang memungkinkan dipertahankannya subjektivitas dengan tujuan untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Lalu, bagaimana menjadikan Jambi sebuah kebersamaan intersubjektif, menjadi kebersamaan dengan modus Kita. Kebersamaan semacam ini merupakan kebersaman dengan ciri kesetaraan dan setiap pribadi tidak kehilangan subjektivitasnya. Di dalamnya, setiap pribadi diterima dan menerima pribadi yang lain sebagai uniqum, sebagai diri yang unik dan tak dapat diperbandingkan. Berbeda dengan modus Kami yang menyemaratakan dan selalu menghadapkan kebersamaan terhadap mereka. Hemat saya, di sinilah tepatnya posisi Kita.

Jambi dalam Impian yang Memungkinkan

Akhirnya, Jambi di hari yang akan datang, dalam pengertian kebersamaan (modus Kita) merupakan dialog yang tak henti-hentinya, keterkaitan antar individu-individu berdasarkan kepedulian, kebebasan yang mengembangkan diri sendiri dan orang lain. Jambi sebagai Kita analog dengan Diri yang sehat, Diri yang terus membina dialog antara beragam posisi Aku untuk menjaga kesatuan Diriku, menerima masukan dari dunia, membina harmoni diri dengan dunia untuk mengembangkan diriku dan dunia. Jambi sebagai Kita adalah kesadaran bersama untuk menghargai masa lalu, melayani masa kini dan bertanggung jawab terhadap masa depan. Jambi sebagai Kita adalah masa depan yang terus memberi kita kesempatan untuk berharap bahwa hari esok tetap cerah dan damai. Sehingga dengan kebersamaan yang dialogis itulah yang mengantarkan Jambi menjadi sebuah Rumah Besar yang sehat, adil dan sejahtera bagi 11 kabupaten di dalamnya. Dan itu adalah cita-cita bersama yang memungkinkan.

Kiranya relevan merefleksikan pepatah-petitih Jambi[1] yang berbunyi; Supayo disisik disiangi dengan teliti dakdo silang yang idak sudah dakdo kusut yang idak selesai. Artinya: Agar setiap masalah yang dihadapi (Jambi) harus diteliti lebih dulu, andai masih ada masalahnya usahakan selesaikan dengan baik, karena setiap masalah ada jalan keluarnya.

Swarna Bhumi adalah Komunitas ‘Kita’

Dalam hal ini, saya sepakat memaknai Komunitas Swarna Bhumi (terbentuk 27 Februari 2009) berada dalam modus Kita. Kenapa. Karena modus kebersamaan dalam pengertian KITA ialah tindak tanduk berkehidupan yang tidak memosisikan ‘yang lain’ sebagai mereka, bertahan terus tanpa perlu ada ‘musuh’ bersama. Dengan kebersamaan demikian, setiap manusia dimungkinkan untuk menampilkan keunikannya, mengaktualisaskan potensi-potensinya dan berkembang sebagai keberadaan yang melampaui dunia. Modus Kita sejalan dengan fakta manusia sebagai keberadaan di dunia bersama manusia lain, memanfaatkan kesadaran tentang keleluasaan untuk mengada. Kita dapat membawa individu kepada kebutuhan akan kehidupan bersama yang saling menghargai, merawat, dan mengembangkan. Dalam Kita terkandung pengakuan asasi terhadap kebebasan eksistensial setiap pribadi dan selalu dimungkinkan adanya perbedaan-perbedaan di antara anggotanya.

Jadi, komunitas Swarnabhumi adalah salah satu tempat untuk menciptakan, menjaga dan mengembangkan kebersamaan dalam modus Kita. Di dalamnya terlahir kesepakatan-kesepakatan yang baik. Sebagaimana tercerminkan dalam peribahasa Jambi yang berbunyi: Bulat Aek oleh pembuluh, bulat kato oleh mufakat. Artinya dalam bermusyawarah bila sudah ada kata kesepakatan maka akan diperoleh kesatuan pendapat.

* Oleh Jumardi Putra, pegiat Komunitas Swarna Bhumi Yogyakarta, 27 Oktober 2009. ( Opini ini adalah adaptasi dari tulisan Bagus Takwin tentang Kota dan Kita: Jalasutra, 2006, dalam Resistensi Gaya Hidup: Teori dan Realitas, hal: 127-139 ).


[1] Dalam buku Pedoman Lembaga Adat Propinsi Jambi (2003), diungkapkan bahwa Petatah-petitih adalah sastra adat Jambi yang berisikan nasehat dan pandangan-pandangan serta pedoman hidup yang baik, dan petunjuk-petunjuk dalam melakukan hubungan sosial dalam masyarakat.

Tinggalkan Balasan