Desa, Alam dan Kota
kalaupun ini tak juga memahamkanmu bahwa alam itu bernyawa.
Aku berharap, layaknya waktu yang telah menggiringku ziarah alam pada malam itu,
kamu pun sama, mudah-mudahan akan memperoleh hal itu.
Sejarah Kota adalah Sejarah Penggemukan Perut
Kota adalah kemajuan dan kemunduran itu sendiri. Di balik cerita sukses pemutaakhiran tekonologi, ia juga menyimpan cerita iba tentang menikmati udara bersih adalah keinginan yang berlebihan. Ego pengendara roda bermesin memekik keras. Memecah kebisingan dari pagi hingga petang. Lalu lalang kendaraan membuat pemandangan sekujur tubuh jalan gemuk tak berbentuk. Semua bergeliat atas segala macam kepentingan. Waktu adalah uang. Begitulah falsafah msyarakat kota/modern. Sekali tertidur lelap, banyak kesempatan dibiarkan pergi begitu saja.
Pendek kata, sejarah kota adalah sejarah penggemukan perut. Walaupun jama’ diketahui, bahwa sejarah kota juga sejarah pengosongan perut bagi sebagian kelompok subordinat, tetapi tetap saja membuat ia tak bergeming sedikitpun. Bagi mereka kota adalah tempat mereka yang berkuasa, selebih itu silahkan nikmati sekarung akibatnya. Yakni, penindasan dan pemiskinan secara paksa (baik lansung maupun tidak lansung). Sehingga kemiskinan pun menjadi ibu dari segala bentuk kejahatan. Karena kondisi jiwa terganggu total. Sungguh rentan. Tapi itu adalah kenyataan yang tak bisa ditampik. Bahkan dengan kacamata hati yang paling dalam, wajah keberpuraan kita pun telah ditampar keras oleh sejarah kota itu sendiri.
Entahlah, yang jelas, hemat saya denyut nadi kehidupan kota menunjukkan irama serampangan. Terasa pecah gendang telinga kalau hal ini terus saja terjadi di kota. Bagi saya, kini kota sudah kusam, gelap dan menjenuhkan. Sudah barang tentu ini adalah jawaban yang bisa diperdebatkan kevalidannya.
Menziarahi Alam dan Benda-Bendanya
Di tengah situasi sumpek semacam ini, sebagai anak manusia yang pernah melewati satu masa di mana besar bersama nyanyian riang anak-anak pantai ketika berlomba membangun istana dari pasir, gelak tawa warga desa pesisiran atau laku bebarengan warga di lereng-lereng bukit atau pegunungan, adalah kerinduan yang selalu meminta kepadaku untuk berusaha membuka perlahan-lahan lembaran sejarah sebelum adanya kota. Yakni tentang sebuah desa yang indah dan permai. Menghargai alam sebagai makhluk Tuhan yang bernyawa. Sekali lagi, pelajaran luhur ini telah usang dalam sejarah perjalanan kota. Singkat kata, nyiur di tepi pantai adalah lagu masa lalu yang tak lagi berarti bagi masyarakat kota.
Ya, sejarah kota adalah sejarah campur baur dari bermacam latar belakang orang, dan revolusi di bidang teknologi merubah itu semua. Begitulah kota dengan segala kemudahan dan kekurangannya. Pendek kata, ia peradaban yang tak sepenuhnya utuh. Paradok dan ambivalens.
Sebuah Permohonan yang Tak utuh
Merindukan masa lalu adalah awal mulanya ziarah ekologisku beberapa hari terakhir ini. Akhir pekan, sejenak aku melepas semua pekerjaan dan kepentingan setelah sebelumnya bekerja satu minggu full. Aku pun memutuskan untuk menziarahi kerinduan itu. Kerinduan tentang burung-burung yang berkicau ramai, angin sepoi-sepoi berlarian lamban namun mengena, desing ombak di tengah dan pinggir pantai hingga tusukan dingin di pojok malam di lereng perbukitan.
Bersama rekanku, pada sebuah malam, perjalan kerinduan itu dimulai. Dikit demi sedikit, pusat perkotaan lenyap di balik batas-batas semak belukar. Itulah pengertian sederhana antara kota dan desa. Egoisme lakson kendaraan pun kian tak terdengar. Jalan yang kutempuh kian sunyi. Yang ada hanyalah bunyi binatang-binatang malam. Seakan-akan mereka memberi salam dan menerima kedatangan para tamu perkotaan. Sungguh indah. Gelap namun menerangkan. Sunyi namun berirama layaknya musik instrumen di pertengahan malam. Syahdu dan menentramkan hati dan pikiran.
Di sepanjang jalan, padi-padi bernyanyi sesuka hati. Sungguh merupakan kerinduan yang patut kusimpan. Semakin perjalanan menanjak naik, semakin kerinduan itu membentuk kepatutan pada yang Maha Indah atas segala ke Maha Digdayaannya.
Di ujung tanjakan dan lereng perbukitan itulah, aku bersama sahabatku duduk dan mampir sejenak di sebuah warung tak beratap. Sekali lagi, untuk kesekian kalinya, waktu menggiringku pada lukisan nyata tentang penghormatan masyarakat desa pada alam. Bagi mereka alam mahkluk Tuhan. Punya denyut nadi layaknya manusia. Perbedaannya cuman manusia memiliki denyut nadi yang bergerak cepat, sehingga bisa membentuk apa yang dibayangkan dan sekaligus merubah sesuai dengan segala keinginannya. Mereka tertawa ria tanpa beban. Aku pun belajar tentang mereka dan alam sekitarnya.
Terasa sudah cukup menziarahi sebuah desa di perbukitan Kaliurang itu, aku pun meninggal perbukitan tersebut dengan segudang catatan. Ziarah kerinduan itu pun kembali dilanjutkan menuju pantai Samas di Sanden Bantul Jogja.
Dengan menaiki sepeda motor, kami pun sampai di pinggiran pantai setelah melewati dua jam perjalanan. Di sana, tak ubahnya di lereng gunung atau perbukitan tadi. Angin malam berdatangan sembari mengucapkan selamat datang. Gelombang air laut saling berpelukan. Mereka tertawa riang sembari berlarian mencium bibir-bibir pantai. Mereka bahagia. Kebahagiaan itu adalah zikir. Pengakuan atas sang Pencipta. Bukan atas kedatanganku atau sahabatku. Sampai kapan pun ia selalu bergembira. Begitulah mereka, walaupun kegembiraan itu ada jauh setelah kehidupan itu sendiri.
Sekali lagi, kerinduan ini adalah pelajaran berharga. Laksana surat permohonan, niat awal penziarahan aku malam itu, dari bukit menuju pantai adalah sebuah permohonan yang tak utuh.
Ya, manusia adalah bagian dari alam. Sampai kapanpun. Namun bukankah dalam perjalanannya manusia tak segan-segan meninggalkan alam. Bahkan justru sebaliknya mengorek-ngorek tanpa hati-hati dan taat hukum.
Maka, malam itu, sebelum fajar menyingsing, aku berusaha mengakui kekeliruanku. Bukit dan pantai di sebuah desa berserta segala benda-benda yang ada di alam sana bukan lagi semata-mata sebagai tempat tumpahan kebisingan hari-hariku selama di kota. Ia (alam berserta isinya) tetap akan hidup, walaupun saya datang atau pun tidak datang. Karena itulah mereka dalam pengertian nan hakikian.
Benda-Benda di Alam ini Hidup dan Mewangi
Dalam hal ini, saya jadi teringat apa yang diungkapkan oleh Kahlil Gibran, seorang pujangga besar yang pernah hidup pada tahun 1883-1931, bahwasanya jika kamu menyuarakan kedalaman jiwamu dan mengarungi ketinggian angkasa, kau hanya akan mendengar sebuah melodi, dan di dalam melodi itu batu dan bintang bernyanyi, bersahut-sahutan, dan harmoni yang begitu sempurna.[2]
Apa yang dikatakan Kahlil terasa relevansinya untuk masyarakat Kota kini. Dimana semua benda-benda yang menjadi bagian integral dari alam itu memang hidup dan mewangi. Namun kota tetaplah berjalan dengan tingkat kesombongan rasionalitasnya. Padahal fakta sosial menunjukkan, rasionalitas yang diperjuangkan habis-habisan dalam masyarakat kota justru berakhir pada ketidakrasionalan itu sendiri (unrasionable).
Sobat, kalaupun ini tak juga memahamkanmu bahwa alam itu bernyawa. Aku berharap, layaknya waktu yang telah menggiringku ziarah alam pada malam itu, kamu pun sama, mudah-mudahan akan memperoleh hal itu.
Oleh: Jumardi Putra, Kutulis setelah main di sebuah Desa, tepatnya di lereng Gunung Merapi dan pinggir pantai Samas Sanden Yogyakarta, 1/10/09.
[1] Bahan diskusi bersama Komunitas Swarna Bhumi Yogyakarta, 3/10/09.
[2] Kahlil Gibran, Cinta, Keindahan dan Kesunyian (terjemahan), Bentang, Yogyakarta, 2001, hal: 241-242.