Mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, Selasa (20/5) pukul 18.30 waktu setempat atau pukul 17.30 WIB, meninggal dunia setelah dirawat selama sebulan di RS Gleneagles, Singapura. Ali Sadikin meninggal dalam usia 82 tahun. Jenazahnya akan dibawa pulang ke Jakarta, Rabu ini pukul 07.00 waktu Singapura.
Ali Sadikin, yang akrab dipanggil dengan Bang Ali, kembali ke Jakarta, kota yang pernah dipimpinnya dan akan melindungi jasadnya selamanya.
Boy Benardi Sadikin, putra Ali Sadikin, kepada wartawan di rumah duka, Jalan Borobudur Nomor 2, Jakarta Pusat, Selasa malam, menuturkan, jenazah akan disemayamkan di rumah duka, Rabu, dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta.
Menurut putra keempat almarhum, Benyamin Sadikin, Bang Ali menderita sakit sejak lama. ”Bapak dirawat selama sebulan di Singapura. Di sana didampingi kakak saya, Iwan, dan sekretaris Bapak,” katanya.
Benny menambahkan, pemakaman di Jakarta adalah sesuai pesan Bang Ali. ”Sesuai pesan Bapak, rencananya jenazah Bapak ditumpangkan di makam ibu saya, Nani Sadikin,” ujarnya.
Sanuji W, mantan pegawai di rumah Bang Ali, menambahkan, Bang Ali adalah orang yang tegas dan konsisten. Pemakamannya pun menjadi bukti konsistensi Bang Ali dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku.
”Pak Ali minta dimakamkan dengan cara ditumpangkan. Ia konsekuen dengan usulannya dahulu, yaitu mengingat lahan Jakarta semakin sempit, makam bisa ditumpangi,” kata Sanuji.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura Wardana menjelaskan, jenazah Bang Ali akan diterbangkan ke Jakarta, Rabu sekitar pukul 07.00 atau penerbangan pertama dari Singapura. Selama ini Bang Ali dirawat di RS Gleneagles karena sakit lever dan komplikasi sakit paru.
Arsip untuk Obituari kategori
Pemakaman Itu Bukti Konsistensi Bang Ali
Posted in Obituari on Mei 21, 2008 by joemardipoetraIN MEMORIAN
Posted in Obituari on Maret 10, 2008 by joemardipoetraRAKYAT KUASA DIBALIK KEPERGIANNYA
Oleh: Joemardi PoetraKepala suku KMPD (Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi) Yusri El-Kribo mengirim pesan singkat pada telepon genggam saya, “Akmal Yude meninggal dunia” (09/11/07). 17 hari kepergian tanpa keterangan yang bisa memberi sekedar titik terang (23/10/07). Masa penantian yang tentu saja masih dipenuhi bayang-bayang optimisme untuk selalu tetap bersamanya.
Cerita tentang lebaran di kampung halaman, mungkin menjadi pengandaian, yang sepertinya nikmat untuk kita dengarkan darinya. Romantisme tentang perubahan pun, akan menjadi semangat tersendiri dalam masa mengawang itu. Akan tetapi, Tuhan berkehendak lain, optimisme harus menyerah kalah pada takdir kuasa yang datang tanpa pernah disangka.
Akmal Yude tidak ada lagi di dunia ini. Saya tak tahu mengapa dia begitu cepat meninggalkan kita semua. Masih terlalu segar dalam ingatanku, ekspresi wajahnya yang memerah bila sedang bergurau dan mimik muka yang serius ketika sedang berdiskusi. Masih terngiang pula suaranya yang begitu khas dengan sesekali berdering. “Karena terlalu panjang mengeksplorasi tentang kapitalisme, teman obrolannya pun tertidur lelap ditengah keheningan malam, tanpa tahu apa kesimpulan dari diskusi tadi, melainkan diplomasi gagal.” Itulah sekelumit ceritaku tentang dia.
Jum’at (09/11.07) malam dia dijemput oleh Sang Maha Kuasa. Tubuhnya ditemui sudah kaku, dan tinggal dikebumikan. Pekerja-pekerja kuburan telah menimbuni dengan tanah merah. Kemudian bunga-bunga putih pun menemani gundukan tanah yang berbentuk peti panjang itu. Satu persatu orang meninggalnya. Orang-orang menangis, dan bersedih setelah itu kembali dalam kesehariannya. “Semua menangis, karena kepergiannya”. Tutur Kiki Ahmad ketika melihat satu gundukan tanah kaku yang tak pandai bercerita tentang dia di alam sana.
Ya Allah. Kau yang melahirkan dari perut seorang ibu, kau juga yang menentukan akhir kontrak hidup seorang anak manusia. Kami tak bisa menolaknya, walaupun rasa kekeluargaan yang telah terbentuk beberapa tahun lamanya membuat rasa kehilangan bergitu terasa.
Hanya ada satu kata yang mungkin membuat dia tersenyum di alam baka, bahwa ‘Rakyat Kuasa’ adalah harapan besar yang menjadi keniscayaan ditengah carut marutnya kondisi sosial masyarakat Ibu pertiwi.
Hidup, sudah pasti ditemani oleh kematian. dua pilihan yang sudah ditentukan. Akan tetapi, hidup akan lebih berarti ketika diisi oleh pekerjaan yang tidak hanya sebatas mengatakan kasihan ketika melihat ada penindasan, namun menolong sebagai bentuk ejawantah dari hati nurani kerakyatan.
Pramoedya Ananta Toer mengatakan hidup adalah melawan kesulitan. bahkan tanaman pun bila terhalang dari sinar matahari menjalar, berjuang untuk mendapatkannya. Hidup adalah penerbangan kematahari dan setiap orang adalah satu-satunya di dunia dan di sepanjang zaman.
Dia-ode, telah mengisi ruang kehidupan dengan lebih berarti. Berjuang atas nama rakyat adalah kecerdasan praksis semasa hidupnya (melakukan pendekatan terhadap materi sebagai kenyataan obyektif). Terbukti, di samping disibukkan dengan kegiatan sosial di FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia), pria kelahiran Sumenep, 17 September 1983 ini juga sibuk dengan kegiatan kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Semasa hidupnya, ada beberapa organisasi yang ia geluti, diantaranya: KMPD (Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi), LPM Arena, KOPMA, UKM Al-Mizan, dan JCM.
Ode-begitulah kami menyapa Akmal Yude, Sekred (Sekretaris redaksi) LPM Arena-wafat dalam usia yang cukup produktif, 24 tahun. Namun manusia tak bisa membuat keputusan ketika pilihan kematian menghampiri. Tak ada yang dapat menahan sedikitpun, apalagi menunggu cita-cita selepas masa study tercapai.
Ode telah pergi, tak bisa kembali lagi. Tinggallah kita berjalan mengarungi samudera kehidupan ke arah yang sering kali tidak pasti. Kepergiannya dido’akan oleh jutaan petani, buruh serta kaum miskin desa-kota, seperti apa yang selalu ia pesan pada kami semasa hidup.
Ode, pergilah dengan segala kebaikan yang telah kau tancapkan di bumi nusantara ini. Ibu pertiwi bersedih dan berdo’a, lantaran satu amunisi perubahan telah pergi menuju rumah abadi. Pergilah menemui Allah, sebab pastilah Allah tidak akan mengubah kebaikan menjadi keburukan.
Dengan puisi Chairil Anwar ini, kami hantar kepergianmu dengan tenang nan damai, walaupun rasa kehilangan tak kuasa kami tutupi dengan cara apapun. Berat memang, tetapi rakyat kuasa adalah impian bersama yang harus kita capai.
Bukan kematian benar yang menusuk kalbuKeridlaan menerima segala tiba…
Akhirnya, setiap orang pergi menemuinya, Allah Azza Wajalla. Selamat jalan kawan..! [14/11/07]
Cerita tentang lebaran di kampung halaman, mungkin menjadi pengandaian, yang sepertinya nikmat untuk kita dengarkan darinya. Romantisme tentang perubahan pun, akan menjadi semangat tersendiri dalam masa mengawang itu. Akan tetapi, Tuhan berkehendak lain, optimisme harus menyerah kalah pada takdir kuasa yang datang tanpa pernah disangka.
Akmal Yude tidak ada lagi di dunia ini. Saya tak tahu mengapa dia begitu cepat meninggalkan kita semua. Masih terlalu segar dalam ingatanku, ekspresi wajahnya yang memerah bila sedang bergurau dan mimik muka yang serius ketika sedang berdiskusi. Masih terngiang pula suaranya yang begitu khas dengan sesekali berdering. “Karena terlalu panjang mengeksplorasi tentang kapitalisme, teman obrolannya pun tertidur lelap ditengah keheningan malam, tanpa tahu apa kesimpulan dari diskusi tadi, melainkan diplomasi gagal.” Itulah sekelumit ceritaku tentang dia.
Jum’at (09/11.07) malam dia dijemput oleh Sang Maha Kuasa. Tubuhnya ditemui sudah kaku, dan tinggal dikebumikan. Pekerja-pekerja kuburan telah menimbuni dengan tanah merah. Kemudian bunga-bunga putih pun menemani gundukan tanah yang berbentuk peti panjang itu. Satu persatu orang meninggalnya. Orang-orang menangis, dan bersedih setelah itu kembali dalam kesehariannya. “Semua menangis, karena kepergiannya”. Tutur Kiki Ahmad ketika melihat satu gundukan tanah kaku yang tak pandai bercerita tentang dia di alam sana.
Ya Allah. Kau yang melahirkan dari perut seorang ibu, kau juga yang menentukan akhir kontrak hidup seorang anak manusia. Kami tak bisa menolaknya, walaupun rasa kekeluargaan yang telah terbentuk beberapa tahun lamanya membuat rasa kehilangan bergitu terasa.
Hanya ada satu kata yang mungkin membuat dia tersenyum di alam baka, bahwa ‘Rakyat Kuasa’ adalah harapan besar yang menjadi keniscayaan ditengah carut marutnya kondisi sosial masyarakat Ibu pertiwi.
Hidup, sudah pasti ditemani oleh kematian. dua pilihan yang sudah ditentukan. Akan tetapi, hidup akan lebih berarti ketika diisi oleh pekerjaan yang tidak hanya sebatas mengatakan kasihan ketika melihat ada penindasan, namun menolong sebagai bentuk ejawantah dari hati nurani kerakyatan.
Pramoedya Ananta Toer mengatakan hidup adalah melawan kesulitan. bahkan tanaman pun bila terhalang dari sinar matahari menjalar, berjuang untuk mendapatkannya. Hidup adalah penerbangan kematahari dan setiap orang adalah satu-satunya di dunia dan di sepanjang zaman.
Dia-ode, telah mengisi ruang kehidupan dengan lebih berarti. Berjuang atas nama rakyat adalah kecerdasan praksis semasa hidupnya (melakukan pendekatan terhadap materi sebagai kenyataan obyektif). Terbukti, di samping disibukkan dengan kegiatan sosial di FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia), pria kelahiran Sumenep, 17 September 1983 ini juga sibuk dengan kegiatan kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Semasa hidupnya, ada beberapa organisasi yang ia geluti, diantaranya: KMPD (Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi), LPM Arena, KOPMA, UKM Al-Mizan, dan JCM.
Ode-begitulah kami menyapa Akmal Yude, Sekred (Sekretaris redaksi) LPM Arena-wafat dalam usia yang cukup produktif, 24 tahun. Namun manusia tak bisa membuat keputusan ketika pilihan kematian menghampiri. Tak ada yang dapat menahan sedikitpun, apalagi menunggu cita-cita selepas masa study tercapai.
Ode telah pergi, tak bisa kembali lagi. Tinggallah kita berjalan mengarungi samudera kehidupan ke arah yang sering kali tidak pasti. Kepergiannya dido’akan oleh jutaan petani, buruh serta kaum miskin desa-kota, seperti apa yang selalu ia pesan pada kami semasa hidup.
Ode, pergilah dengan segala kebaikan yang telah kau tancapkan di bumi nusantara ini. Ibu pertiwi bersedih dan berdo’a, lantaran satu amunisi perubahan telah pergi menuju rumah abadi. Pergilah menemui Allah, sebab pastilah Allah tidak akan mengubah kebaikan menjadi keburukan.
Dengan puisi Chairil Anwar ini, kami hantar kepergianmu dengan tenang nan damai, walaupun rasa kehilangan tak kuasa kami tutupi dengan cara apapun. Berat memang, tetapi rakyat kuasa adalah impian bersama yang harus kita capai.
Bukan kematian benar yang menusuk kalbuKeridlaan menerima segala tiba…
Akhirnya, setiap orang pergi menemuinya, Allah Azza Wajalla. Selamat jalan kawan..! [14/11/07]
*Tulisan Ini dibuat untuk mengenang kepergian Pejuang Muda Indonesia, (alm) Akmal Yude

http://joemardipoetra.co.cc


copy script di bawah ini dan paste-kan di widget text/html blog Anda:

