
Senja yang Kabut
Senja di batas kota
Bukan lagi sebuah lagu
Tapi nyata senyatanya ada.
Di tengah bisingnya senja
Manusia ragawi tak ada lagi
berganti rupa menjadi seonggak roda
yang bergerak kemana dipinta.
Senja di batas kota
Tak lagi indah
Bising dan angkuh.
Senja di batas kota
dalam sebuah cerita
tentang hidup yang tak lagi hidup.
Senja di batas kota
Air, bumi dan udara
Disesaki oleh keangkuhan yang tak mau mengabdi.
Senja di batas kota
Di mana orang hanya memikirkan
bagaimana mengenyangkan perut.
Senja di batas kota
Tidak lagi dan tak akan pernah memikirkan
bagaimana memperjuangkan lian dari kekosongan perut
Senja di batas kota
Ketiadaan ruh dalam raga
……………..
Nyanyian Sunyi sang Lian
Ku ucapkan selamat datang pada kematian
Ku ucapkan selamat tinggal pada kehidupan
Di antar dua pilihan,
Masih banyak lian yang tidak tahu akan kedudukannya
Ini kah kehidupan yang tak berkehidupan
Atau kah ini sekumpulan manusia yang tidak berperikemanusiaan
Membuat lian sulit menentukan pilihan
Kecuali mati secara perlahan-lahan
Sadis, sungguh amat sadis
Di mana Pancasila yang katanya terbang kokoh mengitari nusantara
Di mana Indonesia yang katanya dibangun atas darah dan air mata bersama
Di mana penguasa yang aku amanahkan
Di mana semuanya????
Sehingga aku pun sulit mengabarkan
kehidupan semacam apa yang sedang aku jalani sekarang.
atau
Haruskah aku bertanya pada TPS dan kertas suara…
tentang alamat lengkap kehidupan yang lian.
seiring senja yang kian kabut
By; Joemardi Poetra
13-07-09.