Arsip untuk Puisi kategori

Kedatanganmu adalah Puisi

Posted in Puisi on Oktober 28, 2009 by joemardipoetra

Kawan,

Kedatangamu adalah puisi

Sebuah rangkaian anak kata-kata yang hidup dan nyata

Di dalam kenyataan selalu termuat harapan dan optimisme

Kawan,

Jabat tangan di antara Kita yang barusan saja

adalah muasal cita-cita yang bisa dipertanggungjawabkan

tentang hari depan kampung halaman masing-masing

Baca selebihnya »

Rendra: Tak Pernah Pergi

Posted in Puisi on Oktober 12, 2009 by joemardipoetra

Rendra tak pernah pergi.

Lihat gerak lajunya

meyakinkan dan penuh energi.

Menjinjing sesuatu yang diharapkan

berarti untuk negeri ini..

Ia telah berbuat untuk itu..

Lihat matanya, tajam penuh harap

memecah belah kabut gelap.

Sebuh pelajaran dan tuntunan bagi anak negeri..

Mas Willy, walaupun rasa kehilangan ini tak kuasa ditahan,

tapi itu adalah kado terindah buat orang semacammu,

agar kami paham bahwa sejarah memiliki generasi

dan semangat zamannya sendiri-sendiri.

(joemardipoetra/12/10)

rendra

Surat untuk Wakil Rakyat yang Baru

Posted in Puisi on Oktober 11, 2009 by joemardipoetra

Suratku untuk DPR yang Baru

Selamat datang di gedung kura-kura
Selamat datang dengan jas dan dasi kebeseranmu
Ingatlah
Apa yang kau janjikan sepanjang
masa kampanye waktu itu
Ayo..kini saatnya
Kerahkan pikiranmu..
Peraskan keringatmu..
Singsingkan bahumu
Eratkan ikat pinggangmu..
Bahu membahu
Dan awasi kantong dan dompetmu..
Tersenyumlah bila perlu
Tertawalah bila tepat waktu
Rakyat sedang termangu dan menunggu
Hasil jerih payahmu
Jangan pernah meminta penghormatan pada rakyatmu
Karena sejatinya kau adalah pembantu
Tapi janganlah khawatir dan ragu
niscaya kegigihanmu bakal berlaku
bagi hari depan yang cerah dan damai bagi anak cucumu
Itulah penghormatan bagimu
selagi di bawah atap langit dan di atas muka bumi ini
Ini bukan berarti menuntut
karena memang bukan lembaga penuntut
Sekedar sapaan cinta dan kembali mengingat
tentang apa dan tujuanmu menjadi wakil kami
Dari Sabang sampai Merauke..
Sekali lagi
Jangan kecewakan kami

jeomardipeotra, Gedungkuning, 30/9/9.

Baca selebihnya »

Menyatu dalam Lahir dan Batin

Posted in Puisi on September 20, 2009 by joemardipoetra

Barisan itu kokoh
jari jemari saling bertemu sapa
tubuh saling mendekap erat
tetes air mata berlinang bertalian
dalam hati yang longgar
Ucap salam dan kata maaf begitu indah
dilantunkan oleh sikap saling kasih
Di sebuah perkampungan..aku menemui hal itu
terpikir olehku
sangat tidak beralasan kematian
yang tak wajar selalu mengahantui negeri ini
Di lapisan paling bawah
mereka tampak satu..
melewati segala bentuk batas identitas
agama, ras dan warna kulit
menyatu dalam lahir dan batin..
indah, bak sebuah kabar tentang surga
yang tak bisa ditembus oleh mata
dan didengar oleh sepasang telinga
Ini nyata
dan ini pertanda..
aku, kami menjadi kita
adalah kekuatan
bukan kelemahan
bagi Indonesia

Baca selebihnya »

Aku di Zaman yang Mati

Posted in Puisi on Juli 31, 2009 by joemardipoetra

Kapitalisme telah menjadi kerajaan baru di luar Kerajaan Tuhan
Renaisanss dibangun oleh rasionalitas yang berujung pada ketidakrasionalan (unreasonableness)
Modernitas telah sedang dan akan terus menerjang tanpa batas

Aku
Tak kuasa lagi menolak apa-apa yang datang dari luar diriku

Aku tidak lagi otonom
Penuh ketergantungan
pada
Hasrat yang tanpa henti
Keinginan yang selalu kurang
Kelebihan yang tidak disyukuri

Aku tidak lagi takut pada Tuhanku
Sebuah keadaan yang telah menodai naluri beragamaku
Aku tidak lagi menjadi aku
tapi,
menjadi obyektifikasi hal-hal yang dianggap obyektif

Aku sudah tidak ada lagi
Jasad tanpa jiwa
mati…

Joemardi Poetra, 30 Juli 2009

Nyanyian Sunyi sang Lian

Posted in Puisi on Juli 14, 2009 by joemardipoetra

5730317-lg11

Senja yang Kabut

Senja di batas kota

Bukan lagi sebuah lagu

Tapi nyata senyatanya ada.

Di tengah bisingnya senja

Manusia ragawi tak ada lagi

berganti rupa menjadi seonggak roda

yang bergerak kemana dipinta.

Senja di batas kota

Tak lagi indah

Bising dan angkuh.

Senja di batas kota

dalam sebuah cerita

tentang hidup yang tak lagi hidup.

Senja di batas kota

Air, bumi dan udara

Disesaki oleh keangkuhan yang tak mau mengabdi.

Senja di batas kota

Di mana orang hanya memikirkan

bagaimana mengenyangkan perut.

Senja di batas kota

Tidak lagi dan tak akan pernah memikirkan

bagaimana memperjuangkan lian dari kekosongan perut

Senja di batas kota

Ketiadaan ruh dalam raga

……………..

Nyanyian Sunyi sang Lian

Ku ucapkan selamat datang pada kematian

Ku ucapkan selamat tinggal pada kehidupan

Di antar dua pilihan,

Masih banyak lian yang tidak tahu akan kedudukannya

Ini kah kehidupan yang tak berkehidupan

Atau kah ini sekumpulan manusia yang tidak berperikemanusiaan

Membuat lian sulit menentukan pilihan

Kecuali mati secara perlahan-lahan

Sadis, sungguh amat sadis

Di mana Pancasila yang katanya terbang kokoh mengitari nusantara

Di mana Indonesia yang katanya dibangun atas darah dan air mata bersama

Di mana penguasa yang aku amanahkan

Di mana semuanya????

Sehingga aku pun sulit mengabarkan

kehidupan semacam apa yang sedang aku jalani sekarang.

atau

Haruskah aku bertanya pada TPS dan kertas suara…

tentang alamat lengkap kehidupan yang lian.

seiring senja yang kian kabut

By; Joemardi Poetra

13-07-09.

  • Media Cetak

  • kompas
  • jawapos
  • mediaindonesia
  • gatra
  • Caping
  • Republika
  • KR
  • Sohib Blog’s

  • dedisyaputra
  • abdirrahman
  • Al-Mizan
  • Himasakti
  • LPM ARENA
  • Juparno Hatta
  • Rosyidi
  • KPJY
  • Yoenea
  • Komentar

    joemardipoetra di Malu Aku jadi orang Jambi,…
    susilo w di Malu Aku jadi orang Jambi,…
    joemardipoetra di Mari Menulis, Esai Sastra
    rista anggarani di Mari Menulis, Esai Sastra
    eka putra di Mari Menulis, Esai Sastra
    defri di Mari Menulis, Esai Sastra
    nursahid di TIPS-TIPS MEMBUAT KARYA TULIS …
    nursahid di TIPS-TIPS MEMBUAT KARYA TULIS …
    arifudin di Huruf-Huruf yang Hidup
    Agus Setiyawan di ETOS KERJA ADALAH JAMINAN
    ading di Huruf-Huruf yang Hidup
    Sugeng Riyadi Syamsu… di Bersatulah Mahasiswa Jambi…
    hendra di DUSUN EMPELU MILIKI RUMAH BACA…
    tutikurnia di Mari Menulis, Esai Sastra
    Ono Gosip di Prita