” Kawan. Simpanlah sesuatu ini sebagai kebanggaan pribadi. Karena memang itu bukan untuk diperdagangkan. Bukan untuk diceritakan ke muka umum. Walaupun toh diketahui, itu hanya persoalan keteingsut dalam sebuah zaman yang kita tak bakal tahu kapan hal itu terjadi..”
” Ketuhanan yang Maha Esa..itu telah longsor..membelah jiwa dan menemui seluk-beluk ego yang dangkal..kemanusiaan yang
adil dan beradab hanya untaian tahlil yang kosong dan tidak membuat ‘Mustad’afin’ naik kelas menuju taraf hidup yang a…gak lebih dari sebelumnya..Sila berikutnya..silahkan diteruskan oleh siapa saja..karena ini adalah undang-undang kehidupan negara indonesia..”
” Aku melihat dagu yang termangu itu masih menaruh harap..matanya melotot kosong.namun diam-diam juga berharap..badan kurus itu juga lunglai di bawah pohon nan rindang.aku berhenti dan bertanya..dia lansung menjawab: aku belum makan..kilahku di sanubari….seketika..dia ingin hidup, sebagai penghargaan atas titipan Ilahi.entah kenapa penghargaanya di tengah ketidakpunyaan tak juga di dengar manusia berpunya..”
” Kenapa terlalu banyak orang berandai..kenapa terlalu sedikit mengatakan begini saja dan ayo dilakukan..”
” Semua telah terjadi..tersadarkan..bumi yang kita injak menyimpan bahaya yang harus dikenal dengan baik hati..”
” Serumpun harap aku tanam dalam-dalam. Menyibak celah hari esok.. Tunggang langgang adalah laku yang harus ditempuh Kendati tertatih-tatih. Selamat jalan sore..aku bakal menjemput malam. Esok kita kembali bersua. Pada titik yang sama sebuah ruang harapan..”
” Memori itu kian terurai panjang
Sampai aku tak kuasa lagi membatasi
Panjang dan sungguh banyak pernah-pernik di dalamnya
Hari-hari yang lewat adalah gundukan peristiwa istimewa
Keindahan dan kesedihan adalah pinanda
bahwa aku masih hidup di bawah atap langit.”
joemardipoetra
05/10/09

http://joemardipoetra.co.cc


copy script di bawah ini dan paste-kan di widget text/html blog Anda:

