Celekop

PEMILU dalam Rekaman Kata

Abdurrahman Wahid menilai demokrasi kian buruk di negeri ini
Goenawan Mohamad berujar pemilu saat ini adalah karnaval tanpa visi
Sajipto Rahardjo mengatakan, santun dulu, baru berpolitik
Syafi’i Ma’arif menilai saat ini adalah zaman penyusu dan generasi penumpang
Komarudin Hidayat berujar politikus Indonesia rabun ayam
Yudi Latif mengatakan perlunya membangun politik harapan,
menebarkan kebahagiaan dan jauh dari hingar bingar laku koalisi tunanilai
Eef Syafullah Patah mengatakan, memaksa pemilih untuk golput adalah dosa besar
Ifdal Kasim mengatakan hak-hak warga Negara dalam pemilu ini terabaikan
Faisal Bisri menilai kinerja SBY-JK jauh dari target
Ibaratkan pohon di hutan, tetap hidup dengan sorotan matahari dan guyuran hujan.
Anis Baswedan menilai pemilih yang pragmatis hanya mengambil jalan aman untuk kembali ke SBY, ketimbang memberi kesempatan pada calon pemimpin lainnya
Pendeknya, pemilu kali ini terburuk
dibanding dengan pemilu-pemilu sebelumnya.

Hal Lian yang Terabaikan

Politik Busuk
Politik ajang cari kerja
Politik adalah laku para preman berdasi
Politik adalah laku memuaskan perut ketimbang ketenangan jiwa

Oh Pemilu…

Pemilu digelar
Penggusuran pun terus menyebar
Pemutusan kerja meluas
Kemiskinan menuntut
Kekayaan pun meningkat

Oleh: Joemardi Poetra, 9-5-09.

4 Tanggapan ke “Celekop”

  1. iswanto (oechil) Berkata

    kadang kita merasa repot memikirkan calon pemimpin yang selalu berebut kekuasaan ,,
    akankah mereka memikirkan nasib rakyatnya ??
    bila kelak kita ditakdirkan Allah SWT menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang bijak merasa apa yang rakyat rasa ,,

  2. Dunia wajib dikaji karena dunia memang tempat kita mengkaji. Iqra. Allah memerintahkan kita untuk iqra, membaca. Mereka yang hanya bicara tanpa bekerja hanyalah bagian dari dunia yang tak mampu berbuat apa-apa ketika manusia berlaku seenak hati padanya.

  3. curhat dari Desa, tentang perpustakaan.

    Tidak semudah yang kau kira, begitulah cerita nyata yang aku rasakan selama di lapangan, rumah baca pintar yang diperkirakan akan melesat cepat untuk kemudian dipegang oleh para pemuda setempat ternyata menemui jalan terjal, pasalnya, sikap enggan merebak di pusat kesadaran mereka. Dengan alas an, masyarakat setempat tidak mau menyediakan waktu luang untuk membaca buku, seperti yang di idam-idamkan oleh kami tentang pentingnya perpustakaan Rumah Baca Pintar. Sebenarnya, pekerjaan meningkatkan kepercayaan masyarakat agar gemar membaca membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Artinya, merintis sesuatu yang berbau idealisme adalah tidak mudah dan membutuhkan kerja ekstra dan sabar tentunya.
    Namun setelah di runtun-runtun, kita segera menyadari kenapa ketidaksadaran mereka belum juga pudar, karena faktor kondisi makro kebangsan kita yang silang sengkurat.

  4. Terenyuh,
    Mendengar cerita
    Tentang para pemuda abad modern
    yang merendahkan derajat para petani.
    Kata mereka, perguruan tinggi
    Harus mencetak para sarjana kursi
    Bukan sarjana cangkul, arit, dan sarjana rakyat lainnya
    Beginikah kita…

Tinggalkan Balasan

  • Media Cetak

  • kompas
  • jawapos
  • mediaindonesia
  • gatra
  • Caping
  • Republika
  • KR
  • Sohib Blog’s

  • dedisyaputra
  • abdirrahman
  • Al-Mizan
  • Himasakti
  • LPM ARENA
  • Juparno Hatta
  • Rosyidi
  • KPJY
  • Yoenea
  • Komentar

    joemardipoetra di Malu Aku jadi orang Jambi,…
    susilo w di Malu Aku jadi orang Jambi,…
    joemardipoetra di Mari Menulis, Esai Sastra
    rista anggarani di Mari Menulis, Esai Sastra
    eka putra di Mari Menulis, Esai Sastra
    defri di Mari Menulis, Esai Sastra
    nursahid di TIPS-TIPS MEMBUAT KARYA TULIS …
    nursahid di TIPS-TIPS MEMBUAT KARYA TULIS …
    arifudin di Huruf-Huruf yang Hidup
    Agus Setiyawan di ETOS KERJA ADALAH JAMINAN
    ading di Huruf-Huruf yang Hidup
    Sugeng Riyadi Syamsu… di Bersatulah Mahasiswa Jambi…
    hendra di DUSUN EMPELU MILIKI RUMAH BACA…
    tutikurnia di Mari Menulis, Esai Sastra
    Ono Gosip di Prita