Celekop
PEMILU dalam Rekaman Kata
Abdurrahman Wahid menilai demokrasi kian buruk di negeri ini
Goenawan Mohamad berujar pemilu saat ini adalah karnaval tanpa visi
Sajipto Rahardjo mengatakan, santun dulu, baru berpolitik
Syafi’i Ma’arif menilai saat ini adalah zaman penyusu dan generasi penumpang
Komarudin Hidayat berujar politikus Indonesia rabun ayam
Yudi Latif mengatakan perlunya membangun politik harapan,
menebarkan kebahagiaan dan jauh dari hingar bingar laku koalisi tunanilai
Eef Syafullah Patah mengatakan, memaksa pemilih untuk golput adalah dosa besar
Ifdal Kasim mengatakan hak-hak warga Negara dalam pemilu ini terabaikan
Faisal Bisri menilai kinerja SBY-JK jauh dari target
Ibaratkan pohon di hutan, tetap hidup dengan sorotan matahari dan guyuran hujan.
Anis Baswedan menilai pemilih yang pragmatis hanya mengambil jalan aman untuk kembali ke SBY, ketimbang memberi kesempatan pada calon pemimpin lainnya
Pendeknya, pemilu kali ini terburuk
dibanding dengan pemilu-pemilu sebelumnya.
Hal Lian yang Terabaikan
Politik Busuk
Politik ajang cari kerja
Politik adalah laku para preman berdasi
Politik adalah laku memuaskan perut ketimbang ketenangan jiwa
Oh Pemilu…
Pemilu digelar
Penggusuran pun terus menyebar
Pemutusan kerja meluas
Kemiskinan menuntut
Kekayaan pun meningkat
Oleh: Joemardi Poetra, 9-5-09.

http://joemardipoetra.co.cc


copy script di bawah ini dan paste-kan di widget text/html blog Anda:


September 20, 2008 pada 3:48 am
kadang kita merasa repot memikirkan calon pemimpin yang selalu berebut kekuasaan ,,
akankah mereka memikirkan nasib rakyatnya ??
bila kelak kita ditakdirkan Allah SWT menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang bijak merasa apa yang rakyat rasa ,,
September 20, 2008 pada 4:58 am
Dunia wajib dikaji karena dunia memang tempat kita mengkaji. Iqra. Allah memerintahkan kita untuk iqra, membaca. Mereka yang hanya bicara tanpa bekerja hanyalah bagian dari dunia yang tak mampu berbuat apa-apa ketika manusia berlaku seenak hati padanya.
September 25, 2008 pada 5:07 am
curhat dari Desa, tentang perpustakaan.
Tidak semudah yang kau kira, begitulah cerita nyata yang aku rasakan selama di lapangan, rumah baca pintar yang diperkirakan akan melesat cepat untuk kemudian dipegang oleh para pemuda setempat ternyata menemui jalan terjal, pasalnya, sikap enggan merebak di pusat kesadaran mereka. Dengan alas an, masyarakat setempat tidak mau menyediakan waktu luang untuk membaca buku, seperti yang di idam-idamkan oleh kami tentang pentingnya perpustakaan Rumah Baca Pintar. Sebenarnya, pekerjaan meningkatkan kepercayaan masyarakat agar gemar membaca membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Artinya, merintis sesuatu yang berbau idealisme adalah tidak mudah dan membutuhkan kerja ekstra dan sabar tentunya.
Namun setelah di runtun-runtun, kita segera menyadari kenapa ketidaksadaran mereka belum juga pudar, karena faktor kondisi makro kebangsan kita yang silang sengkurat.
Mei 26, 2009 pada 4:01 am
Terenyuh,
Mendengar cerita
Tentang para pemuda abad modern
yang merendahkan derajat para petani.
Kata mereka, perguruan tinggi
Harus mencetak para sarjana kursi
Bukan sarjana cangkul, arit, dan sarjana rakyat lainnya
Beginikah kita…