<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>awal mulanya kata</title>
	<atom:link href="http://joemardipoetra.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://joemardipoetra.wordpress.com</link>
	<description>...menulis itu mencari pijakan di atas bumi...</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Nov 2009 12:04:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='joemardipoetra.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/030f152ffefc6488a3472d94c73fef85?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>awal mulanya kata</title>
		<link>http://joemardipoetra.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Desa, Alam dan Kota</title>
		<link>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/11/04/desa-alam-dan-kota/</link>
		<comments>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/11/04/desa-alam-dan-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 12:04:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joemardipoetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://joemardipoetra.wordpress.com/?p=1335</guid>
		<description><![CDATA[ 
kalaupun ini tak juga memahamkanmu bahwa alam itu bernyawa. 
Aku berharap, layaknya waktu yang telah menggiringku ziarah alam pada malam itu, 
kamu pun sama, mudah-mudahan akan memperoleh hal itu.
&#160;
 
Sejarah Kota adalah Sejarah Penggemukan Perut
Kota adalah kemajuan dan kemunduran itu sendiri. Di balik cerita sukses pemutaakhiran tekonologi, ia juga menyimpan cerita iba tentang menikmati [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1335&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong> </strong></p>
<p><em>kalaupun ini tak juga memahamkanmu bahwa alam itu bernyawa. </em></p>
<p><em>Aku berharap, layaknya waktu yang telah menggiringku ziarah alam pada malam itu, </em></p>
<p><em>kamu pun sama, mudah-mudahan akan memperoleh hal itu.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sejarah Kota adalah Sejarah Penggemukan Perut</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kota adalah kemajuan dan kemunduran itu sendiri. Di balik cerita sukses pemutaakhiran tekonologi, ia juga menyimpan cerita iba tentang menikmati udara bersih adalah keinginan yang berlebihan. Ego pengendara roda bermesin memekik keras. Memecah kebisingan dari pagi hingga petang. Lalu lalang kendaraan membuat pemandangan sekujur tubuh jalan gemuk tak berbentuk. Semua bergeliat atas segala macam kepentingan. Waktu adalah uang. Begitulah falsafah msyarakat kota/modern. Sekali tertidur lelap, banyak kesempatan dibiarkan pergi begitu saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendek kata, sejarah kota adalah sejarah penggemukan perut. Walaupun jama’ diketahui, bahwa sejarah kota juga sejarah pengosongan perut bagi sebagian kelompok subordinat, tetapi tetap saja membuat ia tak bergeming sedikitpun. Bagi mereka kota adalah tempat mereka yang berkuasa, selebih itu silahkan nikmati sekarung akibatnya. Yakni, penindasan dan pemiskinan secara paksa (baik lansung maupun tidak lansung). Sehingga kemiskinan pun menjadi ibu dari segala bentuk kejahatan. Karena kondisi jiwa terganggu total. Sungguh rentan. Tapi itu adalah kenyataan yang tak bisa ditampik. Bahkan dengan kacamata hati yang paling dalam, wajah keberpuraan kita pun telah ditampar keras oleh sejarah kota itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Entahlah, yang jelas, hemat saya denyut nadi kehidupan kota menunjukkan irama serampangan. Terasa pecah gendang telinga kalau hal ini terus saja terjadi di kota. Bagi saya, kini kota sudah kusam, gelap dan menjenuhkan. Sudah barang tentu ini adalah jawaban yang bisa diperdebatkan kevalidannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span id="more-1335"></span>Menziarahi Alam dan Benda-Bendanya</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di tengah situasi sumpek semacam ini, sebagai anak manusia yang pernah melewati satu masa di mana besar bersama nyanyian riang anak-anak pantai ketika berlomba membangun istana dari pasir, gelak tawa warga desa pesisiran atau laku <em>bebarengan</em> warga di lereng-lereng bukit atau pegunungan, adalah kerinduan yang selalu meminta kepadaku untuk berusaha membuka perlahan-lahan lembaran sejarah sebelum adanya kota. Yakni tentang sebuah desa yang indah dan permai. Menghargai alam sebagai makhluk Tuhan yang bernyawa. Sekali lagi, pelajaran luhur ini telah usang dalam sejarah perjalanan kota. Singkat kata, nyiur di tepi pantai adalah lagu masa lalu yang tak lagi berarti bagi masyarakat kota.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, sejarah kota adalah sejarah campur baur dari bermacam latar belakang orang, dan  revolusi di bidang teknologi merubah itu semua. Begitulah kota dengan segala kemudahan dan kekurangannya. Pendek kata, ia peradaban yang tak sepenuhnya utuh. Paradok dan ambivalens.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sebuah Permohonan yang Tak utuh</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Merindukan masa lalu adalah awal mulanya ziarah ekologisku beberapa hari terakhir ini. Akhir pekan, sejenak aku melepas semua pekerjaan dan kepentingan setelah sebelumnya bekerja satu minggu full. Aku pun memutuskan untuk menziarahi kerinduan itu. Kerinduan tentang burung-burung yang berkicau ramai, angin sepoi-sepoi berlarian lamban namun mengena, desing ombak di tengah dan pinggir pantai hingga tusukan dingin di pojok malam di lereng perbukitan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bersama rekanku, pada sebuah malam, perjalan kerinduan itu dimulai. Dikit demi sedikit, pusat perkotaan lenyap di balik batas-batas semak belukar. Itulah pengertian sederhana antara kota dan desa. Egoisme lakson kendaraan pun kian tak terdengar. Jalan yang kutempuh kian sunyi. Yang ada hanyalah bunyi binatang-binatang malam. Seakan-akan mereka memberi salam dan menerima kedatangan para tamu perkotaan. Sungguh indah. Gelap namun menerangkan. Sunyi namun berirama layaknya musik instrumen di pertengahan malam. Syahdu dan menentramkan hati dan pikiran.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sepanjang jalan, padi-padi bernyanyi sesuka hati. Sungguh merupakan kerinduan yang patut kusimpan. Semakin perjalanan menanjak naik, semakin kerinduan itu membentuk kepatutan pada yang Maha Indah atas segala ke Maha Digdayaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di ujung tanjakan dan lereng perbukitan itulah, aku bersama sahabatku duduk dan mampir sejenak di sebuah warung tak beratap. Sekali lagi, untuk kesekian kalinya, waktu menggiringku pada lukisan nyata tentang penghormatan masyarakat desa pada alam. Bagi mereka alam mahkluk Tuhan. Punya denyut nadi layaknya manusia. Perbedaannya cuman manusia memiliki denyut nadi yang bergerak cepat, sehingga bisa membentuk apa yang dibayangkan dan sekaligus merubah sesuai dengan segala keinginannya. Mereka tertawa ria tanpa beban. Aku pun belajar tentang mereka dan alam sekitarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Terasa sudah cukup menziarahi sebuah desa di perbukitan Kaliurang itu, aku pun meninggal perbukitan tersebut dengan segudang catatan. Ziarah kerinduan itu pun kembali dilanjutkan menuju pantai Samas di Sanden Bantul Jogja.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menaiki sepeda motor, kami pun sampai di  pinggiran pantai setelah melewati dua jam perjalanan. Di sana, tak ubahnya di lereng gunung atau perbukitan tadi. Angin malam berdatangan sembari mengucapkan selamat datang. Gelombang air laut saling berpelukan. Mereka tertawa riang sembari berlarian mencium bibir-bibir pantai. Mereka bahagia. Kebahagiaan itu adalah zikir. Pengakuan atas sang Pencipta. Bukan atas kedatanganku atau sahabatku. Sampai kapan pun ia selalu bergembira. Begitulah mereka, walaupun kegembiraan itu ada jauh setelah kehidupan itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi, kerinduan ini adalah pelajaran berharga. Laksana surat permohonan, niat awal penziarahan aku malam itu, dari bukit menuju pantai adalah sebuah permohonan yang tak utuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, manusia adalah bagian dari alam. Sampai kapanpun. Namun bukankah dalam perjalanannya manusia tak segan-segan meninggalkan alam. Bahkan justru sebaliknya mengorek-ngorek tanpa hati-hati dan taat hukum.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, malam itu, sebelum fajar menyingsing, aku berusaha mengakui kekeliruanku. Bukit dan pantai di sebuah desa berserta segala benda-benda yang ada di alam sana bukan lagi semata-mata sebagai tempat tumpahan kebisingan hari-hariku selama di kota. Ia (alam berserta isinya) tetap akan hidup, walaupun saya datang atau pun tidak datang. Karena itulah mereka dalam pengertian nan hakikian.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Benda-Benda di Alam ini Hidup dan Mewangi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal ini, saya jadi teringat apa yang diungkapkan oleh Kahlil Gibran, seorang pujangga besar yang pernah hidup pada tahun 1883-1931, bahwasanya jika kamu menyuarakan kedalaman jiwamu dan mengarungi ketinggian angkasa, kau hanya akan mendengar sebuah melodi, dan di dalam melodi itu batu dan bintang bernyanyi, bersahut-sahutan, dan harmoni yang begitu sempurna.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang dikatakan Kahlil terasa relevansinya untuk masyarakat Kota kini. Dimana semua benda-benda yang menjadi bagian integral dari alam itu memang hidup dan mewangi. Namun kota tetaplah berjalan dengan tingkat kesombongan rasionalitasnya. Padahal fakta sosial menunjukkan, rasionalitas yang diperjuangkan habis-habisan dalam masyarakat kota justru berakhir pada ketidakrasionalan itu sendiri <em>(unrasionable)</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Sobat, kalaupun ini tak juga memahamkanmu bahwa alam itu bernyawa. Aku berharap, layaknya waktu yang telah menggiringku ziarah alam pada malam itu, kamu pun sama, mudah-mudahan akan memperoleh hal itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Oleh: Jumardi Putra, Kutulis <em>setelah main di sebuah Desa, tepatnya di lereng Gunung Merapi dan pinggir pantai Samas Sanden Yogyakarta, 1/10</em><em>/09. </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Bahan diskusi bersama Komunitas Swarna Bhumi Yogyakarta, 3/10/09.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref2"></a> [2] Kahlil Gibran, <em>Cinta, Keindahan </em>dan <em>Kesunyian</em> (terjemahan), Bentang, Yogyakarta, 2001, hal: 241-242.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/joemardipoetra.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/joemardipoetra.wordpress.com/1335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/joemardipoetra.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/joemardipoetra.wordpress.com/1335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/joemardipoetra.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/joemardipoetra.wordpress.com/1335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/joemardipoetra.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/joemardipoetra.wordpress.com/1335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/joemardipoetra.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/joemardipoetra.wordpress.com/1335/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1335&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/11/04/desa-alam-dan-kota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/410956508a20cb9c97d98aaf8cadd1c0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">joemardipoetra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Malu Aku jadi orang Jambi, Bila…,</title>
		<link>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/10/29/malu-aku-jadi-orang-jambi-bila%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/10/29/malu-aku-jadi-orang-jambi-bila%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 07:04:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joemardipoetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://joemardipoetra.wordpress.com/?p=1324</guid>
		<description><![CDATA[Saatnya Kita Bangkit Bersama
Pelajaran yang harus diambil dari sejarah terbentuknya negeri ini adalah bagaimana mengorganisasikan ide-ide luhur tentang kemerdekaan. Artinya, dari banyak organisasi pada masa pra kemerdekaan, seperti Jong Java, Jong Sumatra, dan Jong yang lain-lain adalah realisasi dari kehendak bersama tentang idealnya negara-bangsa.
Masih segar dalam ingatan, bagaimana butir-butir Sumpah Pemuda. Hal itu adalah pinanda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1324&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Saatnya Kita Bangkit Bersama</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pelajaran yang harus diambil dari sejarah terbentuknya negeri ini adalah bagaimana mengorganisasikan ide-ide luhur tentang kemerdekaan. Artinya, dari banyak organisasi pada masa pra kemerdekaan, seperti Jong Java, Jong Sumatra, dan Jong yang lain-lain adalah realisasi dari kehendak bersama tentang idealnya negara-bangsa.</p>
<p style="text-align:justify;">Masih segar dalam ingatan, bagaimana butir-butir Sumpah Pemuda. Hal itu adalah pinanda ada kehendak merdeka dari segala macam bentuk penindasan saat itu. Mulanya adalah kesamaan bahasa, persatuan dan tujuan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1324"></span>Senada hal itu, begitulah yang diharapkan dengan mahasiswa Jambi Yogyakarta dengan segala macam komunitas sosialnya. Sebagaimana diketahui bersama, Jambi adalah provinsi yang memiliki sebelas kabupaten. Sebut saja ada kabupaten Bungo, Kerinci, Batanghari, Tebo, Muaro Jambi, Bangko, Sarolangun, Tungkal, dan masih banyak yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kenyataan ini sebenarnya adalah modal berharga apabila bersatu dalam ide maupun tindakan. Perpaduan dan tata kelola yang baik antara Sumberdaya Daya Alam dengan Sumber Daya Manusia adalah keniscayaan untuk menuju tarap kehidupan yang lebih baik bagi Jambi ke depan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mari lihat, di peta nasional, apa yang tampak dari Jambi. Padahal diketahui, otonomi daerah memberi kesempatan lebih leluasa bagi masing-masing daerah untuk memberdayakan sekaligus mengembangkan potensi-potensi daerahnya. Sebut saja, kesempatan mengenyam pendidikan formal belum merata, apalagi kualitasnya belum menjanjikan, kesehatan mahal, keamanan masih jadi masalah, karena tingginya angka kriminal.</p>
<p style="text-align:justify;">Di samping itu, kehidupan orang rimba terancam punah, lantaran hutan segar dieksploitasi secara membabi-buta oleh oknum-oknum tertentu. Begitu juga dengan harga karet dan sawit turun drastis. Sejurus dengan itu, beberapa orang pejabat Jambi disandera Komisi Pemberantasan Korupsi.</p>
<p style="text-align:justify;">Ini mewartakan, masyarakat kita sedang pusing tujuh keliling. Padahal jadi rahasia umum, masyarakat Jambi terhitung masyarakat yang giat bekerja.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Diam Tak Lagi Emas</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kondisi semacam ini adalah basis pembenaran bahwa saatnya kita memosisikan diri sebagai panjang tangan masyarakat. Segala pentuk penyimpangan yang terjadi di Jambi harus disikapi secara kritis. Itulah tugas kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Bukan sebuah persoalan, jika kita semua masih di Jogja atau di mana pun berada (luar-dalam Jambi), karena jarak antara pulau Jawa, Sumtara, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya sudah ada solusi. Kini telah ada fasilitas komunikasi yang bisa mengantarkan masukan-masukan kita terhadap perbaikan Jambi. Niscaya, seiring waktu, kerja keras bersama akan ada hasilnya. Yakinlah, karena tidak ada pekerjaan yang menafikan hasil. Sekeras apapun batu bakal bisa berlobang kalau terus-terusan terkena pukulan air.<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di tengah genangan persoalan ini, relevan apa yang diungkapkan oleh Pram oedya Ananta Toer, siapa yang bakal memulai kalau bukan kalian, pemuda. Dalam hal ini, haruskah pemuda diam, dengan berasumsi diam adalah emas. Kiranya diam adalah bahasa yang justru mengesahkan segala tindak tanduk keliru itu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Merumuskan Paradigma Baru</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal ini, perlunya merumuskan cara pandang baru dalam diri atau kelompok sosial mahasiswa Jambi Yogyakarta (ex; KPJY dan Komunitas Swarnabhumi). Baik secara visi-misi atau pun program-program kerja, bahwa perubahan yang diimpikan harus datang dari kondisi realitas yang terjadi. Artinyo, butuh perencanaan jangka pendek, menengah maupun jangka panjang yang matang untuk menuju cita-cita bersama.</p>
<p style="text-align:justify;">Hemat saya, paradigmanya adalah memosisikan kepentingan daerah sebagai bagian kepentingan tertinggi dari mewujudkan Negara Indonesia yang merdeka dalam pengertian yang sesungguhnya. Mandiri secara ekonomi, berdaulat secara politik dan berdikari secara prinsip dan berdemokrasi dalam setiap laku kehidupan. Tak ketinggalan berbudaya dalam berkeseharian. Pendek kata, apa pun persoalan yang sedang melilit di daerah harus ada upaya monitoring dari seluruh selemn masyarakat Jambi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita ketahui bersama, pemerintah Jambi masih bercorak feodal. Artinya, Pemerintah masih enggan menerima masukan dari masyarakat. Kritik dianggap dosa besar yang harus dijauhi, sementara demonstrasi (sebagai bagian dari praktik demokrasi) dianggap asal muasal lahirnya anarkhisme yang dangkal.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bahasa lain, pemerintah lebih senang ngurusin masyarakat yang bodoh, karena dinilai tidak mengganggu stabilitas. Di samping itu, pemerintahan yang berjalan saat ini tanpa ada perpaduan yang kuat dengan masyarakat. Masyarakat terlihat jalan sendiri, pemerintah juga jalan sendiri. Akhirnya, wajar jika perubahan tidak dirasakan oleh lapisan akar rumput <em>(grass root)</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya, kenikmatan bernegara dengan segala macam fasilitasnya hanya dimiliki oleh mereka yang sedang duduk di kursi kekuasaan. Sedangkan masyarakat akar rumput masih berjibaku dengan keringat mempertahankan hidup.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Meruntuhkan Egoisme Kekanak-kanaan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Selama ini, saya melihat jika sebagian pelajar Jambi (di jogja) enggan meluangkan waktu untuk berorganisasi, apalagi kalau program-program kerja organisasi dianggap melelahkan. Mereka lebih suka main-main dan hura-hura. Sudah saatnya egoisme individu dibumihanguskan, dan membangun tali kesepahaman baru bahwa kita adalah agen-agen masyarakat Jambi. Jadi, apa salahnya meluangkan sebagian waktu untuk membicarakan dan mencari solusi terhadap persoalan-persoalan yang sedang melilit Jambi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Merebut Ruang Ingatan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sejarah berdirinya republik ini, pemuda adalah kelas sosial yang selalu berdiri di garis depan untuk memikirkan masa depan yang lebih baik. Tidak ada kata menyerah dan tunduk pada kondisi yang sudah ada saat ini. Puncak dari segala bentuk perjuangan adalah menuju pintu gerbang kemerdekaan. Buktinya, pada tahun 1928, 1945 dan 1998 adalah catatan emas bagi kaum muda, karena berhasil membawa perubahan di negeri ini. Meminjam <em>idiom</em> dalam film si Jago Merah; pantang pulang sebelum api padam.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhir kata, kepada seluruh mahasiswa Jambi se-Indonesia, termasuk kami pribadi, mari kita bersama bersatu dalam ide. Walaupun pulau memisahkan, tapi tujuan tetap kita pegang dan jalankan.</p>
<p style="text-align:justify;">Adalah hal yang luar biasa apabila segala potensi seluruh pemuda Jambi menyatu dalam satu kehendak bersama. Sudah barang tentu akan ada perubahan fundamental di Jambi.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, patut malu aku jadi orang Jambi, bila tidak meluangkan sebagian waktu untuk menziarahi Tanah Jambi dengan segala persoalannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh:Jumardi Putra, Pegiat Komunitas Swarna Bhumi Yogyakarta, 21 Oktober 2009.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/joemardipoetra.wordpress.com/1324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/joemardipoetra.wordpress.com/1324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/joemardipoetra.wordpress.com/1324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/joemardipoetra.wordpress.com/1324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/joemardipoetra.wordpress.com/1324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/joemardipoetra.wordpress.com/1324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/joemardipoetra.wordpress.com/1324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/joemardipoetra.wordpress.com/1324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/joemardipoetra.wordpress.com/1324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/joemardipoetra.wordpress.com/1324/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1324&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/10/29/malu-aku-jadi-orang-jambi-bila%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/410956508a20cb9c97d98aaf8cadd1c0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">joemardipoetra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kedatanganmu adalah Puisi</title>
		<link>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/10/28/kedatanganmu-adalah-puisi/</link>
		<comments>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/10/28/kedatanganmu-adalah-puisi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 06:37:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joemardipoetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://joemardipoetra.wordpress.com/?p=1313</guid>
		<description><![CDATA[Kawan,
Kedatangamu adalah puisi
Sebuah rangkaian anak kata-kata yang hidup dan nyata
Di dalam kenyataan selalu termuat harapan dan optimisme
Kawan,
Jabat tangan di antara Kita yang barusan saja
adalah muasal cita-cita yang bisa dipertanggungjawabkan
tentang hari depan kampung halaman masing-masing
Kawan, kini
Bahwa aku sebagai diri sekaligus Kita
Menyatu dalam kebersamaan.
Kebersamaan adalah perahu
Ia bakal menemani pengembaraan
Menahan sapaan badai dan angin malam
hingga selamat hingga ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1313&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kawan,</p>
<p>Kedatangamu adalah puisi</p>
<p>Sebuah rangkaian anak kata-kata yang hidup dan nyata</p>
<p>Di dalam kenyataan selalu termuat harapan dan optimisme</p>
<p>Kawan,</p>
<p>Jabat tangan di antara Kita yang barusan saja</p>
<p>adalah muasal cita-cita yang bisa dipertanggungjawabkan</p>
<p>tentang hari depan kampung halaman masing-masing</p>
<p><span id="more-1313"></span>Kawan, kini</p>
<p>Bahwa aku sebagai diri sekaligus Kita</p>
<p>Menyatu dalam kebersamaan.</p>
<p>Kebersamaan adalah perahu</p>
<p>Ia bakal menemani pengembaraan</p>
<p>Menahan sapaan badai dan angin malam</p>
<p>hingga selamat hingga ke bibir pantai</p>
<p>Kawan,</p>
<p>kedatanganmu adalah warta</p>
<p>tentang kita yang mulai</p>
<p>menggali dan membangun hari yang cerah dan damai.</p>
<p>Joemardi poetra,</p>
<p><em>Di saat kumpul Swarna Bhumi,</em><em></em></p>
<p><em>Ngebanresto, 26 Oktober 2009</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/joemardipoetra.wordpress.com/1313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/joemardipoetra.wordpress.com/1313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/joemardipoetra.wordpress.com/1313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/joemardipoetra.wordpress.com/1313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/joemardipoetra.wordpress.com/1313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/joemardipoetra.wordpress.com/1313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/joemardipoetra.wordpress.com/1313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/joemardipoetra.wordpress.com/1313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/joemardipoetra.wordpress.com/1313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/joemardipoetra.wordpress.com/1313/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1313&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/10/28/kedatanganmu-adalah-puisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/410956508a20cb9c97d98aaf8cadd1c0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">joemardipoetra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKU, KITA dan JAMBI</title>
		<link>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/10/24/undangan-malam-ekspresi-kebudayaan/</link>
		<comments>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/10/24/undangan-malam-ekspresi-kebudayaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 08:19:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joemardipoetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khobar]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://joemardipoetra.wordpress.com/?p=1296</guid>
		<description><![CDATA[“Bulat Aek oleh pembuluh, Bulat kato oleh mufakat” 
 
Jambi sebagai Kita adalah kesadaran bersama untuk menghargai masa lalu,melayani masa kini dan bertanggung jawab terhadap masa depan. Jambi sebagai Kita adalah masa depan yang terus memberi kita kesempatan untuk berharap bahwa hari esok tetap cerah dan damai.
 
Siapa Pemilik Jambi
Jambi adalah sebuah provinsi (terbentuk tahun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1296&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><em>“Bulat Aek oleh pembuluh, Bulat kato oleh mufakat” </em></p>
<p style="text-align:center;"><em> </em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Jambi sebagai Kita adalah kesadaran bersama untuk menghargai masa lalu,melayani masa kini dan bertanggung jawab terhadap masa depan. Jambi sebagai Kita adalah masa depan yang terus memberi kita kesempatan untuk berharap bahwa hari esok tetap cerah dan damai.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Siapa Pemilik Jambi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jambi adalah sebuah provinsi (terbentuk tahun 1958) yang menjadi hak siapa saja; milik siapa saja sekaligus bukan milik siapa-siapa. Lebih dari itu, Jambi adalah wilayah terbuka tempat ketegangan dan harmoni terjadi bersamaan, tempat kebebasan sekaligus keterikatan menjadi penentu perilaku, tempat ketegangan dan tawar menawar sama-sama punya peran. Artinya kepemilikan Jambi adalah paradoks. Kenapa, karena ia berasal dari watak utamanya: percampuran, keberagaman, dan keberadaban.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita bisa menganalogkan Jambi dengan Diri manusia; sebuah identitas yang berkembang terus melalui identifikasi dalam dunia bersama. Jambi, seperti juga Diri, adalah sebuah ambivalensi. Ia adalah sebuah identitas, sesuatu yang tetap, jelas batasnya dan selalu sama. Tetapi ia berkembang terus. Orang-orang datang dan pergi, dan seterusnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span id="more-1296"></span>Siapa Aku</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Paradoks diri bisa dijelaskan dengan menggunakan teori kepribadian. Diri merupakan subjek sekaligus objek, sebagai aku dan diriku. Aku dalam arti Diri sebagai subjek, sementara Diri yang mengetahui adalah kesadaran yang muncul dan tumbuh setelah bayi menyadari adanya orang lain sebagai Kau. Diri berkembang melalui identifikasi dalam dunia bersama. Identifikasi di sini diartikan sebagai proses mencermati dan membanding-bandingkan orang lain yang ada di sekitar untuk kemudian membentuk citra baru berdasarkan hasil perbandingan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku sebagai identitas memiliki ciri keberlanjutan, berbeda dari yang lain dan berkehendak. Diriku sebagai <em>kontinum</em> berubah dan berkembang; selain bisa mengalami progresi, bisa juga mengalami regresi. Aku yang berkelanjutan  dan tetap mengembangkan atau menciutkan diriku.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Siapa Kita </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kesadaran tentang keleluasaan untuk mengada merupakan dasar dari kehidupan masyarakat sipil <em>(civil society)</em>. Keberadaan manusia yang sejak lahir merupakan keberadaan di dunia bersama manusia lain bisa berkembang secara optimal hanya jika disertai oleh penerimaan akan keberadaan manusia lain sebagai subjek, sebagai <em>uniqum</em> yang tak dapat diperbandingkan dan setara satu dengan yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kontek Jambi sebagai milik bersama, maka Diri adalah subjek yang memiliki keleluasaan untuk hidup bersama subjek lain mengatasi pelbagai sengketa, seorang manusia bisa membina hubungan intersubjektif, menjaga keseimbangan antara kehendak bebasnya dengan kehendak bebas manusia lainnya, mencapai kesejahteraan, mengembangkan, dan melampaui dunia bersama. Kebersamaan yang memungkinkan dipertahankannya subjektivitas dengan tujuan untuk mencapai kesejahteraan bersama adalah pengertian tentang masyarakat sipil. Bukankah ini adalah tentang siapa Kita.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jambi adalah Persoalan itu Sendiri</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang dikoar-koar oleh pemerintah Jambi tentang kesuksesan menciptakan sebuah provinsi yang berketeraturan, berkeadaban dan maju dengan teknologi mutaakhir dan ilmu pengetahuan adalah tentang Jambi dalam pengertian Ideal. Sebuah wilayah yang terbayang dalam visi kemanusiaan, Jambi jauh dari apa yang terpapar dalam kenyataan saat ini. Kehidupan Jambi adalah kehidupan aristokrat, kuasa pedagang kaya atau mandor atas buruh-buruhnya yang tak terurus, dan orang-orang terpelajar tapi tidak menjadi sayap kekuatan masyarakatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini mengingatkan kita kepada Plato tentang Kota. Di matanya Kota adalah tempat manusia mencapai kebahagiaan yang rasional, memandang, dan memahami kebenaran. Akan tetapi sejarah Kota bukan melulu berisi hubungan sosial yang harmonis, percakapan yang pintar, dekat dan hangat, serta kerja sama yang adil. Kota juga tercatat sebagai tempat berlansungnya ketidakadilan, kekerasan, eksploitasi, keterasingan, persengketaan, hiruk-pikuk yang mendesak penghuninya ke kondisi rentan gangguan kejiwaan. Singkat kata, kini kita bisa menyaksikan sendiri bahwa kota lebih banyak mengandung ambivalensi. Bagaimana dengan Jambi saat ini? saya kira tak jauh berbeda, bahkan lebih mundur dari itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Lalu di mana Kita</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bagi saya persoalan yang penting bukan siapa yang memiliki Jambi tetapi bagaimana menjaga dan mengembangkan Jambi sebagai kesadaran bersama untuk membentuk masyarakat sipil, membangun kebersamaan yang memungkinkan dipertahankannya subjektivitas dengan tujuan untuk mencapai kesejahteraan bersama.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, bagaimana menjadikan Jambi sebuah kebersamaan intersubjektif, menjadi kebersamaan dengan modus Kita. Kebersamaan semacam ini merupakan kebersaman dengan ciri kesetaraan dan setiap pribadi tidak kehilangan subjektivitasnya. Di dalamnya, setiap pribadi diterima dan menerima pribadi yang lain sebagai <em>uniqum</em>, sebagai diri yang unik dan tak dapat diperbandingkan. Berbeda dengan modus Kami yang menyemaratakan dan selalu menghadapkan kebersamaan terhadap mereka. Hemat saya, di sinilah tepatnya posisi Kita.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jambi dalam Impian yang Memungkinkan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya, Jambi di hari yang akan datang, dalam pengertian kebersamaan (modus Kita) merupakan dialog yang tak henti-hentinya, keterkaitan antar individu-individu berdasarkan kepedulian, kebebasan yang mengembangkan diri sendiri dan orang lain. Jambi sebagai Kita analog dengan Diri yang sehat, Diri yang terus membina dialog antara beragam posisi Aku untuk menjaga kesatuan Diriku, menerima masukan dari dunia, membina harmoni diri dengan dunia untuk mengembangkan diriku dan dunia. Jambi sebagai Kita adalah kesadaran bersama untuk menghargai masa lalu, melayani masa kini dan bertanggung jawab terhadap masa depan. Jambi sebagai Kita adalah masa depan yang terus memberi kita kesempatan untuk berharap bahwa hari esok tetap cerah dan damai. Sehingga dengan kebersamaan yang dialogis itulah yang mengantarkan Jambi menjadi sebuah Rumah Besar yang sehat, adil dan sejahtera bagi 11 kabupaten di dalamnya. Dan itu adalah cita-cita bersama yang memungkinkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kiranya relevan merefleksikan pepatah-petitih Jambi<a href="#_ftn1">[1]</a> yang berbunyi; <em>Supayo disisik disiangi dengan teliti dakdo silang yang idak sudah dakdo kusut yang idak selesai. </em>Artinya: Agar setiap masalah yang dihadapi (Jambi) harus diteliti lebih dulu, andai masih ada masalahnya usahakan selesaikan dengan baik, karena setiap masalah ada jalan keluarnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Swarna Bhumi adalah Komunitas ‘Kita’</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal ini, saya sepakat memaknai Komunitas Swarna Bhumi (terbentuk 27 Februari 2009) berada dalam modus Kita. Kenapa. Karena modus kebersamaan dalam pengertian KITA ialah tindak tanduk berkehidupan yang tidak memosisikan ‘yang lain’ sebagai mereka, bertahan terus tanpa perlu ada ‘musuh’ bersama. Dengan kebersamaan demikian, setiap manusia dimungkinkan untuk menampilkan keunikannya, mengaktualisaskan potensi-potensinya dan berkembang sebagai keberadaan yang melampaui dunia. Modus Kita sejalan dengan fakta manusia sebagai keberadaan di dunia bersama manusia lain, memanfaatkan kesadaran tentang keleluasaan untuk mengada. Kita dapat membawa individu kepada kebutuhan akan kehidupan bersama yang saling menghargai, merawat, dan mengembangkan. Dalam Kita terkandung pengakuan asasi terhadap kebebasan eksistensial setiap pribadi dan selalu dimungkinkan adanya perbedaan-perbedaan di antara anggotanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, komunitas Swarnabhumi adalah salah satu tempat untuk menciptakan, menjaga dan mengembangkan kebersamaan dalam modus Kita. Di dalamnya terlahir kesepakatan-kesepakatan yang baik. Sebagaimana tercerminkan dalam peribahasa Jambi yang berbunyi: <em>Bulat Aek oleh pembuluh, bulat kato oleh mufakat</em>. Artinya dalam bermusyawarah bila sudah ada kata kesepakatan maka akan diperoleh kesatuan pendapat.</p>
<p style="text-align:justify;">* Oleh Jumardi Putra, pegiat Komunitas Swarna Bhumi Yogyakarta,<em> </em>27 Oktober 2009. ( Opini ini adalah adaptasi dari tulisan Bagus Takwin tentang Kota dan Kita: Jalasutra, 2006, dalam Resistensi Gaya Hidup: Teori dan Realitas, hal: 127-139 ).</p>
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref1">[1]</a> Dalam buku Pedoman Lembaga Adat Propinsi Jambi (2003), diungkapkan bahwa Petatah-petitih adalah sastra adat Jambi yang berisikan nasehat dan pandangan-pandangan serta pedoman hidup yang baik, dan petunjuk-petunjuk dalam melakukan hubungan sosial dalam masyarakat.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/joemardipoetra.wordpress.com/1296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/joemardipoetra.wordpress.com/1296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/joemardipoetra.wordpress.com/1296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/joemardipoetra.wordpress.com/1296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/joemardipoetra.wordpress.com/1296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/joemardipoetra.wordpress.com/1296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/joemardipoetra.wordpress.com/1296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/joemardipoetra.wordpress.com/1296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/joemardipoetra.wordpress.com/1296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/joemardipoetra.wordpress.com/1296/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1296&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/10/24/undangan-malam-ekspresi-kebudayaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/410956508a20cb9c97d98aaf8cadd1c0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">joemardipoetra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JAMBI DENGAN SEGALA PERSOALANNYA</title>
		<link>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/10/22/jambi-dengan-segala-persoalannya/</link>
		<comments>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/10/22/jambi-dengan-segala-persoalannya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 02:03:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joemardipoetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/10/22/jambi-dengan-segala-persoalannya/</guid>
		<description><![CDATA[Kebudayaan adalah jembatan yang menyediakan arah ke berbagai tujuan. Tak jarang, segala bentuk persoalan di permukaan selalu terwakilkan oleh kebudayaan sebagai bentuk respon atas hal itu.
Di sinilah, kebudayaan memiliki nilai yang terlibat pada pokok persoalan kehidupan. Di samping itu, apa pun kebudayaan yang menjadi identitas sebuah kelompok sosial, tetap ia bisa diziarahi oleh siapa pun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1295&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Kebudayaan adalah jembatan yang menyediakan arah ke berbagai tujuan. Tak jarang, segala bentuk persoalan di permukaan selalu terwakilkan oleh kebudayaan sebagai bentuk respon atas hal itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sinilah, kebudayaan memiliki nilai yang terlibat pada pokok persoalan kehidupan. Di samping itu, apa pun kebudayaan yang menjadi identitas sebuah kelompok sosial, tetap ia bisa diziarahi oleh siapa pun dengan segala macam latar belakang. Karena kebudayaan tidak sebatas tumpukan fakta sejarah masa lalu. Ia adalah sebuah pelajaran yang patut menjadi pedoman. Dalam bahasa lain disebutkan, kebudayaan bersifat universal.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal ini, kebudayaan menjadi lahan strategis untuk menemukan paradigma konseptual tentang sesuatu hal yang dicita-citakan. Tak terkecuali bagi kebangunan provinsi Jambi, sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1295"></span>Dalam sejarah perjalanannya, Jambi memiliki harta kebudayaan yang terbilang banyak. Seiring hal itu, jauh sebelum menjadi <em>state modern</em> dengan segala perangkatnya (provinsi), Jambi adalah bumi yang memiliki modal sosial-ekonomi yang berlimpah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada satu istilah yang melegenda untuk melegitimasi hal itu. Yakni Jambi (sebagai bagian dari pulau Sumatra) disebut sebagai Swarna Bhumi. Secara etimologi dua suku kata tersebut mengandung arti Tanah Emas. Walaupun hal itu masih menjadi perdebatan panjang di kalangan sejarawan dan antropolog, namun bilamana kita berupaya mengkontekstualisasikan pada kondisi kejambian saat ini, tentu menemukan potret buram yang bakal menaruh rasa tidak percaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebut saja penyakit akut yang akhir-akhir ini menyita seluruh mata manusia Indonesia pada tubuh provinsi Jambi. Seperti, perilaku korup para pejabat. Keterjangkauan pendidikan formal yang masih menyita masalah bagi Dareah-daerah polosok dan perbatasan. Pembagian hasil kekayaan SDA (Sumber Daya Alam) belum merata. Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) masih belum menampakkan hasil yang memuaskan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara di lain sisi, usia provinsi Jambi terbilang tua. Apalagi otonomi daerah juga sudah menginjak umur ke 11 tahun, tetapi toh jambi masih saja terkesan berjalan di tempat. Seandaianya segala persoalan tanah Jambi disebut satu-persatu dalam kertas ini, tentu tak akan muat. Namun yang pasti ini adalah persoalan.</p>
<p style="text-align:justify;">Atas dasar itulah sebagai salah satu entitas sosial, segala persoalan yang sedang menggurita di tanah Jambi patut disikapi oleh Keluarga Pelajar jambi  Yogyakarta dan komunitas senafas lainnya dengan aktivitas-aktivitas kebudayaan pula.</p>
<p style="text-align:justify;">Relevan kiranya kita mengacu pada peribahasa Jambi yang mengatakan, <em>Di mano titik di sano ditampung, di mana patah di sano disisip, di mano terbit di sano dituai</em> (dimana menetas di sana ditampung, di mana patah, di sana disisip, di mana terbit di sana dituai). Hal ini menegaskan, jangan terlalu merisaukan persoalan yang bakal terjadi. Orang hidup selalu menghadapi persoalan. Jadi segala persoalan bukan untuk dihindari tetapi untuk diatasi. (Imam Budhi Santosa, <em>Kumpulan Peribahasa  se Indonesia</em>, Tera Wacana, 2009, hal: 85-86)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan salah satu bentuk aktivitas kebudayaan itu adalah, saya mengistilahkan, Pentas Mini Kebudayaan. Di dalamnya berisi pembangunan ulang opini kebudayaan tentang masyarakat Jambi. Disertai kontekstualisasi bait-bait peribahasa, pantun dan puisi tentang kenyataan kekinian di Tanah Jambi. Hal-hal semacam ini tentu bukan sesuatu yang asing dalam sejarah kebudayaan Jambi. Namun lamban laun warisan luhur semacam ini patut diuji kelestariannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di samping itu, hal yang lebih penting adalah mengajak kita untuk berpikir jauh lebih dalam. Menerebos ke balik layar kenyataan. Karena dengan prespektif kebudayaan itulah kita menjadi pribadi yang kaya sudut pandang. Peka dalam memantau segala sesuatu hal. Solutif dalam jangka panjang. Berbudaya dalam arti berkesadaran. Sehingga sedari awal, kita sedang merintis ‘jalan sunyi’ untuk membuka lemari memori kebudayaan Daerah kita masing-masing untuk kemudian bisa menjaga aset kebudayaan lokal itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Di mana posisi kita, sebagai perpaduan antara kesadaran subjektif-objektif. Di sinilah salah satu tempat untuk mengawali dalam prespektif kebudayaan. Yakni:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>MIMBAR BEBAS DAN MALAM KEBUDAYAAN ( JAMBI DENGAN SEGALA PERSOALANNYA ).</strong></p>
<p style="text-align:justify;">By:</p>
<p style="text-align:justify;">Jumardi Putra, Pegiat Komunitas Swarnabhumi Yogyakarta, 21 Oktober 2009.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/joemardipoetra.wordpress.com/1295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/joemardipoetra.wordpress.com/1295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/joemardipoetra.wordpress.com/1295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/joemardipoetra.wordpress.com/1295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/joemardipoetra.wordpress.com/1295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/joemardipoetra.wordpress.com/1295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/joemardipoetra.wordpress.com/1295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/joemardipoetra.wordpress.com/1295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/joemardipoetra.wordpress.com/1295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/joemardipoetra.wordpress.com/1295/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1295&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/10/22/jambi-dengan-segala-persoalannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/410956508a20cb9c97d98aaf8cadd1c0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">joemardipoetra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rendra: Tak Pernah Pergi</title>
		<link>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/10/12/rendra-tak-pernah-pergi/</link>
		<comments>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/10/12/rendra-tak-pernah-pergi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 08:11:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joemardipoetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://joemardipoetra.wordpress.com/?p=1288</guid>
		<description><![CDATA[Rendra tak pernah pergi.
Lihat gerak lajunya
meyakinkan dan penuh energi.
Menjinjing sesuatu yang diharapkan
berarti untuk negeri ini..
Ia telah berbuat untuk itu..
Lihat matanya, tajam penuh harap
memecah belah kabut gelap.
Sebuh pelajaran dan tuntunan bagi anak negeri..
Mas Willy, walaupun rasa kehilangan ini tak kuasa ditahan,
tapi itu adalah kado terindah buat orang semacammu,
agar kami paham bahwa sejarah memiliki generasi
dan semangat zamannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1288&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;">Rendra tak pernah pergi.</p>
<p style="text-align:center;">Lihat gerak lajunya</p>
<p style="text-align:center;">meyakinkan dan penuh energi.</p>
<p style="text-align:center;">Menjinjing sesuatu yang diharapkan</p>
<p style="text-align:center;">berarti untuk negeri ini..</p>
<p style="text-align:center;">Ia telah berbuat untuk itu..</p>
<p style="text-align:center;">Lihat matanya, tajam penuh harap</p>
<p style="text-align:center;">memecah belah kabut gelap.</p>
<p style="text-align:center;">Sebuh pelajaran dan tuntunan bagi anak negeri..</p>
<p style="text-align:center;">Mas Willy, walaupun rasa kehilangan ini tak kuasa ditahan,</p>
<p style="text-align:center;">tapi itu adalah kado terindah buat orang semacammu,</p>
<p style="text-align:center;">agar kami paham bahwa sejarah memiliki generasi</p>
<p style="text-align:center;">dan semangat zamannya sendiri-sendiri.</p>
<p style="text-align:center;">(joemardipoetra/12/10)</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1287" title="rendra" src="http://joemardipoetra.files.wordpress.com/2009/10/rendra.jpg?w=190&#038;h=287" alt="rendra" width="190" height="287" /></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/joemardipoetra.wordpress.com/1288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/joemardipoetra.wordpress.com/1288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/joemardipoetra.wordpress.com/1288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/joemardipoetra.wordpress.com/1288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/joemardipoetra.wordpress.com/1288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/joemardipoetra.wordpress.com/1288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/joemardipoetra.wordpress.com/1288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/joemardipoetra.wordpress.com/1288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/joemardipoetra.wordpress.com/1288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/joemardipoetra.wordpress.com/1288/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1288&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/10/12/rendra-tak-pernah-pergi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/410956508a20cb9c97d98aaf8cadd1c0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">joemardipoetra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://joemardipoetra.files.wordpress.com/2009/10/rendra.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rendra</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>