<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>awal mulanya kata</title>
	<atom:link href="http://joemardipoetra.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://joemardipoetra.wordpress.com</link>
	<description>...menulis itu mencari pijakan di atas bumi...</description>
	<lastBuildDate>Sat, 12 Dec 2009 03:33:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='joemardipoetra.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/030f152ffefc6488a3472d94c73fef85?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>awal mulanya kata</title>
		<link>http://joemardipoetra.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://joemardipoetra.wordpress.com/osd.xml" title="awal mulanya kata" />
		<item>
		<title>&#8216;Koin Quan&#8217; (setangkai puisi untuk Prita Mulyasari)</title>
		<link>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/12/12/koin-quan-setangkai-puisi-untuk-prita-mulyasari/</link>
		<comments>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/12/12/koin-quan-setangkai-puisi-untuk-prita-mulyasari/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 03:33:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joemardipoetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://joemardipoetra.wordpress.com/?p=1357</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah badai tuntutan perdata dan pidana
Kau tak perlu lagi mengusap air mata
Koin Quan sedang berjalan menyusuri
gang-gang sempit di negeri Ibu Pertiwi.
Menjemput towa milik nenek moyang bernama Koin Kepedulian
Seiring waktu berkelindan
Koin Quan telah menumpukkan jutaan harapan
setelah melalui towa rasa keadilan
Memanggil merdu hati para penduduk di negeri ini
untuk bergabung dalam hari harapan.
Masa depan adalah keadilan untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1357&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://joemardipoetra.files.wordpress.com/2009/12/pritanangisdlm.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-1358" title="pritanangisdlm" src="http://joemardipoetra.files.wordpress.com/2009/12/pritanangisdlm.jpg?w=142&#038;h=156" alt="" width="142" height="156" /></a>Di tengah badai tuntutan perdata dan pidana</p>
<p>Kau tak perlu lagi mengusap air mata</p>
<p>Koin Quan sedang berjalan menyusuri</p>
<p>gang-gang sempit di negeri Ibu Pertiwi.</p>
<p>Menjemput towa milik nenek moyang bernama Koin Kepedulian</p>
<p>Seiring waktu berkelindan</p>
<p>Koin Quan telah menumpukkan jutaan harapan</p>
<p>setelah melalui towa rasa keadilan</p>
<p>Memanggil merdu hati para penduduk di negeri ini</p>
<p>untuk bergabung dalam hari harapan.</p>
<p>Masa depan adalah keadilan untuk segala lapisan orang.</p>
<p>Ia tak lagi mahal bagi mereka yang tak memiliki lembaran uang.</p>
<p>Ia tak lagi buram bagi mereka yang tidak paham pasal-pasal jeratan</p>
<p>Ia tak lagi dipetieskan ketika berjumpa orang-orang di ring kekuasaan</p>
<p>Tak usah lagi menangis dan merasa sendiri wahai kau Prita,</p>
<p>Kalaupun kamu dianiaya,</p>
<p>Koin Quan tak segan-segan menimbun dirinya</p>
<p>di atas muka para penegak hukum di negeri ini.</p>
<p>Koin Quan tidak selalu hadir,</p>
<p>ia hadir ketika keadilan sedang ditransaksikan</p>
<p>oleh para pemilik uang dan kekuasaan.</p>
<p>Ketika lembaga pengaduan sedang buta dari aduan.</p>
<p>Koin Quan adalah ratap bahagia bagi</p>
<p>mereka yang menempatkan kritik dan saran</p>
<p>dalam lembaran surat pembaca.</p>
<p>(Kutulis anak kata-kata ini untuk Prita Mulyasari)</p>
<p>Jumardi Putra, pegiat komunitas Swarna Bhumi dan Gubuk Kita 12/09.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/joemardipoetra.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/joemardipoetra.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/joemardipoetra.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/joemardipoetra.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/joemardipoetra.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/joemardipoetra.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/joemardipoetra.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/joemardipoetra.wordpress.com/1357/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/joemardipoetra.wordpress.com/1357/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/joemardipoetra.wordpress.com/1357/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1357&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/12/12/koin-quan-setangkai-puisi-untuk-prita-mulyasari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/410956508a20cb9c97d98aaf8cadd1c0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">joemardipoetra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://joemardipoetra.files.wordpress.com/2009/12/pritanangisdlm.jpg?w=272" medium="image">
			<media:title type="html">pritanangisdlm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jalan Kebudayaan Swarna Bhumi</title>
		<link>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/11/27/jalan-kebudayaan-swarna-bhumi/</link>
		<comments>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/11/27/jalan-kebudayaan-swarna-bhumi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 11:10:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joemardipoetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://joemardipoetra.wordpress.com/?p=1348</guid>
		<description><![CDATA[Zaman ini serba kilat. Lalu lalang informasi tak terbantahkan. Terus membentuk arus yang terkadang semakin ruwet. Itulah globalisasi. Sebuah kondisi yang di dalamnya terjadi revolusi arus informasi dengan segala tetek bengek pemutaakhiran teknologi. Keliru sedikit saja mengarungi bahtera peradaban di zaman ini bisa berakibat fatal. Antony Gidden mengatakan, zaman ini berada dalam situasi running away, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1348&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><a href="http://joemardipoetra.files.wordpress.com/2009/11/n100000506966024_1609.jpg"><img class="size-full wp-image-1349 alignleft" title="n100000506966024_1609" src="http://joemardipoetra.files.wordpress.com/2009/11/n100000506966024_1609.jpg?w=147&#038;h=145" alt="" width="147" height="145" /></a>Zaman ini serba kilat. Lalu lalang informasi tak terbantahkan. Terus membentuk arus yang terkadang semakin ruwet. Itulah globalisasi. Sebuah kondisi yang di dalamnya terjadi revolusi arus informasi dengan segala tetek bengek pemutaakhiran teknologi. Keliru sedikit saja mengarungi bahtera peradaban di zaman ini bisa berakibat fatal. Antony Gidden mengatakan, zaman ini berada dalam situasi running away, segala sesuatu begitu cepat berlari, bahkan sulit dikejar.<br />
Sehingga diperlukan pengenalan atas segala hal yang sedang terjadi pada zaman ini. Sehingga hemat saya globalisasi adalah bahan ajar yang harus dipelajari oleh siapa pun secara seksama, tanpa harus mengalfakan sikap kritisnya. Karena hal itu yang bisa membuat peradaban ini layak untuk dihuni. Kita tidak bisa lagi mengaku cukup dengan informasi warisan leluhur, kemudian berencana keluar dari ring sejarah. Karena hemat saya, itu adalah tindakan bunuh diri secara perlahan-lahan.<br />
<span id="more-1348"></span>Gejala penghambaan atas budaya massal kapitalisme, sebagai budaya kemasan yang cenderung hegemonik dan artifisial, adalah fenomena yang hingga kini masih menjadi perhatian banyak kalangan.<br />
Dalam konteks kebudayaan sebagai identias diri maupun kelompok, problema tercerabutnya akar kebudayaan lokal-nasional adalah konsekuensi logis. Minusnya keterlibatan para pemuda untuk memosisikan diri sebagai pelanjut tongkat estapet kebudayaan mereka masing-masing menandakan bahwa bangsa ini sedang mengalami krisis nilai. Dan itu adalah krisis kehidupan. Pendek kata, berkesadaran akan kebudayaan sudah mulai punah.<br />
Akibat dari itu, sikap reaksioner selalu menempati urutan pertama, manakala peristiwa kebudayaan sedang dalam titik perjumpaan dengan kebudayaan Negara lain. Sebagaimana yang akhir-akhir ini terjadi antara Indonesia dengan Malaysia.<br />
Sedari bersama, kebudayaan adalah olah kreasi ummat manusia. Dalam sejarahnya, ia selalu beradaftasi dan bersifat dialektis dengan zaman itu sendiri. Memengaruhi, begitu sebaliknya, dipengaruhi oleh masyarakatnya.<br />
Atas dasar itulah, Komunitas Swarna Bhumi (Komunitas Lingkar Studi Mahasiswa Jambi Yogyakarta. Terbentuk pada 27 Februari 2009) lahir dan bergeliat dengan sekuat tenaga untuk melahirkan budaya tanding atas apa yang sedang terjadi permukaan kini. Dengan cara, menziarahi akar-akar kebudayaan masyarakat Jambi dan budaya wilayah-wilayah lain, sebagai bagian dari gerakan penyelamat kebudayaan. Karena, usaha inventarisasi, kuatitasi (penguatan) dan rekontekstualisasi terhadap problema kekinian di Negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah adalah tugas luhur yang harus diemban oleh siapapun, tak terkecuali bagi Komunitas Swarna Bhumi ini.<br />
Bukan hendak menyederhanakan persoalan, tetapi berupaya turun jalan dan duduk sekaligus menengok dari dekat, perihal problema yang kini sedang terjadi, tak lebih.</p>
<p>Oleh: Jumardi Putra, Pegiat Komunitas Swarna Bhumi Yogyakarta, 28 Oktober 2009. (bahan diskusi rutin bersama Swarna Bhumi, 24 November 2009 di Ngebanresto).</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/joemardipoetra.wordpress.com/1348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/joemardipoetra.wordpress.com/1348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/joemardipoetra.wordpress.com/1348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/joemardipoetra.wordpress.com/1348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/joemardipoetra.wordpress.com/1348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/joemardipoetra.wordpress.com/1348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/joemardipoetra.wordpress.com/1348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/joemardipoetra.wordpress.com/1348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/joemardipoetra.wordpress.com/1348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/joemardipoetra.wordpress.com/1348/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1348&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/11/27/jalan-kebudayaan-swarna-bhumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/410956508a20cb9c97d98aaf8cadd1c0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">joemardipoetra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://joemardipoetra.files.wordpress.com/2009/11/n100000506966024_1609.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">n100000506966024_1609</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Obrolan Jelang Pilkada di Jambi</title>
		<link>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/11/27/obrolan-jelang-pilkada-di-jambi/</link>
		<comments>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/11/27/obrolan-jelang-pilkada-di-jambi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 11:06:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joemardipoetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://joemardipoetra.wordpress.com/?p=1345</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini lahir dari diskusi kecil Swarna Bhumi: terkait penyelenggaran Pilkada di Jambi yang kian mendekati hari H.
Apakah Jambi memiliki akar tradisi demokrasi.
Kalau pun dinilai ada, apa bentuk demokrasi di negeri Jambi, jauh sebelum terbentuknya state modern dengan segala perangkatnya, seperti provinsi Jambi saat ini.
Sudah berapakah umur demokrasi di negeri Jambi.
Apakah realitas politik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1345&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://joemardipoetra.files.wordpress.com/2009/11/12836_101644333195798_100000506966024_42376_53858_n.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-1346" title="12836_101644333195798_100000506966024_42376_53858_n" src="http://joemardipoetra.files.wordpress.com/2009/11/12836_101644333195798_100000506966024_42376_53858_n.jpg?w=107&#038;h=109" alt="" width="107" height="109" /></a>Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini lahir dari diskusi kecil Swarna Bhumi: terkait penyelenggaran Pilkada di Jambi yang kian mendekati hari H.<br />
Apakah Jambi memiliki akar tradisi demokrasi.<br />
Kalau pun dinilai ada, apa bentuk demokrasi di negeri Jambi, jauh sebelum terbentuknya state modern dengan segala perangkatnya, seperti provinsi Jambi saat ini.<br />
Sudah berapakah umur demokrasi di negeri Jambi.<br />
Apakah realitas politik Jambi saat ini telah mencerminkah hakikat demokrasi. Kuasa rakyat di atas segalanya, sedangkan persoalan pemerintah beserta jajarannya sekedar pembantu umum, lain tidak.<br />
Atau demokrasi sebagai prosuder pembagian kekuasaan bagi sekelompok orang juga belum dipahami seutuhnya di benak pikiran dan tindakan para elit di Jambi.<br />
Apakah pelaksanaan otonomi daerah berbanding lurus dengan prinsip dasar diterapkannya sistem demokrasi di Jambi.<br />
Masih segar dalam ingatan, PEMILU baru saja dilewati. Seiring itu, pemilu juga diwarnai segala bentuk praktik politik yang tidak santun. Tunamalu dan tuna nilai. Apakah hal ini akan menjadi pedoman pada Pilkada nanti di negeri Jambi.<br />
Masih banyak pertanyaan seiring Pilkada di Jambi yang kian dekat dengan hari pelaksanannya.<br />
<span id="more-1345"></span>Ambil contoh; Politik uang tidak lagi sebatas strategi kampanye, tapi lebih dari itu, bahwa masyarakat telah mengalami perbaruan pemahaman (maaf-walaupun terkesan picik) tentang apa itu uang, sehingga pada Pemilu dan Pilkada, perihal jual-beli suara tidak terelakkan. Belum lagi, sikap dan mental para politikus dan pejabat di Jambi masih menganut paham feodalisme, sehingga hal-hal baru dan progresif belum mendapat tempat yang semestinya dijadikan target dalam visi jangka panjang.<br />
Ini persoalan bersama, siapa pun memiliki tanggung jawab akan hal ini, agar Jambi maju dan sentosa.<br />
Harus disadari bersama, sudah terlalu jenuh, hidup di bawah ketidaksadaran bahwa kita ini bodoh dan dibodohi oleh kaum elit yang opurtunistik dan menempatkan kepentingan pribadi atau kelompok di atas kepentingan masyarakat secara keseluruhan.<br />
Demokrasi yang salah urus, juga musuh kita bersama, karena peluang untuk berlaku ‘korup’ tak terbantahkan. Buktinya, beberapa koruptor Jambi saat ini tinggal di balik jeruji besi.</p>
<p>Inilah, hemat saya, pertanyaan mendasar dikala Swarna Bhumi mengadakan diskusi bertema (Pilkada di Negeri Dongeng) “Bagaimana Seharusnya Pemimpin Jambi Ke Depan”. Di warung kopi Ngebanresto Yogyakarta, 24 November 2009.</p>
<p>Sehingga melalui catatan ini, kami memohon kesediaan siapapun untuk memberi kritik, saran untuk kebangunan Jambi ke depan.</p>
<p>Oleh; Jumardi Putra, pegiat komunitas Swarna Bhumi Yogyakarta, dan Pecinta Jambi.</p>
<p>25 November 2009.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/joemardipoetra.wordpress.com/1345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/joemardipoetra.wordpress.com/1345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/joemardipoetra.wordpress.com/1345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/joemardipoetra.wordpress.com/1345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/joemardipoetra.wordpress.com/1345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/joemardipoetra.wordpress.com/1345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/joemardipoetra.wordpress.com/1345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/joemardipoetra.wordpress.com/1345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/joemardipoetra.wordpress.com/1345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/joemardipoetra.wordpress.com/1345/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1345&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/11/27/obrolan-jelang-pilkada-di-jambi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/410956508a20cb9c97d98aaf8cadd1c0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">joemardipoetra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://joemardipoetra.files.wordpress.com/2009/11/12836_101644333195798_100000506966024_42376_53858_n.jpg?w=292" medium="image">
			<media:title type="html">12836_101644333195798_100000506966024_42376_53858_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepotong Surat untuk Swarna Bhumi</title>
		<link>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/11/27/sepotong-surat-untuk-swarna-bhumi/</link>
		<comments>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/11/27/sepotong-surat-untuk-swarna-bhumi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 10:59:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joemardipoetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/11/27/sepotong-surat-untuk-swarna-bhumi/</guid>
		<description><![CDATA[Surat ini kuperuntukkan
Bagi para penggerak dan pecinta Swarna Bhumi Jogja.
Kawan,
Tidak ada hasil tanpa didahului kerja keras.
Tidak ada masalah yang tidak menyediakan jalan keluar.
Keluh kesal, amarah dan air mata adalah
penyimbang kehidupan yang bisa dicari penyelesaiannya.
Inilah undang-undang kehidupan, lain tidak
(jumardi putra, 24/11/09)
Intro:
Malam itu tak ubahnya seperti malam-malam seminggu sebelumnya. Angin bertiup kencang, gemiricik air di sungai, di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1341&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Surat ini kuperuntukkan<br />
Bagi para penggerak dan pecinta Swarna Bhumi Jogja.</p>
<p style="text-align:justify;">Kawan,<br />
Tidak ada hasil tanpa didahului kerja keras.<br />
Tidak ada masalah yang tidak menyediakan jalan keluar.<br />
Keluh kesal, amarah dan air mata adalah<br />
penyimbang kehidupan yang bisa dicari penyelesaiannya.<br />
Inilah undang-undang kehidupan, lain tidak<br />
(jumardi putra, 24/11/09)</p>
<p style="text-align:justify;">Intro:<br />
Malam itu tak ubahnya seperti malam-malam seminggu sebelumnya. Angin bertiup kencang, gemiricik air di sungai, di samping tempat sekelompok orang, berdiskusi, membuat malam tetap berarti. Seakan letupan semangat juang tak pernah luntur, malam itu mereka berupaya beradu argumen, berbagi pengalaman dan memikirkan apa yang sedang terjadi saat ini di negeri dimana mereka lahir dan besar. Selalu begitu di setiap minggunya, bilamana kelompok ini bertemu dan berdiskusi. (ket: Diskusi rutin Swarna Bhumi, di warung kopi Ngebanresto, Nologaten Jogja)</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1341"></span>Reff:<br />
Kawan-kawan Swarna Bhumi Jogja,<br />
Hemat saya, sungguh indah perhelatan mingguan kita selama ini, walaupun segelintir orang, forum mungil ini tetap berjalan, mewarnai atap langit Jogja. Sesekali ada gelak-tawa dan banyak seriusnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun tak dipungkiri, kita juga dihadapkan kejenuhan. Sebuah kondisi kejiwaan di mana segala dimensi kedirian kita dalam keadaan tidak stabil. Hal ini bukan masalah, tetapi petanda keseimbangan hidup. Pekerjaan manusia hanya berpikir keras bagaimana hal itu bisa teratasi dengan baik. Artinya, keluh kesal, marah dan putus asa adalah penyeimbang kehidupan yang harus dicarikan solusinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kawan-kawan, perlu disadari, saat ini kita sedang membangun sebuah rumah (Swarna Bhumi). Rumah yang dicita-citakan sebagai kawah candradimuka di hari yang akan datang. Bagi siapa pun. Tak memandang latar belakang sosial, budaya, agama dan politik. Cita-cita ini adalah keyakinan bersama. Optimisme ini harus segera menemukan pola gerak konkritnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibarat konstruksi dasar di setiap rumah adalah kita harus membangun fondasi. Fondasi yang kuat dan bisa bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama. Hal ini adalah materialisasi dari impian tentang rumah yang siap ‘tempur’ dengan segala persoalan yang ada di dalamnya. Jadi, fondasi ini harus betul-betul diperkuat dari sejak awal. Siapa penanggung jawabnya. Siapa lagi kalau bukan para penggerak Swarna Bhumi itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang ada di atas ini adalah gambaran tentang bagaimana sebuah organisasi diharapkan mampu bertahan lama, sehingga memiliki ruang kontirbusi riil bagi setiap tujuan yang diagendakan. Dalam hal ini, tidak terkecuali bagi komunitas Swarna Bhumi Jogja.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita jangan membiasakan diri berpikir instan dan menolak segala bentuk kontradiksi yang terjadi dalam setiap interaksi, karena hanya dengan inilah pemikiran kritis sekaligus konstruktif bisa dipupuk dan dikembangkan, sehingga nantinya dapat menyelesaikan segala persoalan yang terjadi seiring waktu berjalan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kawan, tidak ada hasil tanpa didahului kerja keras. Ini filsafat kehidupan yang tak bisa dielak, walaupun modernitas menyediakan peluang tentang kecepatan dalam segala hal, itu pun adalah jalan terjal yang harus dipersiapkan dengan matang apabila kita akan mangarunginya, apalagi diakui bahwa globalisasi telah mengubah semuanya. Namun prinsip dasarnya adalah teman-teman mampu bertahan dan mewarnai peradaban kini tanpa menguntit dari belakang sebagai pengikut pasif.</p>
<p style="text-align:justify;">Teruntuk sobat-sobat Swarna Bhumi, saat ini tugas kita hanya membangun fondasi Swarna Bhumi dengan kokoh. Persoalan fasilitas perlengkapan rumah (fasilitas material dan non material Swarna Bhumi-red), jangan dululah dipikirkan. Karena lain waktu itu akan tercapai manakala fondasi rumah itu bisa memberi ketenangan batin dan lahiriah bagi penghuninya (para penggerak sekaligus pecinta Swarna Bhumi). Pendek kata, kebutuhan sekunder kita adalah bagaimana membuat komunitas Swarna Bhumi ini kokoh dan memberi arti poisitif bagi penghuninya maupun masyarakat di sekelilingnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi, setelah mendengar dan melihat ragam keluhan (terutama rasa pesimis tentang masa depan swarna bhumi) seiring kita berjalan menapaki jalan perjuangan ini, melalui SEPOTONG SURAT ini, saya mengajak kepada siapa pun, terutama segala elemen masyarakat Jambi di Yogyakarta maupun di seluruh Indonesia, mari kita bahu membahu saling memberi arti di antara kita semua. Aku adalah engkau, begitu sebaliknya, sehingga pada akhirnya menjadi “KITA”.</p>
<p style="text-align:justify;">epilog:<br />
Akhirnya, gundah kulana yang timbul di antara proses yang telah kita jalani hingga saat ini bisa kita atasi bersama. Tidak adalah masalah yang tidak memliki jalan keluarnya. “Jayalah Swarna Bhumi Joga”, begitulah ungkap salah seorang pendukung komunitas ini untuk meyakinkan keberadaan Swarna Bhumi. Artinya, tugas kita adalah membuktikan keberadaan komunitas ini bisa memberi manfaat bagi orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh: Jumardi Putra, Pegiat Komunitas Swarna Bhumi Jogja, 26 November 2009.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/joemardipoetra.wordpress.com/1341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/joemardipoetra.wordpress.com/1341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/joemardipoetra.wordpress.com/1341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/joemardipoetra.wordpress.com/1341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/joemardipoetra.wordpress.com/1341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/joemardipoetra.wordpress.com/1341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/joemardipoetra.wordpress.com/1341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/joemardipoetra.wordpress.com/1341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/joemardipoetra.wordpress.com/1341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/joemardipoetra.wordpress.com/1341/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1341&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/11/27/sepotong-surat-untuk-swarna-bhumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/410956508a20cb9c97d98aaf8cadd1c0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">joemardipoetra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ANGAT-ANGAT TAI AYAM</title>
		<link>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/11/16/angat-angat-tai-ayam/</link>
		<comments>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/11/16/angat-angat-tai-ayam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 07:34:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joemardipoetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://joemardipoetra.wordpress.com/?p=1337</guid>
		<description><![CDATA[“ Kalu aek keruh di muaro, cubo tengok ke hulu “
 
Satu waktu saya dengan beberapa teman silaturrahmi ke rumah salah seorang sesepuh Jambi yang berdomisili di Yogyakarta. Tak perlu kusebutkan nama dan alamat lengkap rumahnya. Pertemuan ini begitu hangat. Senda gurau dan gelak tawa mengiringi dua jam pertemuan di rumahnya. Segala persoalan dikuliti secara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1337&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><em>“ Kalu aek keruh di muaro, cubo tengok ke hulu “</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Satu waktu saya dengan<strong><img class="alignleft size-full wp-image-1338" title="Picture1zxxxxx" src="http://joemardipoetra.files.wordpress.com/2009/11/picture1zxxxxx.jpg?w=228&#038;h=171" alt="Picture1zxxxxx" width="228" height="171" /></strong> beberapa teman silaturrahmi ke rumah salah seorang sesepuh Jambi yang berdomisili di Yogyakarta. Tak perlu kusebutkan nama dan alamat lengkap rumahnya. Pertemuan ini begitu hangat. Senda gurau dan gelak tawa mengiringi dua jam pertemuan di rumahnya. Segala persoalan dikuliti secara seksama. Mulai soal koruptor Jambi, birokrasi Jambi yang rente, sampai persoalan pelik yang hingga kini belum terjawab yakni kualitas SDM yang masih jauh ketinggalan di bandingkan beberapa provinsi tetangga lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan tak ketinggalan, situasi mutaakhir Keluarga Pelajar Jambi Yogyakarta pun sempat menjadi bahan obrolan yang energik sekaligus gurih. Dikatakan energik, karena tak pernah selesai gonjang-ganjing KPJ dibahas, di mana pun dan kapanpun. Walaupun diakui juga belum ada solusi yang tepat sasaran.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1337"></span>Kemudian dikatakan gurih, persoalan KPJ bak kacang goreng garuda , artinya: ketika dalam situasi pelik KPJ selalu meminta solusi (untuk tidak mengatakan mengadu)  ke PMJY (Panguyuban Masyarakat Jambi Yogyakarta). Namun dalam situasi tak bermasalah (adem ayem), komunikasi seringkali terputus. Pendek kata, kacang lupa ama kulitnya. “Bukan bermaksud pamrih, tetapi bagaimana jejaring sosial berbasis keluarga itu selalu terjaga dengan baik” sergah sesepuh tersebut pada yang hadir. “Ya..ya…”, jawab yang hadir malam itu seketika.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedari bersama, hal tersebut adalah hal biasa, minimal menurut pengamatan saya. Karena selama ini, lamban laun KPJ sudah berupaya semaksimal mungkin membangun lajur komunikasi yang baik dengan siapa pun, tak terkecuali dengan PMJY. Bukan begitu?</p>
<p style="text-align:justify;">Namun siapa menduga, di akhir oborolan waktu itu, tercetus satu <em>adigium</em> yang tak asing lagi di telinga kita, dan hal itu menurut salah satu pendiri KPJ tersebut, sangat tepat sekali untuk menggambarkan situasi organisasi KPJ selama ini, yaitu: Angat-angat Tai Ayam.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal ini, saya pun sempat merefleksikan <em>statemen</em> tersebut dengan mengacu pada seloko Jambi yang berbunyi: <em>Kalu aek keruh di muaro, cubo tengok ke hulu</em>. (Artinya: Kalau ada suatu masalah terjadi, cobalah lihat dulu penyebabnya). Ada apa, kenapa sampai seperti itu. Tetapi yang jelas ini adalah penyakit yang harus ditemukan obatnya. Oleh siapa. Siapa lagi kalau bukan Kita. Siapa Kita, yaitu sekelompok orang yang masih percaya bahwa kebaikan (rencana-rencana kemajuan) yang terorganisir bakal menghantarkan kita ke pintu gerbang keberhasilan. Apa keberhasilan itu bagi KPJ. Hemat saya adalah KPJ mampu memosisikan sebagai ‘ruang publik’ bagi semua pelajar Jambi di Yogyakarta. Lebih dari itu, KPJ mampu memberi kontribusi riil bagi kebangunan Daerah Jambi. Berlebihankah? tidak. Hemat saya, asalkan Kita dalam pengertian organisasi jeli menentukan skala prioritas dan memosisikan segala potensi SDM yang dimiliki organisasi. Bukan begitu kawan???</p>
<p style="text-align:justify;">Dan pada kesempatan ini, saya berpikir sungguh tepat apabila kegelisahan ini diketahui serta dipahami secara seksama bahwa Kita harus jujur bahwa fenomena mutaakhir di KPJ saat ini membenarkan <em>statemen</em> di atas tadi bahwa betapa konsensus bersama (mulai dari pelantikan hingga pergantian kepengurusan) dalam sebuah organisasi begitu mudah dilanggar tanpa basa-basi. Tidak ada kata pamit dan lapor. Dengan kata lain, KPJ adalah sekumpulan manusia (terutama pengurus) yang di dalamnya masih berparadigma Angat-angat Tai Ayam. Artinya; semangat sesaat, setelah itu <em>melempem</em> sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut saya, untuk menjawab hal itu, dalam forum ini saya katakan bahwa di balik pesimisme selalu tersimpan secercah optimisme, yakni paham keinginan yang kuat untuk memperbaiki situasi yang buruk kemudian secara bertahap-tahap menuju kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Akankah hal itu bisa terwujud. Bisa. Asal dengan catatan gerak laju organisasi KPJ ke depan; (1) Tertata rapi, (2) Dibangun atas egalitarianisme, (3) Menghargai keunikan pribadi-pribadi yang ada, (4) Merdeka dalam berpikir dan, (5) menerima dengan kritis terhadap segala bentuk kebaruan.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya, kepada pengurus ke depan dan seluruh Pelajar Jambi Yogyakarta, harapan ini disematkan.</p>
<p style="text-align:justify;">( oleh Jumardi Putra, Pecinta KPJY, 14 November 2009. Disampaikan pada Forum Pra MUBES KPJY, di Asrama Tanjabtim )</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Catatan Pra-Mubes KPJ Yogyakarta Bagian I</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Merebut Ruang Ingatan</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Supayo disisik disiangi dengan teliti,</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>dakdo silang yang idak sudah, dan dakdo kusut yang idak selesai.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sobat Jambi semuanya, sebagai sikap ingin maju, sudah sepatutnya, sejak dari pikiran kita harus jujur terhadap segala hal yang sedang terjadi di sekeliling kita. Tak terkecuali terhadap ‘penyakit’ yang sedang hinggap di tubuh molek KPJ Yogyakarta.</p>
<p style="text-align:justify;">Selama ini dengan jujur saya katakan, kurang ada niat (untuk tidak mengatakan tidak ada) yang serius dari siapa saja untuk memikirkan segala kemungkinan solusi dalam mendiagnosa penyakit akut di tubuh organisasi KPJ Yogyakarta. Inilah yang pada akhirnya membuat segala kemungkinan tentang KPJ, yang didam-idamkan sebagai Organisasi Pelajar Berbasis Daerah mampu menjadi lonceng pencerahan tak senyatanya ada.</p>
<p style="text-align:justify;">Diakui, bahwa KPJ berjalan hingga kini, (untuk tidak mengatakan hidup segan mati tak mau), tetapi apakah itu cerminan dari sikap sadar yang terencana, terkoordinasi, terkonsolidasi secara baik. Siapa saja boleh menjawabnya. Tapi prinsipnya kita sudah belajar dari pengalaman perjalanan organisasi KPJ selama ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi saya, KPJ kini, ibaratkan rumah yang segala komponen konstruksinya rusak patal. Tak layak untuk ditempati. Namun masih saja (maaf) ada yang sok berani menempati, padahal persiapan yang betul-betul matang tidak pernah dipikirkan. Ini kecelakaan yang patut dihindari.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya, dengan adanya forum pra MUBES ini, kita berharap, sebelum pergantian kepengurusan, harus ada persiapan yang matang untuk menjalankan roda organisasi KPJ ke depan. <strong><em>Yakni: Apa masalah KPJ selama ini. Bagaimana menyelesaikan, dan terakhir, ayo bersama-sama kita jalankan organisasi ini secara bertahap-taha</em>p.</strong> Lamban laun, bendera KPJ tetap berkibar dengan gagah dan berani. Dan rumah KPJ pun telah direnovasi secara total dan bisa ditempati berapapun jumlah penghuni. <em>Bukan begitu istilahnya?</em></p>
<p style="text-align:justify;">Hemat saya, berpikirlah hal besar untuk KPJ ke depan, tetapi bekerjalah semampunya dengan sekian strategi dan taktik yang jitu, sehingga batas-batas keberhasilan sebuah kepengurusan bisa menjadi pedoman bagi setiap generasi berikutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan yang lebih penting dari itu, tidak ada zaman keemesan dalam sejarah KPJ, karena setiap generasi memiliki sejarah keemasannya masing-masing. Sehingga relevan maksud dari Seloko Adat Jambi di atas, yaitu: Agar setiap masalah yang dihadapi (dalam hal ini KPJY) harus diteliti lebih dulu, andai masih ada masalahnya, usahakan selesaikan dengan baik, karena setiap masalah ada jalan keluarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, Selamat Tinggal KPJ Lama dan Selamat Datang KPJ Baru. Dengan modal sosial yang ada (11 kabupaten) Mari kita Jadikan KPJ Yogyakarta sebagai Lokomotif Gaya Baru bagi organisasi pelajar Jambi di seluruh Indonesia. <em>Tidak berlebihan bukan?</em> Dengan catatan, ayo besamo-samo kita bergandengan tangan untuk memajukan KPJ…Oke!!!<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>{</em>oleh Jumardi Putra, disampaikan pada pertemuan PRA-MUBES KPJY, 6  November 2009, di Asrama Mahasisjwa Tanjungjabung Barat/Tungkal}</p>
<p style="text-align:justify;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/joemardipoetra.wordpress.com/1337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/joemardipoetra.wordpress.com/1337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/joemardipoetra.wordpress.com/1337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/joemardipoetra.wordpress.com/1337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/joemardipoetra.wordpress.com/1337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/joemardipoetra.wordpress.com/1337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/joemardipoetra.wordpress.com/1337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/joemardipoetra.wordpress.com/1337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/joemardipoetra.wordpress.com/1337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/joemardipoetra.wordpress.com/1337/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1337&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/11/16/angat-angat-tai-ayam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/410956508a20cb9c97d98aaf8cadd1c0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">joemardipoetra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://joemardipoetra.files.wordpress.com/2009/11/picture1zxxxxx.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Picture1zxxxxx</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Desa, Alam dan Kota</title>
		<link>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/11/04/desa-alam-dan-kota/</link>
		<comments>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/11/04/desa-alam-dan-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 12:04:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joemardipoetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://joemardipoetra.wordpress.com/?p=1335</guid>
		<description><![CDATA[ 
kalaupun ini tak juga memahamkanmu bahwa alam itu bernyawa. 
Aku berharap, layaknya waktu yang telah menggiringku ziarah alam pada malam itu, 
kamu pun sama, mudah-mudahan akan memperoleh hal itu.
&#160;
 
Sejarah Kota adalah Sejarah Penggemukan Perut
Kota adalah kemajuan dan kemunduran itu sendiri. Di balik cerita sukses pemutaakhiran tekonologi, ia juga menyimpan cerita iba tentang menikmati [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1335&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong> </strong></p>
<p><em>kalaupun ini tak juga memahamkanmu bahwa alam itu bernyawa. </em></p>
<p><em>Aku berharap, layaknya waktu yang telah menggiringku ziarah alam pada malam itu, </em></p>
<p><em>kamu pun sama, mudah-mudahan akan memperoleh hal itu.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sejarah Kota adalah Sejarah Penggemukan Perut</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kota adalah kemajuan dan kemunduran itu sendiri. Di balik cerita sukses pemutaakhiran tekonologi, ia juga menyimpan cerita iba tentang menikmati udara bersih adalah keinginan yang berlebihan. Ego pengendara roda bermesin memekik keras. Memecah kebisingan dari pagi hingga petang. Lalu lalang kendaraan membuat pemandangan sekujur tubuh jalan gemuk tak berbentuk. Semua bergeliat atas segala macam kepentingan. Waktu adalah uang. Begitulah falsafah msyarakat kota/modern. Sekali tertidur lelap, banyak kesempatan dibiarkan pergi begitu saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendek kata, sejarah kota adalah sejarah penggemukan perut. Walaupun jama’ diketahui, bahwa sejarah kota juga sejarah pengosongan perut bagi sebagian kelompok subordinat, tetapi tetap saja membuat ia tak bergeming sedikitpun. Bagi mereka kota adalah tempat mereka yang berkuasa, selebih itu silahkan nikmati sekarung akibatnya. Yakni, penindasan dan pemiskinan secara paksa (baik lansung maupun tidak lansung). Sehingga kemiskinan pun menjadi ibu dari segala bentuk kejahatan. Karena kondisi jiwa terganggu total. Sungguh rentan. Tapi itu adalah kenyataan yang tak bisa ditampik. Bahkan dengan kacamata hati yang paling dalam, wajah keberpuraan kita pun telah ditampar keras oleh sejarah kota itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Entahlah, yang jelas, hemat saya denyut nadi kehidupan kota menunjukkan irama serampangan. Terasa pecah gendang telinga kalau hal ini terus saja terjadi di kota. Bagi saya, kini kota sudah kusam, gelap dan menjenuhkan. Sudah barang tentu ini adalah jawaban yang bisa diperdebatkan kevalidannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span id="more-1335"></span>Menziarahi Alam dan Benda-Bendanya</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di tengah situasi sumpek semacam ini, sebagai anak manusia yang pernah melewati satu masa di mana besar bersama nyanyian riang anak-anak pantai ketika berlomba membangun istana dari pasir, gelak tawa warga desa pesisiran atau laku <em>bebarengan</em> warga di lereng-lereng bukit atau pegunungan, adalah kerinduan yang selalu meminta kepadaku untuk berusaha membuka perlahan-lahan lembaran sejarah sebelum adanya kota. Yakni tentang sebuah desa yang indah dan permai. Menghargai alam sebagai makhluk Tuhan yang bernyawa. Sekali lagi, pelajaran luhur ini telah usang dalam sejarah perjalanan kota. Singkat kata, nyiur di tepi pantai adalah lagu masa lalu yang tak lagi berarti bagi masyarakat kota.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, sejarah kota adalah sejarah campur baur dari bermacam latar belakang orang, dan  revolusi di bidang teknologi merubah itu semua. Begitulah kota dengan segala kemudahan dan kekurangannya. Pendek kata, ia peradaban yang tak sepenuhnya utuh. Paradok dan ambivalens.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sebuah Permohonan yang Tak utuh</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Merindukan masa lalu adalah awal mulanya ziarah ekologisku beberapa hari terakhir ini. Akhir pekan, sejenak aku melepas semua pekerjaan dan kepentingan setelah sebelumnya bekerja satu minggu full. Aku pun memutuskan untuk menziarahi kerinduan itu. Kerinduan tentang burung-burung yang berkicau ramai, angin sepoi-sepoi berlarian lamban namun mengena, desing ombak di tengah dan pinggir pantai hingga tusukan dingin di pojok malam di lereng perbukitan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bersama rekanku, pada sebuah malam, perjalan kerinduan itu dimulai. Dikit demi sedikit, pusat perkotaan lenyap di balik batas-batas semak belukar. Itulah pengertian sederhana antara kota dan desa. Egoisme lakson kendaraan pun kian tak terdengar. Jalan yang kutempuh kian sunyi. Yang ada hanyalah bunyi binatang-binatang malam. Seakan-akan mereka memberi salam dan menerima kedatangan para tamu perkotaan. Sungguh indah. Gelap namun menerangkan. Sunyi namun berirama layaknya musik instrumen di pertengahan malam. Syahdu dan menentramkan hati dan pikiran.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sepanjang jalan, padi-padi bernyanyi sesuka hati. Sungguh merupakan kerinduan yang patut kusimpan. Semakin perjalanan menanjak naik, semakin kerinduan itu membentuk kepatutan pada yang Maha Indah atas segala ke Maha Digdayaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di ujung tanjakan dan lereng perbukitan itulah, aku bersama sahabatku duduk dan mampir sejenak di sebuah warung tak beratap. Sekali lagi, untuk kesekian kalinya, waktu menggiringku pada lukisan nyata tentang penghormatan masyarakat desa pada alam. Bagi mereka alam mahkluk Tuhan. Punya denyut nadi layaknya manusia. Perbedaannya cuman manusia memiliki denyut nadi yang bergerak cepat, sehingga bisa membentuk apa yang dibayangkan dan sekaligus merubah sesuai dengan segala keinginannya. Mereka tertawa ria tanpa beban. Aku pun belajar tentang mereka dan alam sekitarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Terasa sudah cukup menziarahi sebuah desa di perbukitan Kaliurang itu, aku pun meninggal perbukitan tersebut dengan segudang catatan. Ziarah kerinduan itu pun kembali dilanjutkan menuju pantai Samas di Sanden Bantul Jogja.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menaiki sepeda motor, kami pun sampai di  pinggiran pantai setelah melewati dua jam perjalanan. Di sana, tak ubahnya di lereng gunung atau perbukitan tadi. Angin malam berdatangan sembari mengucapkan selamat datang. Gelombang air laut saling berpelukan. Mereka tertawa riang sembari berlarian mencium bibir-bibir pantai. Mereka bahagia. Kebahagiaan itu adalah zikir. Pengakuan atas sang Pencipta. Bukan atas kedatanganku atau sahabatku. Sampai kapan pun ia selalu bergembira. Begitulah mereka, walaupun kegembiraan itu ada jauh setelah kehidupan itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi, kerinduan ini adalah pelajaran berharga. Laksana surat permohonan, niat awal penziarahan aku malam itu, dari bukit menuju pantai adalah sebuah permohonan yang tak utuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, manusia adalah bagian dari alam. Sampai kapanpun. Namun bukankah dalam perjalanannya manusia tak segan-segan meninggalkan alam. Bahkan justru sebaliknya mengorek-ngorek tanpa hati-hati dan taat hukum.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, malam itu, sebelum fajar menyingsing, aku berusaha mengakui kekeliruanku. Bukit dan pantai di sebuah desa berserta segala benda-benda yang ada di alam sana bukan lagi semata-mata sebagai tempat tumpahan kebisingan hari-hariku selama di kota. Ia (alam berserta isinya) tetap akan hidup, walaupun saya datang atau pun tidak datang. Karena itulah mereka dalam pengertian nan hakikian.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Benda-Benda di Alam ini Hidup dan Mewangi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal ini, saya jadi teringat apa yang diungkapkan oleh Kahlil Gibran, seorang pujangga besar yang pernah hidup pada tahun 1883-1931, bahwasanya jika kamu menyuarakan kedalaman jiwamu dan mengarungi ketinggian angkasa, kau hanya akan mendengar sebuah melodi, dan di dalam melodi itu batu dan bintang bernyanyi, bersahut-sahutan, dan harmoni yang begitu sempurna.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang dikatakan Kahlil terasa relevansinya untuk masyarakat Kota kini. Dimana semua benda-benda yang menjadi bagian integral dari alam itu memang hidup dan mewangi. Namun kota tetaplah berjalan dengan tingkat kesombongan rasionalitasnya. Padahal fakta sosial menunjukkan, rasionalitas yang diperjuangkan habis-habisan dalam masyarakat kota justru berakhir pada ketidakrasionalan itu sendiri <em>(unrasionable)</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Sobat, kalaupun ini tak juga memahamkanmu bahwa alam itu bernyawa. Aku berharap, layaknya waktu yang telah menggiringku ziarah alam pada malam itu, kamu pun sama, mudah-mudahan akan memperoleh hal itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Oleh: Jumardi Putra, Kutulis <em>setelah main di sebuah Desa, tepatnya di lereng Gunung Merapi dan pinggir pantai Samas Sanden Yogyakarta, 1/10</em><em>/09. </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Bahan diskusi bersama Komunitas Swarna Bhumi Yogyakarta, 3/10/09.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref2"></a> [2] Kahlil Gibran, <em>Cinta, Keindahan </em>dan <em>Kesunyian</em> (terjemahan), Bentang, Yogyakarta, 2001, hal: 241-242.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/joemardipoetra.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/joemardipoetra.wordpress.com/1335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/joemardipoetra.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/joemardipoetra.wordpress.com/1335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/joemardipoetra.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/joemardipoetra.wordpress.com/1335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/joemardipoetra.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/joemardipoetra.wordpress.com/1335/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/joemardipoetra.wordpress.com/1335/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/joemardipoetra.wordpress.com/1335/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=joemardipoetra.wordpress.com&blog=3328317&post=1335&subd=joemardipoetra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://joemardipoetra.wordpress.com/2009/11/04/desa-alam-dan-kota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/410956508a20cb9c97d98aaf8cadd1c0?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">joemardipoetra</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>